My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
39. MAU PERGI BERSAMAKU?


__ADS_3

"Kenapa kau takut sekali! Memangnya apa yang ingin kau tunjukan?" Akbar semakin curiga karena istrinya itu benar-benar terlihat sangat mencurigakan.


Tak menjawab ucapan Akbar, Keylin pun langsung menunjukan sesuatu yang ada di ponselnya. Dan sesuai dugaannya, belum sampai lima detik, ponsel canggihnya hampir di rebut oleh tangan suaminya.


"Mas!"


"Key!" ucap mereka secara bersamaan.


"Key!" Keylin menutup kedua matanya rapat-rapat saat mendengar hal tersebut.


"Hah sudah kuduga akan seperti ini!" ucap Keylin dalam hati


Akbar menatap tak percaya, saat dirinya melihat ponsel Keylin yang di dalamnya terpampang foto dirinya dan Alaska tadi.


Sebuah foto dirinya dan Alaska yang di posting di sebuah akun sosial media beberapa jam yang lalu, menuai beberapa komentar di postingan tersebut.


Hampir kebanyakan berkata, bahwa dirinya dan Alaska begitu menggemaskan seperti seorang ayah dan anak yang tengah menghabiskan waktu bersama.


Akbar menatap wajah Keylin yang terlihat begitu bangga saat dirinya melihat hal tersebut.


Senyuman bangga tak kunjung istrinya itu surutkan dari bibirnya. Terlihat jelas jika Keylin begitu bangga dengan hasil jepretan fotonya tadi.


Akbar menghela nafasnya. Sungguh tak disangka-sangka jika sedari tadi istrinya itu tengah tersenyum-senyum sendiri karena melihat foto dirinya. Rasanya, dirinya seperti orang bodoh saja yang mencemburui dirinya sendiri.


"Janji tidak menghapus! Ini adalah hak ku!" Keylin kembali mengambil ponselnya yang ada di genggaman Akbar.


"Kenapa kau mempostingnya? Aku terlihat aneh di foto tersebut" entahlah memang sejak tadi, Akbar merasa asing saat dirinya melihat foto dirinya sendiri, saat tengah menggendong Alaska di dalam dekapannya.


Keylin mengerutkan keningnya. "Aneh? Aneh darimana? Justru menurutku Mas sangat menggemaskan kok di foto tadi" Keylin tak berbohong karena dirinya merasa, jika suaminya itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan di fotonya tadi.


Akbar terdiam mendengar hal tersebut. Bukannya ia tidak percaya dengan ucapan Keylin yang mengatakan dirinya terlihat menggemaskan di foto tadi. Namun sampai saat ini, dirinya masih mencari dimana letak dirinya terlihat menggemaskan di mata istrinya itu. Karena dilihat dari manapun dirinya sama sekali tidak menggemaskan apalagi lucu dimatanya.


Namun karena tak ingin ambil pusing, Akbar pun hanya terdiam dan tidak ingin membantah argumen Keylin


"Key, apakah hari jumat kau bisa cuti?"


Keylin yang tadinya tengah asik menatap ponselnya, kini langsung mengalihkan tatapannya kepada Akbar.


"Memangnya kenapa Mas?"


Dalam benaknya, Keylin bertanya-tanya karena tumben sekali suaminya itu bertanya hal seperti itu padanya.


"Aku akan pergi ke singapore hari jumat karena ada metting disana sampai hari minggu. Jadi, jika kau bisa mengambil cuti, bisakah kita pergi kesana bersama sekalian liburan?" tanya Akbar dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Keylin menatap tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia sungguh tak percaya bahwa suaminya itu kini mengajak dirinya untuk pergi bersama.


Tanpa perlu berpikir panjang, dengan semangat empat lima, Keylin pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Aku bisa! Aku bisa cuti hari jumat. Apasih yang tidak buat Mas" ucap Keylin seraya terkekeh pelan.


Terlihat begitu jelas, jika istrinya itu begitu senang saat dirinya mengajak istri mungil itu. Awalnya Akbar tak mengira jika Keylin akan meng-iayakan ajakannya, mengingat jadwal kantor Keylin yang begitu padat.


Namun siapa sangka, ternyata dengan entengnya istrinya itu mengiyakan ajakan tersebut. Lantas, buat apa jika sedaritadi dirinya mencemaskan jika istrinya tidak dapat pergi bersamanya. Sia-sia saja dirinya mencemaskan hal yang sedaritadi tidak akan terjadi. Pikir Akbar lalu mendesah pelan.


Di sisi lain Keylin sibuk dengan pikirannya sendiri. Dirinya berfikir, bagaimanakah agar dirinya bisa mengajukan hari cutinya pada bos gilanya tersebut.


Berusaha mencari cara, agar bos garangnya tersebut menerima permintaannya agar dirinya bisa menghabiskan waktu berduaan dengansuami tampannya itu.


Tak


Seketika Keylin tersentak dari lamunannya saat Akbar menjentikkan jarinya di hadapan wajahnya.


"Kenapa Mas?"


Sejenak Akbar menatap Keylin dengan mulut yang membisu. Dirinya penasaran sekali apa yang sedaritadi istrinya itu pikirkan sampai-sampai ucapannya pun seperti angin lalu.


Dirinya pun mengetuk-ngetuk dahi mungil Keylin menggunakan jari telunjuknya.


"Aku penasaran apa saja yang sedang kau pikirkan dengan kepala kecilmu ini"


"Ti-tidak ada. Hanya saja aku sedang memikirkan harus dari hari apa aku mulai mengemas barang bawaanku"


Sebisa mungkin Keylin tidak ingin jika matanya bertatapan dengan mata teduh suaminya itu.


"Lupakan soal berkemas. Kemarilah" suruh Akbar dengan tangan yang sedang mengkode agar istrinya itu mendekat kepada dirinya.


"Me-memangnya Mas mau ngapain?"


Tak menjawab pertanyaan Keylin, Akbar justru malah memajukan tubuhnya duluan dan mendekatkan wajahnya kepada Keylin.


"Ma-Masms"


Ucapan yang belum saja terselesaikan, kini sudah terpotong karena Akbar yang sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya di atas bibir Keylin.


"Mnghh" Keylin meremas baju suaminya di bagian dada, saat semakin erat Akbar menariknya ke dalam pelukan pria tersebut.


"Hahh" Keylin terenga-engah setelah Akbar melepaskan tautan bibir mereka.

__ADS_1


Akbar tersenyum miring. "Bernafaslah! Kau selalu tidak bernafas saat aku sedang menciummu. Apa kau sangat gugup saat kita sedang berciuman?" ejek Akbar dan terkekeh geli setelah mengatakan hal tersebut.


Bugh


"Jangan meledekku! Aku hanya belum terbiasa!" elak Keylin yang tidak ingin ketahuan jika sebenarnya dirinya pun sangat gugup setiap kali mereka berciuman.


Akbar semakin tersenyum miring. "Ah jadi mulai sekarang bukankah kita harus membiasakannya?"


Otak Keylin sedikit terlambat tuk mengerti apa yang suaminya itu katakan.


"Apa maksud Mas-"


Deg


Keylin baru tersadar akan ucapannya barusan.


"Buk-bukan itu maksudku-"


"Tak apa, aku mengerti maksud mu" potong Akbar. Lalu dengan secepat kilat pria tersebut kembali menyambar bibir Keylin dan di lanjut dengan aksi perang-perangan mereka di atas tempat tidur.


...


Ragan mendengus kecil. Karena sejak tadi, dirinya gondok melihat Keylin yang tersenyum-senyum setelah mendapatkan ijin cuti dari kakaknya itu.


Tak bisa ia bayangkan betapa ingin matinya dirinya, saat ia bekerja di bawah kakaknya tersebut saat dirinya bekerja tanpa seorang Keylin di sampingnya.


"Hufsss. Kurasa, saat nanti kau libur, aku harus banyak-banyak berdoa agar si buldoser itu tidak mengamuk pada diriku!" keluh Ragan dengan wajah cemasnya.


Keylin tertawa pelan di sela-sela makan siangnya.


"Hanya sehari. Bertahanlah!" ucap Keylin dengan senyumannya yang secerah mentari pagi.


Pupus sudah harapannya hidup. Ragan tak pernah menyangka jika dirinya akan menghabiskan masa mudanya di dalam genggaman iblis yang bernotabe kakaknya.


Belum empat bulan dirinya menginjakan kakinya disini, namun rasanya, setiap menit dirinya bagaikan di padang pasir yang harus berjuang walau badai sedang menghadang dirinya.


Ragan ingin berteriak, mencaci maki Gara yang se-enak jidatnya selalu memaki dirinya. Walau terkadang dirinya melakukan kesalahan, namun tidak bisakah jika kakaknya tersebut sedikit berbaik hati padanya?


Jika ada orang lain yang mengatakan dirinya akan di perlakukan dengan spesial oleh Gara karena dirinya bekerja di kantor kakaknya sendiri, itu pasti sebuah kesalahpahaman yang sangat kejam!


Karena siapapun bisa melihat, jika Gara sangat profesional pada pekerjaannya. Di banding memperlakukan dirinya dengan spesial, justru kakaknya tersebut malah terlihat seperti tengah balas dendam kepada dirinya disaat ketika dirinya melakukan sebuah kesalahan. Pasti saja kakaknya tersebut akan mencaci dan memaki dirinya, tanpa memperdulikan dimana pun mereka berada.


"Ck! Dasar manusia berhati iblis! Semoga kau cepat enyah dari hadapanku!" decih Ragan dalam hati.

__ADS_1


...


TBC


__ADS_2