
Rania menepuk jidat dengan bibir mengaduh tanpa keluar suara. Dia mengutuki dirinya sendiri atas tindakan ceroboh yang dia lakukan.
Rania, kamu bodoh. Sekarang Aiden tahu kalau kamu juga mencintainya.
Kedua pipi Rania memerah seperti kepiting rebus dan lidahnya kelu tak dapat digerakan untuk berbicara.
"Halo, Rania? Mana berkas laporan yang aku minta? Cepat bawa ke ruanganku!" kata Aiden di seberang telepon sana.
"I-iya, Bos. Akan saya antar ke ruangan Bos," sahut Rania dengan perasaan gugup yang belum hilang.
Setelah menutup telepon, Rania menggeram kesal sambil mengepalkan kedua tangan.
Mau ditaruh di mana mukamu, Rania? Mau ditaruh di mana? Geram Rania dalam hati.
Namun, detik berikutnya Rania berusaha menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk.
Secepat mungkin Rania menyelesaikan laporan meski dengan pikiran yang bercabang. Setelah selesai, dia pun pergi ke ruangan Aiden sambil beberapa kali mengatur nafas agar tidak gugup saat menghadapi Aiden.
Begitu membuka pintu, Rania mendapati Aiden sedang duduk di sofa panjang dan pria itu langsung melayangkan tatapan tajam pada Rania yang berjalan mendekat.
Rania menyerahkan berkas yang diminta Aiden tapi tuannya itu hanya menerima dan langsung membanting berkas ke atas meja tanpa sempat melirik sedikitpun.
Kemudian tangan Aiden menepuk ruang kosong tepat di sampingnya dan berkata, "Duduk!"
Rania memaksakan diri untuk tetap tersenyum penuh hormat. Lalu menunjuk sofa yang ada di depan Aiden.
"Saya duduk di situ saja ya, Bos?"
Tatapan tajam Aiden semakin bertambah dingin dan menghunus saat Rania lebih memilih duduk di hadapannya. Bukan di samping, sesuai perintah Aiden.
"Aku perintahkan kau duduk di sini!" titah Aiden menampilkan wajah datar.
Rania menghela nafas. Mau tak mau dia pun berpindah tempat duduk menjadi di samping Aiden.
Tepat saat Rania menghempaskan diri di sofa, saat itu juga Aiden melingkarkan satu lengannya di pinggang Rania dengan begitu posesif.
Dan berhasil membuat pipi Rania semerah buah tomat.
"B-bos."
"Kenapa kamu berbohong?"
Dengan merasakan gugup yang melanda, Rania melirik Aiden yang kini mendekatkan wajahnya ke wajah Rania. Sontak membuat Rania panas dingin dan satu bulir peluh pun meluncur di kening.
Aiden terus mengikis jarak di antara dirinya dan Rania. Hingga sampai hidung mereka bersentuhan.
Rania menelan salivanya dengan susah payah sebab wajah tampan bosnya sekarang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
__ADS_1
"Bos, bisa tidak jangan sedekat ini?" kata Rania dengan polosnya.
"Jawab pertanyaanku! Maka aku akan menjauhkan wajahku."
"Pertanyaan yang mana, Bos?" Rania kembali bertanya.
"Jangan pura-pura bodoh!" bibir Aiden melengkung membentuk senyuman. "Atau kamu memang ingin berciuman denganku ya? Kamu menginginkannya lagi kan?"
Aiden memajukan wajah secara tiba-tiba. Namun, untung saja Rania berhasil menahan dada bidang Aiden untuk menghentikan aksinya.
Aiden menyeringai. Dilihatnya Rania yang salah tingkah membuat Aiden tertawa dalam hati.
Sedangkan di bawah sana, tangan Aiden semakin erat memeluk Rania. Seakan tak mau wanita itu pergi dari sisinya.
"Katakan, Rania! Kenapa kamu berbohong?"
"Aku tidak berbohong, Bos," Rania menghembuskan nafas. "Bos salah paham. Aiden Abimanyu yang aku maksud tadi bukan Bosku yang galak tapi Aiden teman masa kecilku dulu."
"Oh ya?" Aiden tersenyum penuh makna. Tahu kalau Rania berbohong. "Tapi bukankah kamu tidak mempunyai teman sama sekali ketika kecil?"
Sontak Rania tergugu. Dia menoleh cepat pada Aiden dengan mulut setengah menganga.
Rania tak menyangka Aiden tahu jika dirinya tak memiliki teman sewaktu kecil. Sekalipun ada teman, itu pun teman perempuan.
Rania sama sekali tak memiliki teman laki-laki. Dulu dia sering mendapat bullying karena penampilan culun dan tingkahnya yang ceroboh.
Sedangkan Aiden membuang muka berusaha untuk menyembunyikan senyuman tipis yang terukir di bibir.
Tentu saja dia tahu masa kecil Rania dari cerita Kirana. Ya, semenjak Aiden mengakui bahwa dirinya jatuh hati pada Rania, dia mengorek semua informasi gadis pujaan hatinya melalui sang ibu.
"S-siapa bilang? Aku punya teman kok," kilah Rania tapi berbicara dengan nada yang sedikit gamang serta mengingat-ingat kembali jumlah temannya sewaktu kecil.
Aiden berdecak kesal. "Dengar ya, Rania. Jangan bertele-tele! Jawab jujur saja, kalau kau mencintaiku!"
"Iya, oke. Aku memang mencintaimu, Bos. Tapi bukan berarti aku menerima lamaran dari Bos Aiden."
"Kalau kamu tidak mau menikah dengan pria yang kamu cintai, lalu kamu akan menikah dengan pria yang seperti apa?" Aiden bertanya dengan santai. "Seperti Abe?"
Rania langsung menggelengkan kepala serta mengibaskan tangannya.
"Tidak. Aku sudah menganggap Abc sebagai kakakku," jawab Rania tegas.
"Oh kalau begitu kamu mau menikah dengan pria seperti Carlos?"
"Apalagi dia. Tidak mau," Rania mengangkat bahu membuat gelagat bergidik ngeri.
Menjadikan senyum Aiden semakin lebar. Lantas dia menggenggam erat tangan Rania dan melabuhkan kecupan di telapak tangan.
__ADS_1
Sorot mata hangat terpancar hanya pada Rania. Tak ada lirikan ke arah lain sedikitpun.
Diperlakukan begitu lembut oleh Aiden, membuat tubuh Rania membeku di tempat. Dia tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa dia dengan mudah melupakan Aiden.
Meski dia bersikap cuek di hadapan pria itu. Tapi di dalam hati Rania masih tersimpan nama Aiden Abimanyu.
"Kalau begitu, menikahlah denganku, Rania. Aku bukan pria yang suka membuat banyak janji tapi akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu."
Rania melepaskan tangannya dari genggaman Aiden yang menjadikan pria itu menunduk kepala kecewa. Pasalnya untuk kedua kali dia ditolak oleh Rania.
Tapi detik berikutnya kening Aiden mengerut dan dia pun kembali mendongakkan kepala saat tangan Rania terjulur seolah meminta sesuatu.
"Mana?" tanya Rania singkat.
Sekilas Aiden melirik tangan Rania menengadah lalu beralih menatap wajahnya.
"Mana apanya?" Aiden bertanya menampilkan wajah kebingungan.
Sedangkan Rania berdecak kesal. "Kamu bilang mau melamarku, ya lalu mana cincinnya. Ayo pasangkan ke jariku!"
Rania menggerakkan telapak tangan dengan tidak sabar. "Ayo, pasangkan!"
Seketika itu senyum berkembang di bibir Aiden. Dia menatap Rania dengan mata berbinar untuk beberapa saat.
Segera dia meraba saku jas untuk mengambil cincin yang sempat dia tunjukan pada Rania.
Tapi mendadak raut wajah Aiden menegang kala tak menemukan cincin itu di dalam saku jas maupun saku celana. Berkali-kali Aiden menepuk-nepuk setiap saku di pakaiannya tapi kotak merah berisi cincin berlian tak ada di sana.
Kemudian Aiden berjalan ke meja kerjanya. Memeriksa setiap laci, bahkan sampai mengacak-acak semua dokumen yang berada di atas meja.
Cukup lama mencari, Aiden baru sadar jika cincin itu tertinggal di rumah. Sementara Rania yang sudah jengah menunggu Aiden pun bangkit dari duduknya.
"Lihat kan? Bos Aiden itu tidak serius dalam melamarku," gerutu Rania dan hendak berjalan pergi.
Namun Aiden secepat mungkin menyambar pergelangan tangan Rania untuk menahan wanita itu.
"Tunggu! Tanpa atau dengan cincin aku akan tetap menikahimu. Aku serius dengan ucapanku."
Rania berdecak dan menghempaskan tangan Aiden akan tetapi bosnya itu malah menarik pinggang Rania agar mendekat dan jatuh ke dalam dekapannya.
Aiden memeluk erat Rania serta melabuhkan kecupan singkat di bibir wanitanya yang mengerucut.
"Ehemm…Ehmm…"
Suara deheman membuat Aiden dan Rania tersentak kaget lalu bersama-sama memalingkan wajah ke orang yang telah berada di ambang pintu.
"Aiden, apa yang kau lakukan pada anak orang?"
__ADS_1