My Fantasy Hero

My Fantasy Hero
Part 16: Cemburu??


__ADS_3

"Apa kamu nggak capek digangguin sama Becca?" ucap Kieran dengan nada malas. Floeylla, gadis putih dengan rambut terurai hingga bahu, menatap Kieran dengan ekspresi lelah namun tetap penuh perhatian.


"Ya, capek banget. Dia selalu menggangguku, kamu tahu kan?" jawab Floeylla dengan sedikit kelelahan.


"Maksudku, kamu dibully oleh Becca karena Felix," lanjut Kieran. Floeylla menatap Kieran dengan tatapan penuh pertanyaan, rambutnya yang terurai terhembus oleh angin dan terlihat bergerak-gerak.


"Maksudnya apa?" tanya Floeylla dengan kebingungan.


"Kalau kamu nggak mau dibully oleh Becca, lebih baik kamu menjauhinya. Ini untuk kebaikanmu," ujar Kieran sambil menggenggam tangan Floey.


"Kieran! Kamu sama seperti orang lain yang slalu menyuruhku menjauhi Felix," Floey melepaskan genggaman tangan Kieran.


"Floey! Kamu tahu kan Ayah Becca adalah kepala sekolah? Kalau misalnya Becca mengadukan hal yang tidak benar tentang kamu, bagaimana?" Kieran mencoba menjelaskan.


"Iya, aku tahu!" Floey mengangguk.


"Sekarang, aku yang akan melindungimu," Kieran dengan tegas.


Kringgggg... bel masuk berbunyi.


"Yaudah, ayo kita ke kelas," lelaki yang mengenakan jas osis itu langsung menarik tangan Floey.


Dengan pasrah, Floey mengikuti Kieran. Sesampainya di kelas,


"Floey, ayok duduk!" ajak Felix.


"Nggak, sekarang Floey duduknya di sebelah bangku gue," Kieran menarik Floey ke belakang.


"Lah, kok gitu?" Felix meninggikan suara.


"Floey yang minta!" Kieran menoleh memandang Felix.


"Floey, kamu yang minta?" Felix menatap Floey.


"Engg-" Floey terbata-bata.


"Ih, enak aja dia duduk di bangku gue," Qilla mencibir.


"Yaudah, Kieran, aku duduk seperti biasa saja," kata Floey akhirnya.

__ADS_1


"Tuh kan, Floey nggak mau! Ngapain sih kamu menukar tempat duduk segala," ucap Qilla sambil menghela nafas dan melengos ke tempat duduknya.


Dan pada akhirnya, Floey duduk seperti biasa di bangku sebelah Felix. Felix hanya tersenyum hangat, membuat Floey semakin canggung.


Setelah pembelajaran terakhir, terdengar bel yang menandakan pembelajaran telah berakhir.


"Bapak akhiri pembelajarannya, thank you. Don't forget to do your homework. Wait for next week," ucap lelaki paruh baya yang keluar dari kelas dengan beberapa buku di tangannya.


"Okay, sir," jawab siswa-siswa.


"Floey, ayok kita pulang," ajak Felix.


"Kamu duluan saja, aku mau piket kelas dulu," kata Floey.


"Ouh, yaudah, aku tunggu di depan mobil," ucap Felix sambil berlari keluar.


"Ih, duluan aja!!" teriak Floey.


"Kieran, sini biar aku bantu piketnya," tawaran Qilla kepada Kieran.


"Nggak usah. Ini memang tugasku, jadi kamu duluan saja pulangnya," jawab Kieran.


Tersisa mereka berdua di kelas. Beberapa menit kemudian, mereka telah menyelesaikan tugas piket mereka. Sekarang, saatnya pulang. Namun, ketika mereka melihat ke luar, langit gelap dipenuhi kabut, dan suara hujan mulai terdengar.


Bab Narasi: Hujan yang Membawa Perubahan


Yahh hujan lagi," keluh Floey sambil melihat langit yang ditutupi awan gelap. Tetesan air mulai mengenai jendela.


"Ya udah, nunggu hujannya reda, baru kita pulang," ucap Kieran sambil tersenyum. Dia memperhatikan Floey yang terlihat sedikit kesal karena hujan.


"Tapi... kamu punya payung nggak?" tanya Floey dengan sedikit kecemasan.


"Enggak, aku nggak bawa," jawab Kieran sambil menggelengkan kepala.


"Yah, terus gimana?" Floey merasa sedikit khawatir karena mereka tidak memiliki payung.


"Yaudah, kita nunggunya di depan," kata Kieran sambil menarik tangan Floey. Mereka berdiri di depan gedung sekolah, menikmati tipuan angin yang berhembus sembari melihat hujan yang bercucuran.


"Masih deras lagi hujannya, kenapa sih harus hujan sekarang?" keluh Floey sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Hmm, kenapa kamu nggak suka hujan?" tanya Kieran dengan rasa ingin tahu.


"Ya, karena setiap ada hujan pasti nggak bakalan ada bintang di malam hari karena tertutup kabut," jawab Floey dengan ekspresi kecewa.


"Kata siapa? Kadang ada kok, sesudah hujan reda, pasti akan ada bintang," sahut Kieran dengan senyum mengembang.



"Hmm, iya mungkin, tapi kan tidak bisa menikmatinya dengan sempurna," ucap Floey dengan nada sedikit kecewa.


"Lah, kenapa?" tanya Kieran penasaran.


"Ya, karena beceknya tempat buat liat bintangnya," jelas Floey dengan ekspresi kecilnya yang lucu.


"Oh, kamu selalu liat bintang di Rooftop?" tanya Kieran sambil tersenyum.


"Iyalah, dimana lagi?" jawab Floey dengan senyum kecil.


"Tapi hujan itu membawa kesuburan tanah dan tanaman, kalau nggak ada hujan pasti kekeringan terjadi," kata Kieran mencoba memberikan sudut pandang lain.


"Iya juga sih," kata Floey setelah berpikir sejenak.


"Yaudah Sini," ajak Kieran sambil menarik Floey agar berdiri di bawah guyuran hujan. Floey terkejut dan hanya bisa terdiam dalam aliran hujan yang semakin deras. Seragamnya basah dan lengannya terasa dingin.


"Ayo, kita pulang," ucap Kieran sambil menggenggam tangan Floey dan berjalan sambil menikmati hujan yang semakin deras. Mereka tertawa dan berlarian di bawah guyuran air, merasakan segarnya hujan yang membasahi mereka.


Sementara itu...


"Pak, saya mau bayar ini," kata Felix kepada penjual payung di depan parkiran sekolah. Dia membeli payung sebagai persiapan untuk hujan.


Felix menunggu di depan parkiran, tetapi dia tidak melihat Floey di sana. Hatinya mulai cemas.


"Sebaiknya aku cari Floey sekarang sebelum hujannya semakin deras," pikir Felix. Dia mulai mengelilingi sekolah, mencari gadis yang dia tunggu.


Tak lama kemudian, langkah Felix terhenti. Dia melihat Floey dari kejauhan, sedang hujan-hujanan dengan lelaki lain, yaitu Kieran. Hatinya terasa berat, melihat Floey bersama orang lain di tengah guyuran hujan.


"Ternyata dia sudah pulang bersama Kieran," kata Felix dalam hati dengan rasa kecewa. Dia memandangi mereka sejenak, lalu permendamkan perasaannya yang rumit.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2