
Dua minggu kemudian.
Bahagia. Satu kata yang menggambarkan perasaan Rania saat ini. Sungguh seperti sebuah mimpi dia menikah dengan Bos nya sendiri.
Bibir Rania merekahkan senyum saat Aiden memasangkan cincin ke jari manisnya. Mulai detik ini dia resmi menyandang status sebagai Mrs. Aiden Abimanyu.
Tepuk tangan yang meriah dari para tamu menggema di ruangan ketika mereka menjadi saksi atas sepasang anak manusia yang baru saja mengucapkan janji suci.
Lalu tanpa aba-aba, Aiden langsung melabuhkan kecupan di bibir Rania yang sontak membuat wanita itu terperanjat dan memukul dada Aiden.
Semua orang tertawa melihat tingkah pengantin baru yang sepertinya sudah tidak sabar melewatkan malam pertama.
Dengan pipi semerah buah tomat karena malu, Rania mengedarkan pandangan mencari keberadaan ayah dan ibunya.
Ternyata Ajeng dan Raden duduk bersebelahan sambil bertepuk tangan tertawa pada Rania.
Rania pun membalas dengan mengulas senyum. Dari kacamata Rania, hubungan kedua orang tuanya kini mulai membaik.
Meski Rania belum mendengar kata rujuk, tapi setidaknya melihat dua orang tuanya akur saja sudah membuat hari pernikahan Rania semakin lengkap.
"Sayang, bersiaplah! Nanti malam, aku akan menerkammu," bisik Aiden di depan daun telinga Rania.
Tentu saja, Rania tercengang mendengar ucapan pria yang baru beberapa menit menjadi suaminya.
"Bos."
"Hum."
"Bos, kanibal ya?" Rania bertanya memasang wajah polos.
Menjadikan dahi Aiden mengerut hingga tiga lipatan. "Apa maksudmu?"
"Bos tadi bilang, ingin menerkamku?"
"Astaga," Aiden mendesah frustasi sambil memijat pangkal hidungnya. "Ah lupakan saja."
Hari beranjak menuju malam, acara pernikahan Aiden dan Rania pun selesai.
Sepasang pengantin baru itu sekarang sudah berada di kamar hotel untuk menjalani momen malam pertama yang pastinya akan mereka kenang sampai tua nanti.
Masing menggunakan pakaian pesta, Aiden dan Rania duduk di tepi ranjang yang sudah dihiasi bunga-bunga mawar merah. Keduanya sama-sama canggung berada di situasi di mana mereka hanya ada mereka berdua di dalam kamar.
Padahal ketika bekerja, Aiden dan Rania juga sering berada di dalam ruangan yang sama tapi kali ini rasanya berbeda.
Rania berdeham untuk memecahkan keheningan yang tercipta. Lalu dia bangkit berdiri.
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya?"
__ADS_1
Aiden menganggukan kepala dan tersenyum penuh arti. "Jangan lupa pakai lingerie merah ya, Sayang!"
Rania tertawa sumbang. Meski sudah resmi menjadi istri tapi tetap saja terasa canggung jika Aiden membahas tentang urusan ranjang.
Dia pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, melepas gaun pernikahan karena Rania sudah tak tahan oleh hawa gerah yang menyerang.
Namun, tepat saat itu, Rania memekik begitu manik matanya menangkap noda merah yang membekas di pakaian dalam.
*
*
*
Dua puluh menit dilalui Aiden dengan berbaring di ranjang menunggu Rania keluar dari kamar mandi.
Terdengar kucuran air shower masih menyala. Pertanda Rania masih membersihkan badan di dalam sana.
"Ck, lama banget sih," gerutu Aiden memandang pintu kamar mandi.
Kemudian terlintas oleh Aiden untuk masuk saja ke dalam dan mandi bersama istrinya.
"Toh, aku dan Rania sudah resmi menjadi suami istri. Ah, kenapa tidak kepikiran sejak tadi?"
Aiden pun bangkit, melepas jas dan juga kemeja yang melekat di tubuhnya. Dengan bertelanjang dada serta menyisakan celana panjang, Aiden masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, tepat saat itu juga, Rania mematikan kran air. Lalu membungkus tubuh polosnya dengan bathrobe berwarna putih.
Rania mengangguk. Lalu berniat melangkah keluar tapi tangan Aiden menahannya.
"Tunggu!" kata Aiden yang membuat Rania mendongak menatap sang suami.
"Ada apa, Bos?"
"Mandikan aku!"
"Hah?"
Aiden mengangguk cepat sambil menyunggingkan senyuman. Tapi Rania malah mendorong dada Aiden sehingga pria itu mundur satu langkah.
"Yang benar saja, Bos. Masa sudah sebesar ini masih dimandikan," Rania mendengus. "Seperti anak kecil saja."
Aiden berdecak. Dia memeluk Rania tak peduli badan wanita itu masih basah dan dingin.
"Mandikan aku sambil kita pemanasan."
Kening Rania mengerut tanda dia sedang dilanda kebingungan.
__ADS_1
"Bos sebenarnya mau mandi atau mau olahraga. Pakai acara pemanasan segala," sungut Rania.
Dengan segenap kesabaran yang ada Aiden menghirup nafas dalam. Kemudian menghembuskannya melalui mulut.
"Maksudku, kita mandi sambil membuat anak."
"Oh itu. Bilang dong dari tadi," Rania terkekeh seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Bagaimana mau kan?" Aiden bertanya untuk meminta izin meski tangannya sudah nakal meraba bagian dalam bathrobe.
Tubuh Rania mengeliat merasakan sensasi geli yang menggelitik tapi juga nikmat.
Melihat Rania menikmati sentuhannya, Aiden menarik salah satu ujung bibirnya. Lalu dikecupnya bibir Rania yang sekarang menjadi candu bagi Aiden.
"Bos, sepertinya kita harus tunda dulu membuat anak."
"Kenapa?" tanya Aiden heran.
Rania menggaruk kepala sambil tersenyum canggung. Jujur, Rania malu harus mengatakannya pada Aiden. "Hmm itu… anu… aku… aku sedang…"
"Apa, Sayang? Katakan!" ucap Aiden lembut, meski di dalam hati dia sudah tidak sabar.
"Tanggal merah," sahut Rania lirih.
Gurat kebingungan semakin jelas tercetak di wajah Aiden. Dia menatap Rania yang tersenyum malu-malu.
"Iya, aku tahu ini tanggal merah. Lalu kenapa? Apa hubungannya dengan kita yang akan membuat anak? Memangnya membuat anak sama seperti kita bekerja di kantor yang libur di setiap tanggal merah?" Aiden mencecar pertanyaan mencurahkan segala kebingungannya.
Dan Rania menepuk jidat mendengar Aiden melontarkan sederat pertanyaan konyol.
"Bos, maksud aku…." sejenak Rania menghirup nafas untuk menyiapkan mental. "Aku sedang menstruasi."
"Apa? Serius?" pekik Aiden terperanjat.
Rania menjawab dengan menganggukan kepala. Dia menggigit bibir bawah berharap Aiden tidak kecewa.
Rania menatap Aiden yang mengulas senyum tipis. Lalu tangan kekar Aiden mengusap puncak kepalanya.
"Maaf, Bos. Bos pasti kecewa," kata Rania menunduk.
"Siapa bilang? Dan untuk apa kamu minta maaf. Lagipula kita masih punya banyak waktu."
Rania mendongak untuk dapat melihat ekspresi wajah Aiden. Pria itu memasang wajah datar sehingga Rania tak tahu apa yang sedang dirasakan suaminya.
"Ya sudah sana! Pakai baju. Nanti malah kamu sakit."
Rania menganggukan kepala, lalu melangkah melewati Aiden.
__ADS_1
Sepeninggalan Rania, Aiden mengacak rambut frustasi. Dia menyalakan kran air agar Rania tak mendengar dirinya kini sedang menggeram kesal.
"Sial. Kenapa ini harus terjadi di malam pertamaku?"