
Kecupan itu sangat singkat karena Rania segera memundurkan kepalanya. Rania dilanda gugup dan seketika dia menjadi salah tingkah terlebih begitu pandangan matanya bertemu dengan Aiden.
"Carlos, ada Bos Aiden," kata Rania menunjuk melalui lirikan mata.
Carlos pun menoleh. Bibir yang tidak tahu diri itu nyengir lebar. Ingin rasanya Aiden mendaratkan bogem mentah di sana.
"Oh, Aiden. Sorry, aku baru sadar ada kamu," ucap Carlos santai lalu kembali mengalihkan perhatian pada Rania. "Kamu sudah makan, Sayang?"
"Belum," Rania menjawab singkat.
Jujur Rania sangat tidak nyaman duduk di antara Aiden dan Carlos. Seperti ada aura mencekam yang tiba-tiba datang.
"Oke, sekalian kita makan di sini saja ya?"
Carlos mengangkat tangan berniat memanggil pelayan restoran. Namun, Aiden lebih dulu melakukannya sehingga dari seberang ruangan sana, seorang pelayan wanita datang menghampiri Aiden yang dengan cepat menarik lengan Rania.
Aiden meminta Rania untuk berdiri. Menjadikan Carlos dan Rania sama-sama mengerutkan dahi kebingungan.
"Bungkus makanan ini dan kirim ke kantor Irawan Group atas nama Rania Anindita!" perintah Aiden pada pelayan wanita.
Kemudian tanpa berkata apapun lagi, Aiden menarik Rania agar segera enyah dari hadapan Carlos.
Dengan langkah lebar, Aiden berjalan menuju tempat parkir. Sedangkan Rania yang tangannya dicekal, tak dapat berkutik kala dirinya berjalan terseret-seret tak mampu mengimbangi langkah Aiden.
"Bos, aku mau makan."
"Makan siangmu sudah dikirim ke kantor."
"Bos," pekik Rania menghempaskan tangan agar terbebas dari Aiden. "Saya bukan barang yang bisa diseret-seret."
Aiden menghela nafas dan memutar badan agar bisa melihat Rania. Sorot mata yang begitu dingin langsung menembus ke dalam dua bola mata perempuan di hadapannya.
Beberapa saat pandangan mereka saling bertaut dan terlepas kala Aiden menunduk memandang buket bunga pemberian Carlos yang masih sempat Rania bawa.
Rahang Aiden mengetat. Dengan gerakan cepat, Aiden menyambar buket bunga mawar itu, menjatuhkannya ke tanah, lalu menginjak-injak hingga buket bunga yang tadinya sangat cantik berubah menjadi tak berbentuk.
Rania memekik serta membelalakan mata menyaksikan bunga pemberian Carlos untuknya diinjak-injak penuh amarah oleh Aiden.
Rania melempar pandangan pada Aiden yang kini nafasnya memburu serta dada naik turun.
"Bos, kenapa bunganya dirusak?" protes Rania.
__ADS_1
"Akan aku ganti dengan yang lebih bagus," Aiden menjawab dengan ekspresi datar.
Lalu kembali menarik Rania untuk masuk ke dalam mobil. Namun, langkah Aiden tertahan sebab tangan Rania yang satu lagi dicekal oleh Carlos.
"Tunggu, Aiden! Kalau kamu sibuk, biarkan Rania makan siang denganku," pinta Carlos.
"Dia sekretarisku. Kemana pun aku pergi, dia juga harus ikut," Aiden berkata dengan nada ketus.
"Aku tahu. Tapi ini jam istirahat. Tidak bisakah kamu memberi waktu sebentar untuk aku dan Rania berpacaran?"
Satu detik, alis Aiden saling bertaut. Dia melirik Rania dan Carlos secara bergantian.
Raut wajah Aiden jelas menunjukan ketidaksukaan dan juga terkejut mendengar ucapan Carlos.
"Pacaran? Kalian berpacaran?"
Senyum lebar langsung mengembang di bibir Carlos. Lalu dia menganggukan kepala sebagai jawaban.
Berbeda dengan Carlos yang tampak bahagia, Aiden justru sebaliknya. Dia semakin terbakar amarah. Rahang Aiden kembali mengetat sampai terdengar bunyi gigi yang bergemeletuk.
"Rania, masuk ke mobil!" titah Aiden tanpa melepaskan tatapan tajam ke arah Carlos.
Rania tak mampu melanjutkan ucapannya sebab Aiden menoleh cepat menatap Rania dengan sorot penuh amarah terpancar dari manik hitam pria itu.
Ada rasa kecewa di dalam hati Aiden ketika menuadari Rania yang dengan mudah menerima Carlos sebagai seorang kekasih. Padahal baru dua minggu yang lalu gadis itu menyatakan cinta pada Aiden.
Semudah itu kamu melupakan aku? Tanya Aiden dalam hati sambil memandang Rania.
"Kalau aku bilang masuk, berarti masuk!" Aiden membentak hingga membuat Rania terlonjak kaget dan menundukan kepala ketakutan.
Lantas Rania segera masuk ke dalam mobil. Sementara Carlos yang melihat Rania ketakutan, memajukan kakinya satu langkah mendekati Aiden.
"Hai, Dude! Jangan bersikap kasar pada wanitaku!"
Aiden meremas dan menarik kerah kemeja Carlos sampai wajah keduanya berdekatan agar pria itu melihat jelas gurat kemarahan di wajah Aiden.
"Aku tahu maksudmu memacari Rania. Aku tahu pria macam apa kamu itu," desis Aiden.
Carlos terkekeh. "Lalu kamu mau apa kalau Rania pacarku?"
"Aku peringatkan kamu untuk jangan sentuh Rania seperti yang kamu lakukan terhadap semua mantan pacarmu!"
__ADS_1
"Santai saja, Aiden," Carlos melepaskan diri dari cengkraman teman lamanya itu. "Kamu bilang tidak memiliki perasaan apa-apa pada Rania tapi kenapa sikapmu posesif begini, hah?"
"Bukan urusanmu."
Bugh.
Carlos tidak siap menghadapi tinju yang dilayangkan Aiden dan mengenai tepat di bibirnya. Membuat Carlos membekap mulut untuk menahan darah yang mengucur.
Setelah puas melampiaskan rasa amarah yang bergejolak, Aiden pun masuk ke dalam mobil, tepatnya duduk di kursi pengemudi.
Kemudian melajukan mobil meninggalkan Carlos sendirian di tempat parkir restoran.
*
*
*
Di dalam mobil, Rania dan Aiden terdiam larut dalam pemikiran masing-masing.
Aiden fokus menatap lurus ke depan dengan tangan yang mencekram kuat stir kemudi. Sedangkan Rania tidak berani melirik Aiden yang sedang marah, lebih memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Lalu keheningan pecah saat Aiden mulai berbicara, "Jangan pernah berhubungan lagi dengan Carlos! Apa kamu mengerti?"
"Kenapa Bos mengatur kehidupan pribadi saya?" Rania memprotes tidak terima.
Cit.
Seketika Aiden mengerem mobil secara mendadak. Menjadikan Rania terhuyung ke depan.
Kemudian baik Aiden maupun Rania sama-sama menoleh satu sama lain dengan manik mata yang melotot.
"Bos, bisa tidak jangan berhenti mendadak?" gerutu Rania.
"Bisa tidak kamu turuti saja perintahku?" Aiden balik bertanya tak kalah kesal. "Aku lebih tahu perangai Carlos. Dia bukan pria yang baik. Dan katakan! Selama seminggu ini pergi ke mana saja kamu dengan Carlos?"
Rania menghela nafas, memalingkan wajah dari tatapan Aiden, lalu menjawab, "Aku hanya mengerjakan tugas darimu, Bos. Memang Bos berpikir kami melakukan apa?"
Rania berkata jujur. Selama seminggu terakhir ini dia memang selalu dijemput oleh Carlos. Tapi tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke apartemen Loretha.
Di sana Rania selalu membawa tugas yang belum sempat dikerjakan di kantor lalu selebihnya dia menghabiskan waktu untuk mengobrol panjang lebar dengan Loretha dan juga Abe.
__ADS_1