My Fantasy Hero

My Fantasy Hero
Part 25: terlihat akur!!


__ADS_3

Di perjalanan menuju sekolah, Felix menoleh ke arah lelaki berkacamata yang berjalan di sampingnya. "Ngomong-ngomong, motor lo kemana?" tanya Felix dengan rasa ingin tahu.


"Dipinjam ama tetangga," jawab Kieran dengan nada malas.


"Dipinjam atau diembat di rumah?" Felix mempermalukan Kieran.


"Dipinjam, lah. Kenapa? Lo sendiri kenapa nggak dianterin supir lo?" Kieran membalas dengan nada sinis.


"Gue disuruh olahraga sama tante gue," jawab Felix dengan sedikit kesal.


"Haha, pantes sakit mulu, jarang olahraga," sindir Kieran dengan senyum jahil.


Floey melengos dan meninggalkan mereka berdua dengan perasaan tidak nyaman. Namun, Kieran segera menyadari dan memanggil Floey, "Eh, Floey, tunggu."


Floey hanya mengangguk singkat tanpa berkata apa pun. Felix, yang melihat seseorang mencurigakan naik motor, merasa waspada.


Bremmmm! Motor itu tiba-tiba melaju dengan cepat, hampir menyerempet Kieran dan Floey. Seketika itu juga, waktu terasa berhenti dan semua yang ada di sekitar Felix menjadi tidak bergerak.


Felix dengan cepat menarik Floey dan Kieran ke pinggir jalan, menghindarkan mereka dari bahaya. "Tunggu sebentar..." ucap Felix sambil menahan napas, lalu dengan cepat mereka kembali ke keadaan semula.


Bremmmm! Motor tersebut tampak kebingungan mengapa ia tiba-tiba berhenti melaju.


"Dih, motor aneh," ucap Kieran dengan sedikit ketakutan.


"Biarkan saja," kata Floey, sambil menoleh ke arah Felix. "Felix, kamu tidak apa-apa kan?" Dia menggenggam tangan Felix yang terasa dingin.


"Tidak," jawab Felix dengan seloroh.


"Wajah kamu pucat dan tangan kamu dingin sekali," kata Floey cemas.


"Lah, bohong kali," timpal Kieran sambil melengos.


"Kamu kuat kan?" tanya Floey lagi, mencoba meyakinkan Felix.


"Iya, aku kuat," jawab Felix sambil melangkah maju, meskipun sedikit linglung setelah menggunakan kekuatan tiba-tiba.


"Eeh," Floey dengan refleks menahan tubuh Felix yang hampir terjatuh.

__ADS_1


"Hey, ngapain kalian di belakang? Sini," panggil Kieran sambil membungkuk.


"Ngapain lo?" tanya Felix dengan rasa penasaran.


"Udah, cepetan naik. Daripada telat ke sekolah," ajak Kieran dengan urgensi.


"Kamu nggak keberatan kan, Ran?" tanya Floey kepada Felix.


"Nggak, tenang aja," Kieran menjawab sambil menggendong tubuh Felix.


Setelah melewati perjalanan menuju sekolah yang melelahkan, mereka akhirnya tiba di sekolah.


"Huhh," Kieran mengeluh kelelahan.


"Kamu capek ya? Udah, kita ke kantin dulu," saran Floey.


"Nggak, kita langsung ke kelas saja. Woy, turun woyy!" Kieran berteriak pada seorang laki-laki yang tertidur di punggungnya.


"Ngokkk," Felix terbangun dari tidurnya.


"Felix, bangun."


"Iya, sepertinya," jawab Kieran dengan nafas tersengal-sengal.


Saat mereka menyusuri lorong menuju UKS, tiba-tiba Becca datang dan menghentikan langkah mereka.


"Felix, kamu kenapa? Kieran, Felix, kenapa kok bisa gitu?" tanya Becca dengan tampang genit dan sedikit riasan makeup.


"Dih, lo ngapain sih di tengah jalan? Minggir!" Kieran melengos.


"Oh, ini pasti gara-gara lo kan, Floey," kata Becca dengan nada menuduh.


"Bukan," jawab Floey dengan tegas.


"Dih, lo berani ngelawan," Becca mendorong Floey hingga terpojok ke dinding.


Felix segera turun dari punggungan Kieran dan mendekati mereka. "Pergi dari sini," ucap Felix tegas kepada Becca.

__ADS_1


"Tapi, Felix, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Becca khawatir.


"Eh, kalau turun dari punggung gue, bilang-bilang dong, jangan sekaligus. Jadi, punggung gue bisa encok," protes Kieran.


"Ya, maaf. Ayok, gue gendong lo ke kelas," kata Felix.


"Ih, nggak usah kali. Emangnya kamu harus digendong sampai ke sekolah," Kieran menolak.


"Haha, sudahlah, ayo," Floey menarik Felix dan Kieran, berusaha membawa mereka ke kelas.


Sesampai di kelas, Kieran merasakan rasa sakit yang semakin memburuk di punggungnya.


"Aduhhh," Kieran merintih kesakitan.


"Felix, kenapa gue beliin koyo dulu?" tawar Felix


"Dih, nggak usah. Lebih baik lo pijit aja," Kieran meminta.


"Iya deh, sekali aja," Felix setuju sambil memijit punggung Kieran.


"Nah, gitu terus. Terus, emm, enak sekali," Kieran mendengkurkan puasannya.


"Ahaha," Floey tertawa begitu lepas, dan mereka semua terdiam menikmati momen itu.


Tiba-tiba, seorang guru olahraga yang lewat tanpa sengaja melihat Felix sedang memijit Kieran.


"Ehhh, Felix, ngapain kamu memijit Kieran dengan sengaja?" tanya guru olahraga dengan heran.


"Dia pegel-pegel, Pak," jawab Felix.


"Sudah, sudah. Kamu duduk saja, biar saya yang memijit Kieran. Sudah, kamu duduk saja, Nak. Takut bapak dimarahi ayah kamu," kata guru olahraga sambil memijit punggung Kieran.


"Nah, Pak, terus ke atas, sedikit lagi. Nah, itu," ucap Kieran memberikan instruksi.


"Plakk!" Guru olahraga memukul punggung Kieran. "Kamu ini, nyuruh-nyuruh saya."


"Lah, kan bapak yang bersedia tadi," jawab Kieran dengan berani.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2