
Di dalam kelas...
"Anak-anak, mohon perhatiannya. Apakah Becca sudah kembali ke sini?" tanya Bu Yeri kepada siswa-siswa.
"Belum, Bu. Dia belum kembali," ucap salah satu siswa.
"Bagaimana dengan Floreylla?"
"Dia juga belum, Bu."
"Baiklah. Dikarenakan mereka tidak ada di sini, saya akan mengumumkan sesuatu," kata Bu Yeri dengan serius.
"Pengumuman apa, Bu?" tanya salah satu siswa.
"Dimohon kepada seluruh siswa apabila melihat Becca merundung Floey, segera rekam dan kirim ke nomor saya!" ucap Bu Yeri dengan tegas.
"Memangnya kenapa harus direkam, Bu?" tanya siswa lainnya.
"Ibu mendapatkan laporan dari seseorang bahwa dia selalu merundung Floey. Dimohon kepada kalian untuk memberikan bukti kebenaran itu dengan berani," jelaskan Bu Yeri.
"Tapi, Bu, bagaimana kalau dia mengancam kami?" tanya siswa tersebut dengan ragu.
"Kamu bilang saja..." kata Bu Yeri dengan tegas.
Beberapa menit kemudian...
"Sudah mengerti?" tanya Bu Yeri kepada siswa-siswa.
"Sudah, Bu!" jawab mereka kompak.
Clekkk...
Kieranza membuka pintu kelas
"Maaf, Bu, saya terlambat masuk kelas," ucap Kieranza dengan nafas tersengal-sengal.
"Iya, tidak apa. Ayo, masuk. Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih," ucap Bu Yeri sambil tersenyum.
Kringggg... bel pulang berbunyi.
"Kieran, ayo kita pulang. Ada yang ingin Bunda bicarakan," kata Kieranza kepada Kieran.
Didalam mobil...
"Ada apa, Bun?" tanya Kieran dengan rasa penasaran.
"Kamu tahu, Floey sering dirundung oleh Bora?" tanya Bunda kepada Kieran.
"Iya, tahu. Memangnya kenapa?" jawab Kieran.
"Kalau begitu, kamu harus selalu bersama Floey dan melindunginya," ucap Bunda dengan serius.
"Memangnya kenapa?" tanya Kieran semakin penasaran.
"Kamu kan mau jadi Ketua OSIS. Harusnya kamu memberi contoh yang baik kepada para siswa lain agar bisa saling melindungi. Dan jabatan Bunda sekarang berada di tangan Floey," jelaskan Bunda.
"Maksud Bunda?" tanya Kieran dengan rasa heran.
"Tadi, Pak Zergan datang ke sini dan melihat semua perbuatan Becca terhadap Floey. Dia akan menaikkan jabatan Bunda apabila Bunda selalu melindungi Floey dari Becca," ungkap Bunda dengan penuh harapan.
Skip...
__ADS_1
"Kamu mengerti?" tanya Bunda, sambil menoleh kepada Kieran.
"Mengerti, Bun," jawab Kieran dengan tekad yang mantap.
Sementara itu...
"Floey, aku antar pulang ya," kata Felix.
"Nggak papa nih?" tanya Floey.
"Ya enggak lah, aku senang melakukannya," jawab Felix.
"Baiklah," kata Floey dengan senyum.
Bremmm, mobil Felix melaju dengan cepat di jalan raya.
"Ngomong-ngomong, kamu beneran mau kerja di kafe?" tanya Felix.
"Loh, kok kamu tahu?" tanya Floey heran.
"Iya, tahulah," jawab Felix dengan senyuman misterius.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Floey semakin penasaran.
"Tahu aja," kata Felix santai.
"Ih, kamu mah gitu!" sahut Floey dengan sedikit kesal.
"Jangan marah dong," kata Felix sambil tertawa kecil.
"Loh, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju rumah," kata Floey heran.
"Mau tahu?" tanya Felix dengan senyum misterius.
Beberapa menit kemudian...
Mobil berhenti di depan Mall.
"Loh, kok kita kesini?" tanya Floey dengan rasa penasaran.
"Aku mau tunjukkan sesuatu. Ayok," ajak Felix sambil turun dari mobil.
"Tunjukkan apa?" tanya Floey, mengikuti Felix.
Kalian menyusuri Mall tersebut dan masuk ke dalam bioskop.
"Kita mau nonton? Kok sepi?" tanya Floey heran.
"Yap, ayo duduk," ucap Felix sambil menepuk tangan.
Seketika lampu dimatikan, dan suasana menjadi sangat gelap. Tiba-tiba, ada cahaya di layar Bioskop itu.
"Woahhhh," kata Floey, kehabisan kata-kata melihat keindahan bintang-bintang yang bersinar begitu banyak, meskipun itu hanya tiruan.
"Kamu suka?" tanya Felix, menatap Floey dengan penuh harap.
"Iya, sangat indah," jawab Floey dengan senyuman.
"Bukankah ini keinginanmu dari kecil?" tanya Felix dengan senyum lembut.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Floey heran.
__ADS_1
"Sudah nanti aku ceritakan. Kita nikmati dulu saja," kata Felix dengan penuh kehangatan.
Beberapa menit kemudian...
"Kamu suka?" tanya Felix, sambil menatap Floey dengan tulus.
"Sukaaa, makasih, Felix," kata Floey spontan, lalu memeluk Felix.
"Hah," Felix terdiam, tidak menyangka dengan reaksi Floey.
"Eh, maaf. Aku refleks," ucap Floey, pipinya memerah.
"Yasudah, ayo kita pulang," kata Felix, mengulurkan tangannya.
"Ayok," kata Floey sambil menerima uluran tangan Felix.
Kalian keluar dari bioskop dan melanjutkan berjalan-jalan sebentar di Mall tersebut.
Kriukkk, kriukkk... Suara perut Felix terdengar sangat jelas.
"Emm," gumam Felix sambil tertawa.
"Ahaha, kamu lapar? Makan dulu saja. Kesian, loh, cacingnya udah pada lapar tuh," kata Floey dengan canda.
"Emm, ya sudah, temani aku yuk!" ajak Felix, sambil menarik tangan Floey.
"Ehhh," Floey mengikuti gerakan Felix.
Felix menarik gadis yang masih menggunakan seragam sekolah itu masuk ke sebuah restoran yang ada di Mall tersebut.
"Ayo duduk di sini," kata Felix, menunjuk ke meja kosong.
"Yaudah," jawab Floey, mengikuti langkah Felix.
Permisi, Kak. Ini menu makanannya. Silahkan dipilih," kata pelayan yang ramah.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Felix kepada Floey.
"Hah, nggak usah. Aku kan mau menemanimu saja," jawab Floey dengan senyum.
"Ngomong-ngomong, Kak, kami punya Menu Baru. Pas banget buat pasangan yang ingin ngedate," sela pelayan dengan senyum menggoda.
"Yasudah, aku pesan itu," kata Felix, mengikuti saran pelayan.
"Baik, mohon ditunggu pesanannya," ucap pelayan sambil pergi.
"Kamu makannya temenin aku," kata Floey dengan senyum malu-malu.
"Nggak usah, kamu aja," balas Felix dengan tulus.
Permisi, Kak. Ini pesanannya," kata pelayan saat kembali dengan pesanan mereka.
Floeylla tampak terkejut karena mereka disuguhkan minuman hanya satu gelas dengan dua buah sedotan di dalamnya.
Keduanya terpaksa meminum dari satu gelas itu, membuat mata mereka saling berpapasan dan terjebak dalam momen yang canggung. Mereka saling menatap, tak tahu harus berkata apa, dan hati mereka semakin canggung.
"M-maaf," ucap Floeylla dengan suara gemetar.
"Tidak apa-apa," kata Felix dengan senyuman tersipu.
__ADS_1
Mereka pun mulai mencoba untuk minum dari sedotan masing-masing, mencoba melupakan ketegangan yang tak terungkapkan di antara mereka. Percikan kecil canda dan senyuman terselip di antara tegangan, menciptakan momen yang unik dan berharga.
...Bersambung...