
Sesampai di rumah, Floey langsung menuju ke kamarnya dengan wajah lelah.
🌄suara alarm di ponselnya berbunyi, menandakan bahwa sudah waktunya untuk bangun. Floey menguap lebar dan menyadari bahwa dia harus segera mandi.
Setelah mandi, Floey turun memakai sepatu di ruang tengah di ruang makan. Tanpa basa-basi, Floey langsung menyampaikan keinginannya, "Ibu, aku sarapannya di sekolah saja, takut telat!" teriaknya sambil memakai sepatu.
Ibu Floey memberikan teguran, "Hei, bisa nggak ngomongnya biasa aja? Nggak usah teriak-teriak, malu ada orang."
Floey menoleh dan terkejut melihat Felix, berada di meja makan. "Orang-? Felix! Bukankah kamu masih sakit?" tanya Floey dengan khawatir.
Felix menjawab dengan percaya diri, "Kata siapa, aku sehat."
sebenarnya, kemarin sore...
Tante Felix ikut angkat bicara, memberikan nasihat, "Kalo mau cepat sembuh, kamu harus makan banyak, makan obat secara teratur, dan rajin olahraga."
Felix dengan lahap memakan semua makanan di atas meja, mengikuti nasihat Tante Felix. Ia ingin segera sembuh.
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Dokter datang memeriksa Felix.
"Dokter, ada apa, Dok?" tanya Tante Felix dengan cemas.
"Saya hanya ingin memeriksa kesehatan Felix saja," jawab dokter.
Tante Felix mengizinkan dokter untuk memeriksa Felix. Dokter mendekati Tante Felix dan duduk di sampingnya.
"Wah, ini luar biasa," kata dokter dengan kagum.
Tante Felix bingung, "Kenapa, Dok?"
Dokter menjawab, "Anak Ibu sudah sembuh total, hal luar biasa ini jarang terjadi. Apalagi tadi pagi pasien mengalami penurunan kondisi, tapi sekarang setelah saya periksa, kesehatannya sudah normal kembali. Denyut jantungnya dan suhu tubuhnya juga baik."
Tante Felix merasa lega mendengar kabar baik tersebut. "Ouh, baguslah kalau begitu. Apa Felix sudah boleh pulang, Dok?"
"Iya, Felix sudah boleh pulang," jawab dokter.
Felix yang mendengar kabar tersebut tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya
"Yesss, yuhuuu, akhirnya pulang!" serunya dengan girang, tanpa menyadari bahwa ia sedang melanggar teguran Tante Felix.
Tante Felix memberikan teguran keras, "Felix!"
Felix dengan cepat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, menyadari kesalahannya. Semua orang di ruangan itu kemudian merasa lega dan bahagia karena Felix sudah sembuh dan bisa pulang. Dokter pun melepaskan infus dan alat detak jantung dari Felix, menandakan bahwa perawatan sudah selesai.
*
Felix dan Floey melanjutkan perdebatan mereka dengan riang gembira saat mereka keluar dari rumah. Suara tawa mereka memenuhi udara, mencerminkan kedekatan mereka sebagai kakak beradik. Seiring mereka berjalan keluar, Zeora, ibu mereka, memanggil mereka dengan nada lembut.
__ADS_1
"Eh, bukannya kamu senang karena Felix sudah sembuh? Kenapa malah terus bertengkar? Cepatlah makan, nanti makanan menjadi dingin," ucap Zeora dengan canda.
"Baik, bu," sahut Felix sambil tertawa kecil, mengejek Floey dengan wajah usilnya.
"Ish, apa-apaan ini," Floey meluncurkan suaranya dengan nada tinggi.
"Floreylla! Felix, kamu baru sembuh, jadi tante akan membuatkanmu salad buah," kata Zeora dengan penuh kasih sayang.
"Ih, giliran dia dimanja, anaknya yang minta tidak pernah dituruti," gumam Floey dalam hati.
"Tidak perlu repot-repot, tante," kata Felix dengan lembut.
"Tidak apa-apa, tunggu sebentar," Zeora pergi mengambil salad.
Di tengah perseteruan mereka, Floey tiba-tiba bertanya dengan nada tegas, "Kamu ngapain kesini?"
Felix menjawab dengan santai, "Mau ikut denganmu."
"Ikut atau mau masakan ibu?" goda Floey.
"Eh, Floey, jangan bicara begitu," Felix berusaha meredakan suasana.
"Haha, tidak apa-apa, mungkin dia sedang dalam masa PMS," ujar Felix dengan canda.
"Oh iya, ini bekalnya. Kalian bisa berangkat sekarang," kata Zeora sambil memberikan bekal kepada mereka.
"Ih, nggak usah tarik-tarik segala," tolak Floey.
Mereka terus berantem seakan-akan mereka tidak bisa hidup satu sama lain, sampai akhirnya mereka keluar dari rumah. Namun, di luar rumah, mereka kaget melihat sosok yang tak terduga.
"Floey, kok lama banget ak—" omongan kieran terpotong " Felix, ngapain kamu di sini?" tanya Kieran dengan rasa heran.
"Terserah gua mau ngapain. Nah, lo sendiri ngapain di sini?" ujar Felix dengan sikap acuh tak acuh.
"Gue mau ikut dengan Floey, udah janjian dari kemarin," gerutu Kieran.
"Oh, iya. Tunggu sebentar," kata Floey sambil masuk ke dalam rumah.
"Bukannya kemarin lo sakit? Apa cuma pura-pura saja?" tanya Kieranza dengan rasa curiga.
"Enak aja lo kalau bicara. tuh apaan di bahu lo" ejek Felix sambil menunjuk pakaian Kieran dengan jari panjangnya.
"Apa ini?!" seru Kieran dengan panik, lalu secara refleks melompat ke pangkuan Felix karena kaget melihat ulat berwarna hijau di bahunya
"Nah, ini dia," kata Floey dengan wajah terkejut, melihat adegan lucu di depannya.
"Ih," Felix melepaskan Kieran dari pangkuannya.
__ADS_1
"Ih, ngapain lo mengangkat-angkat gue?" protes Kieran.
"Dih, bukannya lo yang melompat karena takut lihat ulat," ejek Felix.
"Siapa yang takut," gumam Kieran dengan wajah memerah.
"Haha, kalian benar-benar cocok menjadi kakak dan adik," ledek Floey.
"Fuih, ihh," Kieran merasa jijik.
"Ih, ayo cepat!" Felix menarik Floey.
"Eh, tunggu dong," Kieran mengejar mereka.
Floey melepaskan tangan Felix dengan sikap cuek, mengungkapkan bahwa dia tidak terburu-buru untuk berjalan.
"Ih, jalannya biasa saja, nggak usah cepat-cepat," kata Floey sambil melepaskan tangan Felix.
"Floey, itu buku apa?" tanya Kieran, melihat buku yang Floey bawa.
"Buku!" jawab Floey singkat.
"Mana, aku mau melihat," kata Kieran sambil merebut buku dari tangan Floey.
"Ih, jangan dibaca, aku malu," sanggah Floey.
"Ah, nggak apa-apa lah," kata Kieran sambil mulai membaca. Tiba-tiba, tawa keras pecah dari mulut Kieran.
"Ihh, sudahlah, malu deh," kata Floey sambil merebut buku dengan kesal.
"Ehh, nanti belum selesai," protes Kieran.
Mereka saling menarik buku hingga bukunya terlihat lecet. Tiba-tiba, Felix merasakan rasa sakit.
"Argh!" seru Felix kesakitan.
"Felix! Apakah kamu masih sakit?" tanya Floey sambil menatapnya khawatir.
"Tidak, aku hanya..." Felix terhenti, mencoba mencari alasan yang tepat.
"Alah, palingan cuma bohongan," bantah Kieran dengan nada sinis.
"Eh, ini salah lo, main-main dengan buku itu sampai lecet" kata Felix sambil meninggikan suaranya.
"Lah, apa hubungannya dengan buku?" tanya Kieran bingung.
"Emm..." Felix terdiam, bingung bagaimana menjelaskan bahwa ada hubungan antara dirinya dan buku tersebut.
__ADS_1
...Bersambung...