
"Ah kau baik sekali. Mulai hari kau jadi temanku. Titik!" Zora mengalungkan tangannya di lengan Keylin dan menumpukan kepalanya di bahu Keylin.
Keylin menatapnya dengan tidak percaya.
Tunggu....
Jika Zora adalah adiknya Eiko, jadi selama ini dirinya hanya salah paham dengan suaminya?
Ohh ini benar-benar luar biasa!
Bodohnya aku! Decak Keylin dalam hati.
"Ngomong-ngomong berapa umur Kak Key? Kak Keylin terlihat sangat imut" Zora menelisik penampilan Keylin dari atas sampai bawah, hingga membuat Keylin merasa tidak nyaman atas perlakuan perempuan tersebut.
"Kenapa kau kepo sekali! Ayo pulang! Masih ada banyak PR yang harus kau kerjakan!" Eiko mengandeng tangan Zora dengan paksa.
"Bang Eiko..tTunggu sebentar" rengek Zora saat tangannya di tarik paksa oleh Eiko.
"Tidak! Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi! ayo kita pulang dan jangan membantah! Ini perintah!" ultimatum Eiko membuat Zora seketika terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Melihat abangnya begitu serius membuat Zora tak berani melawan kakaknya tersebut.
"Baiklah-baiklah, aku akan pulang. Tapi izinkan aku pamitan dengan Kak Keylin oke!" tawar Zora yang langsung di setujui oleh Eiko.
"Kak Keylin nanti aku menghubungimu ya. Aku minta maaf atas kelakuanku tadi, sampai jumpa lagi" Zora tersenyum lima jari dan memeluk Keylin dengan mesra.
"Sudahlah! Kau itu banyak tingkah. Ayo pulang! Ingat, masih ada banyak PR yang belum kau kerjakan!"
"Akbar, Zehran aku pamit dulu. Terimaksih telah menjaga adikku dan aku minta maaf soal kejadian tadi"
"Ya santai saja" sahut Akbar yang seketika membuat Eiko tersenyum tipis kepada kawannya tersebut.
"Baiklah aku pergi dulu. Ayo!" Eiko berjalan keluar ruangan Akbar bersama Zora setelah mengucapkan hal tersebut, sehingga tinggallah Akbar, Zehran dan Keylin yang ada di ruangan tersebut.
"Hufss dasar bocah! Ingin sekali aku sambit tadi" dengus Zehran, menatap kepergian Zora.
"Bocah? Memangnya berapa umurnya?" Keylin sungguh penasaran berapa umur Zora, karena mendengar Eiko mengatakan jika adiknya itu memiliki PR. Apakah mungkin Zora adalah seorang mahasiswa? tebaknya.
"Hahaha kau sungguh tidak tau?" Zehran tertawa keras dan menatap Keylin dengan tatapan gelinya.
"Ya, memangnya berapa umurnya?" Keylin mengusap usap tengkuknya dengan pelan. Bingung, mengapa Zehran tertawa dengan begitu kerasnya saat dirinya menanyakan hal tersebut.
"Kau tau? Wanita yang tadi berdebat denganmu itu, adalah seorang anak remaja kelas 12 SMA yang sedikit lagi akan menjalankan ujian semesternya! kenapa? Jangan kaget! Memang kelakuannya seperti orang dewasa" Zehran terkekeh geli saat dirinya melihat ekspresi Keylin yang sangat terkejut dengan fakta tersebut.
__ADS_1
Tidak ada yang menyangka bukan? Jika Zora memiliki umur yang begitu muda, namun memiliki paras serta mulut yang sangat dewasa.
Ck
Bahkan Keylin pun tertipu dengan bocah tersebut!
"Sudahlah! Aku masih banyak urusan. Aku pergi dulu" Zehran pamit pergi kepada Akbar dan Keylin setelah pria tersebut mengambil barang barangnya.
"Kenapa buru-buru?" tanya Akbar saat melihat Zehran begitu terburu buru ingin meninggalkan ruangannya.
Langkah Zehran terhenti saat dirinya mendengar hal tersebut, dan menengokkan kepalanya sedikit ke belakang mengarah ke Akbar.
"Ck seharusnya kau peka!" Zehran tersenyum malas kepada Akbar dan berlalu pergi meninggalkan Akbar dan Keylin berduaan.
Blam
pintu ruangan Akbar Zehran tutup rapat rapat
Hening, tiidak ada pembicaraan di antara Akbar dan Keylin.
Keylin mengusap bahunya saat rasa canggung mulai menjalar di antara suaminya dan dirinya.
Keylin bingung ingin memulai dari mana saat ia ingin berbicara kepada suaminya itu.
"Kenapa Mas?" Keylin menyahut panggilan suaminya namun tidak berani menatap kedua bola mata Akbar.
"Ayo pulang" Akbar mengambil jasnya setra tasnya yang ada di atas sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Ta-tapi bukankah dikit lagi Mas ada meeting dengan pak Gara?" gugup Keylin saat Akbar mulai jalan ke arahnya dengan tatapan datar pria tersebut.
"Lupakan meetingnya. Aku hanya ingin ada kau dan aku saat ini" Akbar mengambil tangan Keylin dan menggenggamnya erat erat di dalam tangannya.
"Ta-tapi Mas" Keylin gugup saat Akbar menariknya dengan pelan nan paksa keluar dari ruangan suaminya dengan tangan yang masih terpaut dengan eratnya.
"Diamlah atau ku gendong kau disini!" ancam Akbar saat Keylin ingin melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, yang seketika membuat Keylin terdiam dan membisu setelah mendengarnya.
..
"Ayo turun" ucap Akbar seraya membuka safety belt Keylin.
"Ke-kenapa kita ke sini Mas?" kikuk Keylin saat dirinya melihat hamparan air laut yang begitu luas saat ini.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Akbar dan menatap intens istrinya itu.
__ADS_1
Keylin gugup dan membuang wajahnya ke samping menghindari tatapan Akbar yang begitu menatapnya dengan teliti.
"Su-suka kok" jawab Keylin cepat tanpa menatap wajah Akbar yang sangat dekat dengannya.
"Kalau begitu ayok" Akbar keluar dari mobilnya yang diikuti oleh keylin.
"Mas air pasang lautnya menaik!" Keylin berbicara kepada Akbar dengan nada yang sedikit di kencangkan. Karena suara deburan ombak yang terdengar keras, menghalau suaranya.
"Lantas mengapa? Kau takut?" Akbar menolehkan wajahnya ke samping menatapnya dengan tatapan datarnya.
"Aku?" tunjuk Keylin pada dirinya sendiri.
"Takut? Cih mana mungkin!" decih Keylin kepada Akbar dengan gaya sombongnya.
"Yasudah, ayo jalan" Akbar menggandeng tangan Keylin menggiring istrinya itu ke suatu tempat gubuk yang letaknya agak jauh dari tepi pantai, agar mereka berdua tidak terkena deburan ombang karena pasang air laut sedang naik saat ini.
"Mas" panggil Keylin saat mereka berdua telah sampai di tempat yang tadi Akbar ingin tuju.
"Kenapa?" Akbar tidak menolehkan wajahnya ke arah Keylin karena dirinya masih setia memandang air laut lepas yang menurutnya sangat indah sore ini.
"Kenapa Mas bawa aku kesini?" tanya Keylin, karena Keylin sungguh bingung kenapa suaminya itu tiba tiba membawanya kesini tanpa tujuan yang jelas.
Akbar menolehkan wajahnya ke samping menatap Keylin dengan tatapan teduhnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu" ujar Akbar mengabaikan pertanyaan yang tadi Keylin lontarkan kepada dirinya.
"Te-tentang apa?" Keylin gugup.
"Mengapa kau mendiamiku selama empat hari belakangan ini? Apakah aku membuat hatimu kecewa? Lantas dimana letak kesalahanku?" tembak Akbar karena rasanya sudah cukup baginya untuk dirinya bermain teka teki ini dengan sendirian
"Apakah itu penting?" tanya Keylin dengan nada yang begitu pelan namun masih bisa di dengar oleh Akbar. Karena pastinya dirinya akan malu sekali jika Akbar sampai mengetahui apa alasan di balik dirinya mendiami suaminya itu.
"Apakah itu sebuah pertanyaan yang harus aku jawab?" ketus Akbar.
Keylin terdiam membisu, bingung ingin memulainya dari mana.
Ingin rasanya mulut Keylin berbicara apa adanya kepada Akbar. Namun semua itu tertahan dengan begitu rapatnya, karena tentu saja dirinya belum siap untuk menanggung semua rasa malunya nanti di hadapan suaminya itu.
Sangat sulit baginya untuk memberitahu semuanya pada Akbar saat ini. Keylin malu dan bingung harus memulainya darimana.
Cik bagaimana ini! Erang Keylin dalam hati.
..
__ADS_1