
Hari di mana Aiden dan Rania pergi ke London pun tiba. Kini bos dan sekretaris itu berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka ke mansion milik Tuan Gerald.
Ya, Tuan Gerald sendiri yang meminta untuk pembahasan kontrak kerja sama dilakukan di mansion miliknya bukan di kantor Alastar Corp.
Sepanjang perjalanan itu, kedua bola mata Rania berbinar memandang jalanan.
Bagaikan anak kecil yang baru pertama kali diajak bertamasya, begitu pula Rania yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota London.
Aiden menghela nafas, berdecak serta memijat pangkal hidung. Tampaknya apa yang dikatakan Bella ada benarnya juga.
Aiden sedikit khawatir sikap Rania yang polosnya kelewatan itu bisa menggagalkan rencana bisnis. Tapi detik berikutnya, Aiden menyakinkan diri bahwa Rania tak akan membuat kesalahan fatal.
Mobil masuk ke sebuah pelataran mansion yang luasnya mungkin setengah lapangan bola. Begitu turun, Rania terperangah akan bangunan yang ada di depannya.
"Rania, ingat jaga image perusahaan kita. Jangan membuat ulah!" bisik Aiden ketika mereka berjalan beriringan.
Rania menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk simbol OK. Lalu dia mengalihkan pandangan pada pria yang tengah berdiri menyambut kedatangan mereka.
Rania memperkirakan umur pria tampan dengan bola mata berwarna hijau itu tak jauh berbeda dengan umur Bos Aiden.
Rania menunduk memberi hormat dan berjabat tangan dengan pria itu.
"Tuan Gerald," sapa Rania ramah.
Gerald membalas senyum Rania dan berkata, "Selamat datang di mansion kami. Aku sengaja membawa kalian ke mansion karena aku ingin pembahasan bisnis kita kali ini dilakukan dengan santai."
Kemudian Rania dan Aiden dipersilahkan masuk ke dalam mansion. Tepatnya di ruang makan yang luas dan ada meja panjang yang telah tersaji berbagai macam masakan Indonesia.
Gerald sengaja menjamu Aiden dan Rania lebih spesial daripada rekan bisnis yang lain. Karena dia dan Aiden memang telah lama bersahabat sejak masih kuliah.
"Wah ini sih seperti masakan ibu saya," seloroh Rania menatap makanan di meja dengan mata berbinar.
Sontak Aiden menendang kaki Rania di bawah meja, tapi dia salah sasaran sehingga yang tertendang adalah kaki Gerald.
"Aiden, are you okay?" tanya Gerald mengerutkan dahi sambil melirik ke bawah kakinya.
"Oh, sorry, Gerald," Aiden berkata tanpa ekspresi. Lalu memiringkan tubuh untuk berbisik di depan telinga Rania. "Ingat, jaga sikap!"
Gerald yang mendengar ucapan Aiden pun lantas tertawa, "Santai saja, Aiden. Lagi pula bicara tentang bisnis nanti saja. Sekarang kita makan dulu. Oh ya, Rania, tadi kamu bilang ini seperti masakan ibu kamu?"
Rania langsung menganggukan kepala. "Ibu saya berjualan masakan rumahan, Tuan."
"Apa ibumu bisa memasak…" Gerald mengerutkan kening tampak sedang berpikir keras. Lalu dia berdecak, "Apa itu namanya… yang bulat, empuk dan rasanya enak meskipun sedikit bau."
__ADS_1
Aiden melongo tak percaya sambil pikirannya melayang jauh memikirkan deskripsi benda yang dikatakan Gerald.
Bulat, empuk, dan rasanya enak? Gerald ini rupanya memiliki pikiran kotor. Batin Aiden.
"Ooh jengkol?" Rania menebak.
"Exacly!" pekik Gerald yang detik berikutnya tertawa lepas.
"Ibu saya paling jago masak jengkol balado. Kalau Tuan Gerald mau, akan saya kirimkan khusus untuk Anda, Tuan," kata Rania tersenyum semringah.
Plak.
Aiden menepuk jidatnya sendiri. Dia tak akan menyangka pembahasan tentang kontrak kerja akan berubah membahas jengkol balado.
Namun, rupanya berkat Rania yang membahas jengkol balado membuat suasana hati Gerald sangat cerah ceria.
Bahkan suasana hati Gerald itu berlanjut ketika mereka berpindah ke ruangan kerja untuk mulai serius membahas kontrak yang akan mereka sepakati.
Setelah melakukan pembicaraan panjang, akhirnya Aiden dan Gerald menjabat tangan pertanda kesepakatan mereka disetujui oleh kedua belah pihak.
Dua pria itu saling tersenyum. Bedanya, Gerald tersenyum karena akan mendapat kiriman jengkol sedangkan Aiden tersenyum sebab perusahaannya akan mendapat untung besar dari kerjasama dengan Alastar Corp.
"Saya pastikan proyek kita akan segera berjalan, Tuan Gerald," ucap Aiden mantap.
*
*
*
Aiden menoleh pada Rania yang sedang mengucek matanya akibat menahan kantuk. Lalu wanita itu membungkam mulutnya sendiri yang ingin sekali menguap.
Sekarang ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang mengusung tema outdoor. Mereka duduk sambil memandang kendaraan yang berlalu lalang.
"Kamu mengantuk?" tanya Aiden penuh perhatian meski ekspresi wajahnya tetap datar.
"Tidak, Bos. Aku sedang menunggu pesan dari Carlos."
Mendengar nama Carlos disebutkan, membuat Aiden mendengus kasar dan segera membuang muka.
Untuk kesekian kali Rania mengecek ponselnya. Beberapa jam yang lalu Carlos menghubunginya tapi Rania sedang bersama Tuan Gerald dan juga Bos Aiden. Menjadikan Rania tidak bisa menerima panggilan dari Carlos.
Dan sekarang, saat Rania memiliki waktu luang, Carlos justru tak membalas pesan darinya.
__ADS_1
Malam semakin larut dan Aiden melihat Rania yang mengusap lengan. Pertanda wanita itu tengah kedinginan.
"Ambilkan mantel di dalam mobilku!" perintah Aiden.
"Kenapa tidak Bos sendiri yang ambil?"
Aiden menarik nafas panjang. "Rania, jangan banyak tanya! Lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
Sambil mengerutkan bibir, Rania beranjak dari duduknya. Meninggalkan ponsel yang berada di atas meja untuk mengambil mantel yang dimaksud Aiden.
Sepeninggalan Rania, Aiden melihat ponsel milik gadis itu berdering dengan nama Carlos tertera di layar.
Aiden tersenyum tipis kala mendapati Rania tak menamai nomor telepon Carlos dengan sebutan sayang atau sebagainya. Lalu tangan Aiden bergerak mengangkat telepon itu.
"Hai, jal***!"
Wajah Aiden mengernyit heran saat mendengar suara perempuan di seberang sana. Detik berikutnya, Aiden langsung mengenali jika suara perempuan itu adalah Naomi.
Aiden kenal Naomi karena dia pernah beberapa kali bertemu di setiap acara pesta yang diadakan Carlos.
"Hai, Rania, kenapa diam saja? Aku tahu kamu itu seorang ja****. Kamu pernah berciuman dengan Aiden, dekat dengan Abe, tapi kamu memacari Carlos. Dasar kamu itu benar-benar ja****."
Tangan Aiden mengepal kuat tersulut emosi begitu mendengar Naomi memanggil Rania dengan sebutan jala**.
"Rania tidak ada," sahut Aiden singkat.
"Oh, eh, ini siapa?" dari seberang sana Naomi tampak kebingungan.
"Itu tidak penting. Tapi sebelum kamu menyebut Rania jal***, pandang dulu dirimu seperti apa?" sarkas Aiden yang kemudian langsung menutup telepon.
Selang beberapa menit, Rania kembali dengan membawa mantel berwarna hitam. Dia sodorkan mantel itu pada Aiden yang memasang wajah memendam amarah.
"Ini, Bos."
"Pakai!"
Rania merentangkan mantel itu dan meletakkannya di bahu Aiden. Menjadikan Aiden terlonjak kaget sekaligus mengerutkan dahi.
"Pakai untukmu, Bodoh."
"Ooh," sahut Rania santai. "Kalau kasih perintah tolong yang lebih spesifik dan jelas ya, Bos."
Lalu dia memakai mantel milik Aiden. Sedangkan bos nya itu hanya diam masih marah pada Naomi yang telah berani-beraninya mengatakan Rania wanita ja****
__ADS_1