
"Bos? Bos Aiden?"
Rania berteriak sambil menoleh kanan kiri menelusuri setiap sudut rumah. Sejak tadi dia tidak menemukan sosok Aiden di mana pun.
Semenjak perdebatan dengan Vincent, Aiden memilih untuk pergi entah kemana.
Lalu langkah Rania berhenti bertepatan dengan terbukanya pintu kamar mandi yang ada di dekat situ.
Sosok yang Rania cari keluar dari kamar mandi dengan sorot mata tajam tapi ekspresi wajah datar.
"Bos," panggil Rania lirih dengan senyum yang berkembang di bibir.
"Kenapa kamu melakukan seperti tadi?" Aiden bertanya masih dengan sorot mata tajam.
"Maaf, Bos. Tadi aku hanya sedang menguji Bos Aiden," terang Rania menggaruk kepala yang tidak gatal. "Apa Bos masih marah?"
"Tidak," jawab Aiden singkat. "Tapi yang di bawah masih menegang."
"Yang di bawah?" Rania mengerutkan dahi. Kemudian, Rania melirik ke lantai dan terlihat sedang mencari sesuatu. "Siapa yang menegang?"
Aiden tersenyum tipis menahan tawa. Gadis yang sekarang ada di hadapannya sama sekali tak berubah. Masih polos dan lugu.
Dan Aiden sangat gemas sekali jika Rania sedang menunjukan sikap polosnya.
Seperti sekarang ini, Aiden menarik lengan Rania sampai wanita itu terjerembab ke dalam pekukan. Dipeluknya erat sambil tangan yang bergerak mengusap punggung.
Rania mendongakkan kepala karena dia ingin meminta penjelasan dari pria yang kini tengah memeluk erat.
"Bos."
"Hum."
"Apa benar Bos akan menikahiku?"
Sejenak Aiden melepas pelukan dan menarik dagu Rania agat wanita itu membalas tatapannya.
"Kalau aku tidak menikahimu, mana mungkin aku datang kemari."
"Tapi selama ini kenapa Bos tidak mengabariku?"
Aiden menghela nafas lalu menyunggingkan senyuman. Tangan Aiden bergerak mengusap rambut Rania dengan sangat lembut dan penuh rasa sayang.
"Aku sebenarnya ingin sekali menelepon kamu, Sayang. Tapi aku takut tidak bisa menahan rasa rinduku."
Rania memberutkan bibir sambil matanya menyipit penuh selidik.
"Bohong. Pasti Bos menjalin hubungan dengan wanita lain saat tidak ada aku."
__ADS_1
"Astaga, Rania!" ucap Aiden membelalakan mata. "Jangan bilang begitu! Dalam hubungan, kita harus saling percaya dan saling menjaga kepercayaan."
Aiden menarik tangan Rania dan menjatuhkan kecupan di punggung tangan yang putih nan mulus itu.
Membuat Rania tersentuh dengan perlakuan manis pria yang akan menjadi calon suaminya.
"Selama satu bulan ini, aku hanya menghabiskan waktu untuk bekerja. Bahkan aku tidak memperkerjakan seorang sekretaris. Aku menunggu kamu kembali menduduki posisi itu lagi."
"Oh ya? Kalau begitu siapa yang mengerjakan tugas-tugas sekretaris?"
"Abe," jawab Aiden singkat.
Rania kembali menghambut ke dalam pelukan Aiden. Kedua sepasang kekasih itu saling menyalurkan rasa rindu lewat pelukan hangat yang cukup lama.
Sampai akhirnya pelukan itu terlepas dan Aiden menuntun Rania duduk di taman belakang rumah.
Aiden menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Vincent. Pria yang dia pikir laki-laki sejati tapi ternyata sejak awal telah mengincar Aiden.
"Di mana si manusia lidi?"
"Manusia lidi?" ulang Rania yang dahinya mengkerut bingung.
"Maksudku, Vincent. Dia kan tubuhnya jangkung kurus, jadi aku menamainya manusia lidi."
Rania terkekeh sesaat sebelum dia menjawab, "Oh, Ayah memecat Vincent. Karena dia ketahuan sering main pedang-pedangan bersama pria dewasa dan parahnya dia rekam di dalam ponsel."
Rania bergidik ngeri. Tak bisa dibayangkan asisten ayahnya yang dia pikir orang baik, bisa melakukan perbuatan tak senonoh.
Aiden mengulum senyum melihat tingkah Rania yang bergidik ngeri. Lalu dia menarik dengan lembut kepala Rania dan meletakkannya ke atas dada.
"Jadi, Bos. Kapan kita akan menikah?"
"Aku ini calon suami kamu, Rania. Jangan panggil Bos dong!"
"Ya kan Bos akan menjadi Bos di bahtera rumah tangga kita nanti," sahut Rania sambil terkekeh pelan.
Membuat Aiden pun ikut terkekeh dan mengecup puncak kepala Rania.
"Dua minggu lagi. Kenapa? Kamu sudah tidak sabar?"
"Bukan begitu, aku hanya…ehhpmm."
Rania tak bisa melanjutkan ucapannya karena dibungkam oleh bibir Aiden. Awalnya Rania kaget akan ciuman dadakan itu.
Tapi perlahan dia pun menggerakan bibir membalas serangan dari Aiden. Bahkan Rania melingkarkan tangan di leher Aiden agar dapat memperdalam ciuman.
Lidah mereka saling beradu dengan bibir yang saling mengecup satu sama lain.
__ADS_1
"Kamu semakin mahir berciuman. Apa kamu memiliki guru di sini?" seloroh Aiden ketika tautan bibir terlepas.
Bugh.
Rania meninju dada bidang Aiden yang tak memberi efek apapun pada pria itu kecuali senyum lebar.
Rania memajukan bibir cemberut. Dia sebal akan tuduhan Aiden yang seenaknya saja.
"Bos bilang kita harus saling percaya dan menjaga kepercayaan. Tapi Bis sendiri malah menuduh yang tidak-tidak."
"Siapa yang menuduh?" tanya Aiden sambil tertawa. "Aku hanya bercanda. Sekarang kamu sebaiknya bersiap, sebab kita akan pulang ke Indonesia."
Mendadak wajah Rania mengerut heran. "Untuk apa?"
Bibir Aiden mengulum senyum. Dengan penuh kesabaran, Aiden mengusap rambut Rania.
"Apalagi kalau bukan untuk mengurus acara pernikahan kita, Sayang."
"Tapi kan Ayah…"
"Ayah mengizinkanmu pulang, Nak," kata Raden yang tiba-tiba sudah ada di belakang Aiden dan Rania.
Sontak mereka berdua pun menoleh ke belakang. Di mana Raden berdiri sambil tersenyum pada putrinya bernama Rania yang saat ini menatap tak percaya.
Rania tentu saja terperangah mendengar ucapan Raden. Dia tak akan menyangka kalau selama ini ayahnya menyetujui pernikahannya dengan Aiden.
Seketika Rania berlari ke arah Raden dan memeluk erat pria paruh baya itu.
Meski Raden pernah meninggalkan serta tak memberikan kabar, tapi kasih sayang seorang ayah tidak akan pernah pudar.
Dan kasih sayang Raden, Rania rasakan dalam pelukan hangat yang membalut tubuhnya saat ini.
"Terima kasih, Ayah. Maafkan Rania yang selama ini sering membangkang pada Ayah," tutur Rania yang semakin mempererat pelukan.
Air mata tak kuasa Rania bendung. Satu per satu bulir bening mengalir dari ujung matanya dan melintasi pipi.
Sama halnya dengan Rania, Raden pun tak tahan lagi untuk tidak bisa menangis. Dia tak peduli Aiden melihatnya sebagai laki-laki tua cengeng atau apapun itu.
Satu hal yang pasti, Raden sangat terharu sebab ini pertama kalinya dia dapat memeluk hangat putrinya sendiri setelah sekian tahun tak pernah dia lakukan.
Tangan Raden membalas pelukan Rania, mengecup puncak kepala dengan perasaan dada yang bergemuruh.
"Maafkan Ayah juga, Rania. Ayah sangat egois memisahkan kamu dengan Aiden."
Raden dan Rania saling melepas pelukan, lalu tangan Raden menangkup kedua pipi Rania yang basah oleh air mata.
Diseka pipi Rania menggunakan punggung tangan Raden. Lalu dipandanginya wajah cantik si anak sulung yang sangat mirip Ajeng.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia bersama Aiden. Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Kalau Aiden menyakitimu, katakan pada Ayah, biar Ayah pitak kepalanya."
Rania tertawa meski netranya terus saja mengalirkan air mata. Kembali Rania memeluk Raden sambil berkata, "Aku sayang Ayah."