My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
44 Rencana Vincent


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan setelah Aiden berkunjung ke rumah Rania dan tak ada kabar apapun dari lagi pria itu. Membuat Rania menelan kecewa dan menyimpulkan mungkin saja Aiden telah menyerah untuk memperjuangkannya.


Untuk mengalihkan kesedihan, Rania bekerja di kantor Raden dengan sebaik yang dapat Rania lakukan. 


Seperti sekarang ini dia duduk di kursi kerjanya menghadap ke tumpukan berkas. Posisi Rania sebagai wakil direktur memanglah cukup menantang untuk dirinya yang baru berkecimpung di dunia kerja.


Tapi Rania tak patah semangat. Bekerja membuat fokusnya teralihkan dari rasa sakit hati yang melanda.


Rania bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri meja kerja Raden. Dia menyerahkan berkas untuk diteliti ileh sang ayah.


"Menurut Ayah, bagaimana?" tanya Rania.


Raden membaca berkas itu dengan seksama. Namun, tiba-tiba Raden mendongak menatap Rania.


Menjadikan orang yang ditatap mengerutkan wajah heran.


"Ada apa, Ayah?" 


Selama sebulan ini hubungan Rania dan Raden memang masih terlihat cukup dingin untuk seukuran anak dan ayah.


Tapi sejujurnya, Rania sudah tidak menyimpan marah atau bahkan kecewa pada Raden. Sebab dengan tinggalnya dia di Belanda juga ada sisi positif.


Rania menjadi memiliki banyak pengalaman kerja dan dia juga menjadi tahu kalau Aiden bukan pria yang mau memperjuangkannya.


Rania mengira Aiden akan tetap datang ke rumah untuk berusaha mendapatkan restu dari Raden. Tapi nyatanya setelah hari itu, Aiden tak kembali bahkan memberi kabar pun tidak.


"Kamu terlihat lelah, Rania," ucap Raden setelah lama menatap wajah putrinya.


"Aku?" Rania menunjuk dirinya sendiri. "Aku baik-baik saja, Ayah."


"Apa kamu ingin pulang ke Indonesia?"


Rania tercekat sekaligus heran setelah mendengar pertanyaan Raden. Sampai dia tergagap tak mampu berkata apa.


Rania hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku betah di sini kok, Yah. Aku sudah bisa menerima keadaan dan melupakan Aiden."


Kini giliran Raden yang mengerutkan dahi terheran. 


Bagaimana bisa Rania melupakan Aiden? Padahal mereka akan menikah sebentar lagi, pikir Raden.


Pria bertubuh tambun itu membuka mulut hendak berbicara tapi tepat saat itu juga, dering telepon mengalihkan perhatian Rania dan Raden.


Segera Raden mengangkat telepon dari salah satu rekan bisnisnya. Sementara Rania memutuskan untuk pergi dari ruangan begitu melihat Raden mendapat telepon yang sepertinya dari orang penting.


Ketika keluar dari pintu, Rania berpapasan dengan Vincent. Pandangan ke duanya bertemu tapi secepat mungkin Rania memutuskan pandangan dengan cara mengalihkan ke arah lain.


"Kamu mau siang, Rania?" 

__ADS_1


Vincent bertanya pada Rania yang kini sudah tak lagi memakai embel-embel nona saat menyapa.


Rania menggelangkan kepala sebagai jawaban.


"Kenapa? Ini kan sudah jam makan siang. Kalau mau, aku akan antar kamu."


"Tidak. Terima kasih, Vin. Aku masih banyak pekerjaan."


Vincent menghela nafas. Sebelum Rania melangkah pergi dia menyampatkan bertanya, "Apa kamu sering bertukar kabar dengan Aiden?"


Rania terheran. Setelah mendengar pertanyaan dari Raden kini untuk kedua kalinya, dia juga terheran dengan pertanyaan dari Vincent.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa," Vincent tersenyum lebar. "Aiden itu tampan ya?"


Dahi Rania semakin berkerut, bahkan kini mulutnya setengah menganga.


Dia sangat heran dan tak mengerti Vincent bertanya seperti itu. Namun, tekad Rania yang ingin melupakan Aiden, membuat wanita itu hanya mengangkat bahu.


"Ya, begitulah," jawab Rania santai lalu memilih pergi meninggalkan Vincent.


*


*


*


Tatapan Aiden tertuju pada layar yang menampilkan grafik dan angka-angka. Namun, pikiran Aiden bercabang pada pernikahannya dengan Rania.


Ya, pada saat dia menemui Raden. Pria itu menyetujui hubungan Rania dengan Aiden, asalkan Rania harus tetap tinggal di Belanda sebelum resmi menjadi istri Aiden.


Raden dan Aiden bahkan selalu berkomunikasi seputar pembahasan pesta pernikahan. Hanya saja Raden tidak mengatakan pada Rania karena mengira Rania sudah diberitahu oleh Vincent.


Sementara Aiden tidak mengabari Rania sebab dari yang Abe katakan, sepasang calon pengantin tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan tiba.


Entah apa yang dikatakan Abe itu benar atau tidak, Aiden lebih memilih untuk tidak memberi kabar sama sekali pada Rania.


Ditakutkan dirinya tak dapat menahan rasa rindu. Jadi Aiden memutuskan untuk menyibukan diri pada pekerjaan kantor.


Aiden menghembuskan nafas lega saat rapat berakhir. Jujur, dia sangat tidak fokus pada rapat hari ini.


"Abe." 


"Iya, Bos."


"Siapkan penerbangan ke Belanda untuk besok hari!"

__ADS_1


"Siapa yang akan ke Belanda, Bos?"


Aiden melayangkan tatapan tajam pada Abe dan dengan nada ketus dia berkata, "Tentu saja, aku. Siapa lagi?"


"Tapi, Bos. Kata orang tua saya, kalau orang mau nikah itu tidak boleh bertemu…"


"Iya iya, aku juga tahu," ucap Aiden memotong ucapan Abe. "Tapi aku harus bertemu dengan Rania secepatnya. Meski pesta pernikahan sudah disiapkan, tapi aku ingin Rania memilih sendiri gaun yang akan dia pakai."


Bibir Abe mengerucut melirik Aiden. Lalu bergumam, "Bilang saja, sudah tidak bisa menahan rindu."


"Kamu bilang apa tadi?"


Abe menggelengkan kepala. "Tidak, Bos."


Melihat manik mata Aiden yang menyorot tajam, buru-buru membuat Abe mencari topik pembahasan yang lain.


"Jadi, apa kita akan memberitahu Rania kalau Bos akan pergi ke Belanda?"


"Tidak usah. Aku ingin memberikan Rania kejutan."


*


*


*


Hari yang tunggu Aiden pun tiba. Hari di mana dia menapakan kaki di negeri angin kincir untuk menemui calon istrinya.


Kali ini dia tidak ditemani Abe. Melainkan dia datang sendiri, sebab Abe sudah ditugaskan untuk memegang pekerjaannya selama dia pergi ke Belanda.


Aiden langsung menuju rumah Rania. Namun, lagi-lagi dia disambut oleh Vincent.


"Aku ingin bertemu Rania," ucap Aiden to the point.


"Rania dan Tuan Raden sedang pergi," ucap Vincent sambil meneliti penampilan Aiden dari bawah sampai ke atas.


Sesaat Aiden merasa risih dengan tatapan Vincent itu. Bagaimana tidak? Tatapan Vincent yang dilayangkan pada Aiden terlihat seperti tatapan penuh damba seseorang pada kekasihnya.


"Dengar, Vin! Aku tidak mau ada baku hantam lagi di antara kita. Jadi biarkan aku masuk dan menunggu Rania di dalam."


Vincent menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seringai. Lalu dia menggeser tubuhnya agar tercipta ruang kosong yang cukup untuk Aiden lewati.


"Silahkan," kata Vincent sambil menatap intens Aiden. "Tapi di rumah ini tidak ada siapa-siapa. Kamu yakin ingin menunggu di dalam."


"Aku yakin," jawab Aiden tegas dan kemudian langsung melangkah melewati tubuh Vincent untuk masuk ke dalam rumah.


Sementara Vincent tersenyum penuh arti saat menutup pintu serta menguncinya.

__ADS_1


"Perjalanan ke sini pasti sangat melelahkan. Apa kamu mau minum?" Vincent bertanya dengan menatap lekat pada setiap jengkal tubuh Aiden yang kini duduk bersandar di sofa.


"Boleh," jawab Aiden santai tanpa mencurigai apa yang tengah Vincent rencanakan.


__ADS_2