My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
43 Meminta Restu


__ADS_3

Bola mata Rania menggenang melihat Aiden berdiri di hadapannya. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan pria yang sangat dirindukan itu.


Terasa seperti mimpi bagi Rania. Beberapa menit yang lalu dia sangat memikirkan Aiden dan berdoa dalam hati agar mereka berdua dipertemukan.


Dan tak disangka. Doa Rania langsung dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.


Segera Rania mendongak untuk dapat menatap Aiden. Dia mencubit pipinya sendiri dan mengaduh kesakitan.


Rania pikir, dia sedang bermimpi bisa bertemu dengan Aiden. 


"Ini bukan mimpi Rania. Ini aku, Aiden."


"B-bos."


Binar bahagia di mata Rania mendadak redup dan berganti dengan raut khawatir. Lantas dia melirik ke arah pintu masuk. Berharap Raden tak menyusul Rania ke dalam restoran.


"Bos, bawa aku pergi dari sini!" pinta Rania.


Namun, Aiden menggelengkan kepala dengan sangat yakin.


"Tidak, Rania. Kita harus tetap menghadapi ayahmu. Aku akan bicara baik-baik untuk mengutarakan niatku melamarmu."


Sungguh Rania tersentuh oleh ucapan Aiden itu. Apalagi Aiden memasang wajah tegas dan tak ada keraguan apalagi ketakutan di wajahnya.


Rania mengulum senyum saat Aiden mencium telapak tangannya.


"Kamu yakin dengan ucapanmu, Anak Muda?"


Sebuah suara yang sangat dikenal Rania dan Aiden membuat keduanya tersentak dan menoleh bersamaan.


Di depan mereka sudah berdiri Raden dengan sorot mata mengintimidasi yang membuat Aiden menelan saliva.


Kenapa aku harus mendapatkan calon mertua modelan seperti ini sih? Keluh Aiden dalam hati.


Meskipun begitu, Aiden tetap menunduk sopan. Sesuai anjuran dari Abe, Aiden harus merendah dan juga menurunkan kesombongannya selama berada di hadapan Raden.


"Itu benar. Saya ingin menikahi Rania. Tolong restui hubungan kami Tuan Raden."


Raden mendengus. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dimana hampir sebagian pengunjung restoran memandang ke arahnya.


Sungguh waktu dan tempat tidaklah pas untuk membicarakan tentang hubungan Aiden dan Rania. Sehingga Raden menarik nafas panjang dan mengulurkan tangan agar Rania mendekat padanya.


"Ayo, Rania, kita pulang!"


Rania menggelengkan kepala. "Aku tidak mau, Ayah."


Penolakan dari Rania, tentu saja membuat Raden naik pitam. Kumis tebalnya bergerak-gerak dengan mata yang mendelik menakutkan.


"Rania!" bentak Raden yang membuat Rania tersentak.


Sejenak Rania menarik nafas dalam untuk dapat menenangkan detak jantungnya yang hampir saja copot dari tempatnya.


"Baik. Rania akan menuruti semua kemauan Ayah. Asal Aiden diperbolehkan masuk ke rumah kita."

__ADS_1


Raden melirik Aiden sekilas. Lalu kembali memandang putrinya. Dua sepasang kekasih di depan Raden saling memegang tangan. Seolah tak mau berpisah di tempat itu.


"Baiklah. Ayo kita pulang!" jawab Raden pada akhirnya dan kemudian dia berbalik badan lebih dulu meninggalkan restoran.


*


*


*


Dalam beberapa menit berikutnya, Aiden dan Rania duduk berdampingan di sebuah sofa. Arah pandang mereka sama, yaitu pada seorang pria paruh baya bertubuh tambun.


Sejak tadi genggaman tangan mereka tidak pernah lepas.


Raden mendengus kala melihat genggaman tangan itu lalu membuang muka.


Suasana di ruang tamu itu terasa hening mencekam sekaligus mendebarkan. Pasalnya Aiden, pria yang biasa terlihat di kantor, baru kali ini dibuat gugup saat bertemu dengan calon mertua.


Aiden menegakkan punggung dan berusaha untuk tetap optimis. Lalu berkata, "Tuan, saya datang kemari membawa sesuatu untuk Anda. Semoga Anda senang."


Aiden menoleh pada Abe yang duduk di lain sisi. Dengan menggunakan lirikan mata, Aiden memberi kode agar Abe memberikan martabak coklat yang dia bawa untuk diserahkan pada Raden.


Tapi justru Abe tergagap. Dia menelan saliva dengan kasar saat Aiden melotot ke arahnya.


"Kenapa diam? Cepat! Mana martabak untuk Pak Raden?"


Abe menggaruk kepala yang tidak gatal sambil menampilkan senyum kuda. Denga ragu-ragu, Abe menyodorkan kotak martabak.


Melihat gelagat Abe yang tidak menyakinkan, Aiden mengerugkan kening. Lalu dia membuka kotak martabak untuk memastikan kualitas martabak coklat itu masih bagus.


"Abe…." geram Aiden melayangkan tatapan tajam pada asisten pribadinya itu.


Ehm.


Raden berdeham yang menjadikan Abe menghela nafas lega. Tapi tidak bagi Aiden yang langsung menoleh berusaha tersenyum. Meski di dalam hati dia masih marah.


"Jadi, apa yang kamu bawa?"


"Maaf, Tuan Raden. Asisten saya ini tidak tahu malu menghabiskan martabak coklat yang seharusnya untuk Anda."


Raden menatap Aiden sinis. Lalu kembali dia membuang muka.


"Sudahlah. Lagipula saya tidak suka martabak coklat."


Lagi-lagi Abe menghela nafas dan memanjatkan doa syukur di dalam hati.


"Jadi, kamu ingin bermaksud menikahi putriku, Rania?"


Aiden mengangguk. "Benar."


Sesaat Raden menoleh pada Rania. Tangan Raden memilin salah satu ujung kumisnya yang runcing. Tampak jelas dari pandangan matanya, Raden tengah berpikir.


Beberapa saat berlalu, akhirnya Raden menarik nafas panjang. 

__ADS_1


"Rania, masuk ke kamarmu!"


"Kenapa, Ayah? Aku mau di sini," ucap Rania bersikeras.


"Ini pembicaraan antara dua pria. Kamu sebaiknya masuk ke dalam kamarmu."


"Tapi, Ayah…"


Rania tak melanjutkan ucapannya karena tangannya ditepuk pelan oleh Aiden. Lantas dia pun menoleh pada pria yang juga sedang menatapnya.


"Turuti saja!"


Rania menarik nafas panjang. Meskipun dia tidak mau beranjak dari tempat duduknya, tapi Rania tetap menurut.


Dia bangkit dari duduk dan mulai berjalan menuju kamar. Tapi langkahnya terhenti tepat di balik sebuah guci.


Dia bersembunyi di sana untuk dapat mendengarkan pembicaraan Aiden dan Raden.


"Ehm, Rania. Ayah tahu kamu sembunyi di balik guci."


"Eh," 


Rania terkesiap sekaligus terlonjak kaget karena ayahnya bisa tahu tempat dia bersembunyi. Dengan segera dia berlari masuk ke dalam kamar.


Beberapa menit berlalu, Rania berjalan mondar-mandir menunggu hasil pembicaraan Aiden bersama Raden.


Di dalam hati, Rania berdoa agar Raden merestui hubungan mereka berdua untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.


Namun, sampai empat puluh lima menit lamanya, Rania tak mendapatkan kabar apapun. Dia takut untuk keluar dari kamar.


Saking lelahnya menunggu, Rania sampai tertidur di atas ranjang dan terbangun saat pelayan wanita membangunkannya.


Saat Rania tebangun, hari sudah sore. Rania tersentak kaget dan buru-buru berlari ke ruang tamu. Namun, saat sampai di ruang tamu, dia mendesah kecewa sebab sudah tak ada lagi keberadaan Aiden dan Abe.


Ruangan itu kosong. Bahkan cangkir bekas minuman ketiga pria itu sudah dibereskan.


"Sial. Sudah berapa lama aku tertidur?" Gumam Rania sambil menepuk jidatnya sendiri.


Dia merutuki kebodohannya yang tertidur padahal dia sedang menunggu keputusan dari Raden.


Tepat saat itu, Vincent yang hendak kelaur rumah berjalan melewati ruang tamu. Dia melihat Rania memasang wajah cemberut, membuat dahi Vincent mengerut.


"Ada apa, Nona?"


"Vin, kamu lihat Ayah dan Bos Aiden? Kemana perginya mereka?"


"Oh, Tuan Aiden sudah pergi sejak satu jam yang lalu," terang Vincent. "Memangnya kenapa?"


Rania berdecak kesal. Sebab Aiden pergi tanpa berpamitan dengannya.


"Kamu tahu apa saja yang dibicarakan Bos Aiden dengan Ayah?"


Vincent mengulas senyum penuh arti. Lalu dia dia berkata, "Ya, Tuan Raden tidak setuju kamu menikah dengan Tuan Aiden."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2