
Didalam mobil, Floreylla, Felix, dan Kieranza duduk dalam keheningan yang terasa tegang. Tetesan hujan yang mengguyur mobil menciptakan suara hening yang hanya dipecah oleh desisan kipas pendingin udara.
"Aish, si Alex itu!" Kieranza menggerutu kesal,
"Kenapa emangnya?" tanya Floey, mencoba mencari tahu penyebab kekesalan salah satu saingannya itu
"Dia itu saingan gue dari kelas sebelah. Dia juga mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di sini," ucap Kieran dengan suara penuh kekecewaan.
"Oh, pantesan Lo kesal, takut kalah saingan ya," goda Felix sambil tersenyum.
"Ck, aku turun di sini saja," kata Kieranza dengan nada ngambek, menunjukkan ketidaksenangannya.
"Dih, ngambek. Lembek amat jadi cowok," komentar Felix dengan senyuman yang menggoda.
Kieranza menatap Felix dengan tatapan tajam.
"Kieranza, kamu yakin turun di sini? Masih hujan, lho, di luar," ucap Floreylla khawatir, mencoba menunjukkan perhatiannya.
"Tidak apa-apa, Floreylla. Aku membawa payung tadi," jawab Kieranza dengan sikap tegar, menunjukkan ketegasannya.
Floreylla melambaikan tangan saat Kieranza keluar dari mobil. "Dah," katanya dengan suara rendah, sedikit kecewa dengan sikap Kieranza.
Felix menutup jendela mobil, memandangi Kieranza yang berjalan menjauh.
"Sudah, nanti tanganmu pegel," ucap Felix sambil tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana.
"Kalian ini ada apa sih, setiap kali ketemu mau berantem aja," kata Floey
"Dia yang mulai duluan. Bisa-bisanya dia ingin jadi Ketua OSIS," Felix dengan suara malas
"Memangnya kenapa?" tanya Floreylla penasaran.
"Tidak apa-apa, kalau nanti saat pemilihan, aku nggak akan memilih si Kieranza itu," kata Felix dengan tegas, menunjukkan sikap teguhnya.
"Kenapa emangnya?"
"Iya, daripada memilih cowok lembek dan manja itu mending milih si Alex" jawab Felix
__ADS_1
"Eh, bukannya kamu juga manja," kata Floreylla sambil menatap Felix dengan senyuman mengejek, ingin membalas komentarnya.
Felix tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran dari Floreylla.
"Hahahaha," tertawanya semakin keras, menciptakan suasana yang lebih gaduh di dalam mobil.
"Aishh, kamu ini," kata Felix cemberut, tetapi senyum masih terlihat di wajahnya, menunjukkan bahwa candaan tersebut tidak membuatnya marah sungguh-sungguh.
"Ahaha, Felix, kalau cemberut ternyata jeleknya," goda Floreylla dengan senyum lembut, mencoba meredakan suasana dengan humor.
"Apa?! Jelek? Muka seganteng ini disebut jelek?" protes Felix dengan berpura-pura tersinggung, sambil menyentuh wajahnya yang tampan.
Floreylla hanya terkekeh melihat reaksi Felix. "Nggak, kalau kamu senyum baru aku bilang ganteng," kata Floreylla dengan nada manis, memberikan pujian kecil pada Felix.
Felix tersenyum lebar mendengi pujian itu. "Mmmm," kata Felix sambil tersenyum, memperlihatkan senyumnya yang memesona kepada Floreylla.
Glug..glugg Floey menelan saliva dengan gugup setiap kali Felix tersenyum padanya. Hatinya berdebar kencang, dan dia merasa matanya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Felix yang begitu menawan.
Felix merasakan ketegangan dalam diri Floey dan memutuskan untuk mengambil tangan Floey yang sedikit dingin. "Memangnya kenapa?" tanyanya dengan lembut, mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan pada Floey.
Floey terkejut dengan sentuhan Felix dan melepaskan tangannya dengan cepat, karena ada percikan perasaan yang tidak terduga dalam hatinya. Dia tidak yakin bagaimana menanggapi perasaan itu, jadi dia memilih untuk menjaga jarak.
Dret... drettt... Telepon Felix berbunyi dan dia mengangkat telepon tersebut, mengalihkan perhatiannya sejenak dari Floey.
"Huh, hampir saja, jantungku kenapa nggak bisa dikendalikan sih," batin Floey sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri, mencoba meredakan kegelisahannya.
"Floey, kenapa kamu terlihat sedikit sakit?" tanya Felix setelah mematikan teleponnya, khawatir melihat ekspresi Floey yang berubah.
"Hah, tidak, tidak apa-apa. Nah, sudah sampai, Felix. Sampai jumpa besok," ucap Floey dengan canggung, segera membuka pintu mobil dan turun dari dalamnya, berusaha menghindari situasi yang semakin rumit.
"Tapi—yah, dia keburu masuk lagi," gumam Felix dengan kecewa, berharap bisa lebih lama berbicara dengan Floey.
"Kenapa tuan sukanya sama non Floey?" tanya sopir dengan rasa ingin tahu.
"Tidak, cepatlah jalan," kata Felix dengan suara terburu-buru, terlihat sedikit terganggu oleh pertanyaan sopir.
__ADS_1
Keesokan harinya, Floey bangun dengan rambut acak-acakan dan menguap-nguap saat masuk ke kamar mandi. Setelah mengenakan seragam, dia turun ke ruang makan.
"Hoamm, emm," desisnya dengan suara pelan.
Kieran, Felix, langsung mengambil inisiatif. "Tante, biar saya saja yang memotong bawangnya," ucapnya dengan antusias.
"Tidak, Tante, biar saya saja yang melakukannya. Nanti kalau Kieran yang memasak, mungkin tidak akan enak," sela Felix dengan penuh keyakinan.
"Ehh, sudahlah, kalian berdua duduk saja. Biar Floey yang membantu ibu," kata ibu Floey, mengalihkan perhatian pada Floey.
"Hah, iya-iya, biar aku saja," Floey menjawab dengan gugup. Dia memperhatikan Felix yang sedang tersenyum, dan itu membuat hatinya berdesir dan membuatnya menggosok mata dengan cepat untuk menyembunyikan perasaannya.
Felix dan Kieran saling berbicara dengan kata-kata yang sama, dan mereka berdiri di samping Floey.
"Hah, tidak, aku tidak apa-apa kok," sanggah Floey dengan gugup, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Wah, jadi ramainya rumah ini. Kalian datanglah setiap pagi, kita bisa makan bersama-sama," ucap Zeora, dengan senang hati.
"Hehe, maaf, Tante, kalau merepotkan," ucap Felix sambil tersenyum kecut.
"Tidak, Tante malah senang. Sudah, ayo, makan," ajak Zeora dengan hangat.
Setelah selesai makan, Floey dengan sigap mulai membersihkan piring-piring.
"Biar aku bantu," tawar Felix dengan ramah.
"Biar aku saja. Anak Papi, nggak usah ikut-ikutan, nanti piringnya pada pecah lagi," Kieran merebut semua piring dengan cepat.
"Hey, siapa bilang aku nggak bisa mencuci piring? Aku juga bisa kok," sanggah Felix, ingin membuktikan kemampuannya.
"Ehh, sudahlah, biar Tante saja yang melakukannya. Kalian berdua sebaiknya segera berangkat ke sekolah. Floey, ajak mereka berangkat," kata Zeora, mengambil alih tugas mencuci piring.
"Oh iya, Bu. Ayok," Floey menarik Kieran dan Felix, mengajak mereka berangkat ke sekolah.
"Hmmm, anak-anak itu," ibu Floey tersenyum melihat keceriaan mereka.
...Bersambungo ...
__ADS_1