
Floey merasa bosan dengan rutinitas sehari-hari dan memutuskan untuk duduk di meja belajarnya. Di meja itu, tergeletak sebuah buku tua yang telah lama dimilikinya.
Namun, tiba-tiba saja, suara szzzt...π‘ menggema di kamar Floey, dan lampu mati secara mendadak.
"Yah, mati lampu," gumam Floey sambil beranjak dari kursinya. Dalam kegelapan, ia tidak sengaja menjatuhkan buku itu ke lantai saat mencari letak senter untuk menerangi ruangan.
plekk... terdengar suara saat buku jatuh ke lantai.
"Apa lagi yang jatuh," pikir Floey sambil meraba-raba di sekitarnya.
Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tulisan baru yang muncul di buku tersebut. Tiba-tiba, cahaya yang memancar dari tulisan itu menyebabkan tangannya terluka.
"Awww, cahaya ini..." Floey merintih kesakitan sambil merasakan nyeri di dadanya, di tempat di mana ia biasanya memakai sebuah kalung.
"Apa yang terjadi? Kenapa dadaku sakit sekali?" Floey merasakan kebingungan yang mendalam sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.
Beberapa waktu kemudian, alarm berbunyi dan cahaya pagi mulai memancar dari jendela, menerobos masuk melalui tirai.
"Aww, kenapa aku tidur di bawah? Luka?" Floey mengelus-elus telapak tangannya dan merasa lega karena tidak ada tanda-tanda luka sama sekali. "Apakah semalam hanya sebuah mimpi?" pikirnya dengan heran.
Floey melirik jam di sebelah tempat tidurnya dan panik menyadari bahwa ia sudah terlambat.
"Sudahlah, tidak ada waktu untuk memikirkan hal ini sekarang," ucap Floey dengan terburu-buru. Ia bergegas menuju kamar mandi dan melupakan bahwa buku yang jatuh masih tergeletak di lantai, menunggu untuk dijelajahi.
Floey turun ke ruang makan, di mana Zeora, ibu Floey, sudah menunggu dengan segelas sarapan. Zeora memberi tahu Kieran bahwa sudah waktunya baginya pergi agar tidak terlambat.
"Tapi Floey, bagaimana?" tanya Kieran dengan cemas.
"Mungkin Floey ngga sekolah hari ini," jawab Zeora.
"Aku sekolah kok, ayo Kieran," kata Floey sambil menarik tangan Kieran.
"Tunggu makan dulu," kata Zeora sambil mengambil tempat duduk.
" nanti di sekolah saja makannya," ujar Floey sambil berjalan keluar ruangan.
Di luar rumah, Floey dan Kieran berdiri di depan pintu. Kieran melihat-lihat sekeliling mencari motor miliknya.
"Kieran, mana motormu?" tanya Floey dengan kebingungan.
"Nah, itu masalahnya. Tetanggaku meminjam motorku," jawab Kieran
"Yah, terus bagaimana kita pergi ke sekolah?" tanya Floey dengan kekhawatiran.
"Kita akan berjalan saja," kata Kieran dengan mantap.
"Tapi bagaimana jika kita terlambat? kenapa lagi kamu menungguku segala jika kamu dihukum gimana?" tanya Floey dengan cemas.
π
Floey dan Kieran berdiri di luar gerbang sekolah yang tertutup, merasa kecewa karena mereka tidak bisa masuk. Namun, Kieran memiliki ide untuk mengatasi masalah tersebut.
"Sini," kata Kieran sambil menarik Floey ke belakang sekolah. "Ayo kamu duluan."
__ADS_1
Floey ragu-ragu. "Nggak ah, kalau seperti kemarin bagaimana? Ada guru di sana."
"Nggak bakalan, sekarang guru BK-nya lagi di toilet," jelas Kieran.
Floey penasaran. "Kok kamu bisa tahu?"
"Taulah, ini kan jam beraknya dia," kata Kieran sambil tertawa.
Floey memprotes. "Ihh, kamu ngintipnya!"
"Ahaha, enggak lah, aku tahu jadwalnya. Sekarang dia lagi mengawas adik kelas, bukan di sini," jelas Kieran.
"Oh, aku kirain apa tadi," kata Floey sambil menghela nafas.
"Sudahlah, ayok naik."
Floey mulai naik ke atas tembok dengan bantuan Kieran yang menginjak bahunya. Kieran memperingatkan Floey untuk berhati-hati.
"Hati-hati," kata Kieran.
"Iya, sekarang giliran kamu yang naik," ucap Floey dengan suara pelan.
Tiba-tiba, kamu teringat bahwa buku antik miliknya masih berada di kamar.
"Bukuuuu...." seru floey
"APAAAA??" teriak Kieran sambil memanjat tembok, membuat Floey terkejut sehingga jatuh.
Kieran langsung melompat ke bawah dan memeriksa keadaan Floey. "Kamu nggak apa-apa?"
"Aww, haha, ih, baru pagi udah jatuh aja," keluh Floey.
"Ya makanya jangan bengong," sindir Kieran.
"Siapa yang bengong?" balas Floey.
"Itu kamu. Yah, sudahlah, ayok," kata Kieran sambil membantu Floey berdiri.
"Aduhhh, nanti dulu," ucap Floey sambil membersihkan wajah yang kotor.
"Nanti aja di kelas, ayok," ajak Kieran.
mereka berlari ke kelas dan membuka pintu dengan keras, membuat semua siswa terkejut.
"Huh, untung belum ada guru," hela nafas Kieran lega.
"Kieran, tumben baru datang jam segini!" sapa Qilla.
"Ya, pasti gara-gara Floey. Siapa lagi, cuma dia yang membuat masalah di sekolah ini," celetuk seorang siswa.
Namun, tiba-tiba ada siswa yang memperingatkan mereka, "Eh, duduk-duduk, ada guru..."
Sementara itu, di kamarnya,
__ADS_1
Zeora membuka pintu kamar dan merasa terkejut saat melihat kekacauan tersebut.
Duh, buku habis lagi," ucap Zeora sambil mengernyitkan dahinya.
"Ini kamar anak gadis berantakan banget, ih. Gimana sih anak itu?" Ia memungut buku yang tidak sengaja terinjak olehnya dan memutuskan untuk mengambil selembar kertas darinya.
Srettt... Zeora menyobek selembar kertas dari buku itu dengan hati-hati.
"Mungkin cukup buat nulis pesanan hari ini," gumam Zeora sambil menyimpan sobekan kertas tersebut.
Namun, entah kenapa, sobekan kertas tersebut membuat dada Floey merasakan sakit yang familiar, seperti semalam.
Kemudian, di kelas, Floey duduk di bangku dengan wajah yang pucat. Ia memegangi dadanya yang terasa tidak enak.
"Emm, kok sakitnya?" ucap Floey heran sambil mengernyitkan keningnya.
"Floreylla, kenapa?" tanya guru yang tadi memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan cemas.
"Emm, tidak, bu," jawab Floey dengan rasa tidak enak.
"Oh, baiklah, kita sambung pembelajarannya," kata guru tersebut dengan sedikit kekhawatiran.
Sementara itu, di rumah sakit.
βNak, tante ada urusan sebentar. Kamu di sini sendirian, nggak papa?" ucap perempuan yang berbaju rapi kantoran, memberi tahu Felix yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Enggak papa kok," jawab Felix dengan lemah.
"Yaudah, kalau ada apa-apa, panggil suster," pesan Tante Felix sebelum keluar dari kamar tersebut.
Ia menghela nafas dengan lemas, merasakan sakit yang mulai menjalar di tubuhnya.
"Sebaiknya aku minum obat," gumamnya. Ia mengambil air minum dan berusaha mengambil obat dengan tubuh yang semakin lemas.
Namun, tiba-tiba gelas itu terjatuh dari tangan Felix dan pecah di lantai.
"Aaaaa, dadaku!! Apa terjadi sesuatu pada Floey? Argh, kenapa kekuatanku perlahan-lahan menghilang?" Felix merasakan sakit yang luar biasa dan akhirnya pingsan di tempat tidur.
Sementara itu, di dalam kelas, Floey merasakan ketidaknyamanan yang semakin parah di dalam tubuhnya. Ia memutuskan untuk izin ke kamar mandi untuk mencoba meredakan rasa sakit yang semakin tak tertahankan.
"Bu, saya permisi ke toilet," ucap Floey dengan suara yang terengah-engah.
"Oh, iya, silahkan," jawab guru tersebut dengan perhatian.
Saat membuka pintu Floey tiba-tiba merasa pusing yang semakin parah. Ia kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan di lantai yang dingin. Semua murid yang berada di dalam kelas tampak kaget dan berkerumun di sekitarnya.
"Ehh, tolongin, gendong ke UKS cepat!" seru guru
"Biar saya saja, bu!" Kieran mengambil inisiatif untuk menggendong tubuh ringkih gadis bernama Floreylla itu dengan penuh kekhawatiran.
Dengan hati-hati, Kieran menggendong Floey dan membawanya ke UKS untuk mendapatkan pertolongan medis.
...Bersambung...
__ADS_1