My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
6. Aku Tidak Jelek


__ADS_3

Di dalam mobil, Rania malu-malu mencuri pandang ke arah pengemudi yang tak lain adalah Aiden. Senyuman manis tak bisa Rania sembunyikan dari wajahnya.


Sedangkan Aiden sendiri menyetir mobil dengan kecepatan di atas normal. Sejak tadi dia fokus menatap lurus ke jalanan.


Namun, ekor mata Aiden menangkap Rania yang terus memandanginya penuh kekaguman.


"Jangan melihatku seperti itu!" ucap Aiden tanpa menoleh pada Rania.


Segera Rania melempar pandangan ke luar jendela. Jantungnya berdebar kencang. Sekencang mobil yang dikendarai Aiden.


"Perempatan depan belok ke kiri, Bos," kata Rania mengarahkan Aiden arah ke rumahnya.


Aiden mendengus kesal sebab baru kali ini dia diperintah oleh seorang gadis culun. Tangan Aiden mencengkeram kuat pada stir kemudi menahan amarah yang siap meledak.


Tak habis pikir, Aiden yang biasanya memberikan perintah pada orang lain. Kini dia merasa seperti sopir pribadi.


Berbeda dengan Aiden, Rania terlihat santai dan polos memandangi jalanan kota melalui jendela mobil.


"Bos, bisa kita berhenti sebentar di toko buku depan sana."


Rania menunjuk toko buku yang berada di sisi kanan jalan. Akan tetapi Aiden terus melajukan mobil tanpa menggubris ucapan Rania.


Bahkan Aiden sengaja menambah kecepatan hingga mobil melewati toko buku yang sempat ditunjuk oleh Rania yang kini hanya bisa mendesah pasrah.


"Eh, eh, Bos, tunggu! Bos salah jalan. Seharusnya tadi kita belok ke kanan," cicit Rania.


Seketika Aiden menginjak rem mobil secara mendadak yang membuat Rania terjungkal ke depan mencium dashboard. 


Rania menegakkan punggung sembari membetulkan kacamata yang hampir terjatuh. Dia melempar tatapan kesal pada Aiden yang berhenti mendadak.


"Bos, jangan mengerem mendadak! Kalau di belakang kita ada pengendara yang tidak sempat mengerem, bisa bahaya."


Sontak Aiden menoleh dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan. Tatapan itu begitu tajam dan dingin, membuat bulu kuduk Rania meremang seketika.


Kesabaran Aiden telah habis. Dia merasa diperlakukan seperti sopir pribadi dan ditambah wanita culun yang menumpang di mobilnya menasehati Aiden dengan gaya sok tahu.


"Keluar kamu!" titah Aiden dengan suara parau penuh emosi.


"Tapi, Bos, rumahku masih jauh," Rania memberanikan diri untuk berkata.


Jika saja mobil Aiden berhenti tak jauh dari rumah, Rania pasti sudah keluar tanpa menunggu diperintah.


"Keluar! Kamu bisa naik angkutan umum."


Rania menelan saliva dengan badan yang gemetar melihat Aiden marah. 


"Tunggu apa lagi? Cepat keluar dari mobilku!" Aiden membentak begitu melihat Rania yang diam tak bergeming.


Bukan hanya membentak, tapi tangan Aiden juga bergerak mencubit pinggang Rania yang sontak mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Aw sakit, Bos. Ampun. Iya, aku akan keluar," ucap Rania meringis saat Aiden melepas cubitannya.


Pingganga Rania terasa perih, sudah dapat dipastikan bekas cubitan itu telah meninggalkan bekas merah.


Segera Rania melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Namun, ketika menutup pintu, Rania tidak sadar jika ujung roknya tersangkut.


Alhasil begitu mobil melaju…


Bret.


Rania mendengar suara kain disobek bersamaan dengan bagian bawah tubuhnya yang tertarik. Dengan cepat Rania menunduk dan Betapa terkejutnya Rania saat melihat rok yang pakainya sobek.


Sambil berlari, Rania berusaha mengetuk kaca jendela mobil Aiden sedangkan satu tangan yang lain memegangi rok.


"Bos, tunggu! Rok saya tersangkut, Bos."


Merasa kaca mobilnya diketuk, Aiden kembali menghentikan kendaraan roda empat itu, lalu menurunkan kaca jendela memperlihatkan wajah Rania yang tersenyum malu.


"Apa?" tanya Aiden galak.


"Rok saya tersangkut dan sobek, Bos. Bisakah saya menumpang sampai rumah? Tidak mungkin kan kalau saya naik angkutan umum dengan rok sobek seperti ini."


Rania menunjukan rok yang sobek hingga ke atas.


Aiden berdecak kesal sekaligus memutar bola mata malas. Terpaksa dia melambaikan tangan memberikan isyarat jika Rania diperbolehkan menaiki kembali mobilnya.


Segera Rania masuk dengan bersorak riang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Aiden.


Mendengar hal itu, Aiden mendengus menampilkan wajah mencemooh. Bibir Aiden mengukir sebuah senyum seringai.


"Kamu bilang apa? Korban pelecehan? Mana ada orang yang berselera melecehkan wanita culun dan jelek sepertimu."


Rania mengetatkan rahang tak terima jika dia dikatakan culun dan jelek. Rasanya seperti ada yang meremas kuat jantungnya saat yang mengatakan culun dan jelek adalah orang yang dikagumi Rania.


"Aku tidak jelek, Bos," ucap Rania tegas.


"Apa di rumahmu tidak ada cermin, hah? Coba lihat ini!"


Aiden merangkup pipi Rania menggunakan satu tangan dan mengarahkan wajah gadis itu untuk melihat bayangan di kaca spion.


"Kamu lihat betapa jeleknya dirimu," cemooh Aiden yang kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari pipi Rania.


Aiden menancapkan gas yang membuat mobilnya kembali melaju kencang memecah jalanan. Sedangkan Rania hanya bisa terdiam.


Entah kenapa hati Rania terasa sakit ketika Aiden menyebutnya sebagai gadis culun dan jelek.


*


*

__ADS_1


*


Rania berjalan dengan langkah gontai melintasi ruang tengah hingga dia tak menyadari Ajeng memperhatikannya dari dapur.


Melihat Rania pulang sambil memasang wajah cemberut, Ajeng pun menghampiri putri sulungnya.


"Rania, kamu baik-baik, Nak?"


Rania tersentak menyadari Ajeng ada di dekatnya. Lantas dia pun menganggukan kepala, tak mau menceritakan kegundahan yang melanda hati.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya sedang kelelahan saja," ucap Rania memaksakan diri untuk tersenyum.


"Oh, kamu lelah ya? Tadinya Ibu mau meminta bantuan kamu untuk mengantarkan nasi boks ke rumah Ibu Lilis."


Rania melirik ke atas meja dapur yang mana di sana sudah ada sepuluh kotak nasi yang terbungkus dalam kantong plastik besar.


Tentu saja untuk membantu sang ibu, Rania selalu bersedia untuk menyanggupi apapun itu.


"Kalau untuk mengantar ke rumah Bu Lilis, Rania bisa kok, Bu."


"Kamu yakin? Kamu bilang tadi lelah," Ajeng menatap Rania menyelidiki raut wajah putrinya.


"Tidak apa-apa, Bu," kata Rania menyakinkan.


Ajeng menepuk bahu Rania dan mengulum senyum. Rasa bangga akan putri sulungnya itu tak dapat Ajeng sembunyikan.


"Ya sudah sana. Kalau Bu Lilis kasih uang bonus pakai saja untuk jajan," tutur Ajeng melebarkan senyum melihat Rania menenteng kantong plastik.


*


*


*


Benar apa yang dikatakan Ajeng. Pelanggan setia Ajeng yang bernama Bu Lilis itu memberikan uang bonus pada Rania karena pesanannya dikirim tepat waktu.


Sejenak Rania berpikir untuk memakai uang bonus itu atau ditabung saja. Lalu Rania teringat kembali akan ucapan Aiden.


Kamu lihat betapa jeleknya dirimu.


Kata-kata dari mulut Aiden itu terus terngiang dan mengusik benak Rania. Sehingga kali ini Rania memutuskan memakai uang bonus pemberian Bu Lilis untuk membeli alat make up.


Sesampainya di toko kosmetik, dahi Rania mengerut menatap satu per satu alat make up yang berjajar di dalam etalase kaca.


Rania mengetuk-ngetukan jari ke dagu tengah berpikir sekiranya mana yang harus dibeli. Mengingat uang yang ada di genggaman tangannya juga tidak banyak.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" seorang pramuniaga wanita bertanya pada Rania yang sejak tadi terlihat bingung.


Setelah berbincang dengan pramuniaga, akhirnya Rania memutuskan membeli pensil alis, blush on dan lipstik. Dia tidak membeli bedak karena bedak yang biasa dia pakai masih ada.

__ADS_1


Sambil menatap pada barang belanjaannya, Rania bergumam, "Akan aku buktikan kalau aku tidak jelek."


__ADS_2