
"Rania."
Aiden memeluk Rania di saat rapat selesai dan hanya ada mereka di ruangan itu. Tangan Aiden semakin mengerat membawa tubuh Rania jatuh ke dalam dekapannya.
Hingga Aiden dapat mencium aroma bunga yang masuk ke hidungnya saat dia menghirup nafas di ceruk leher Rania.
Sementara Rania sendiri tampak terperangah, wajahnya memerah akibat campuran perasaan bahagia dan tersipu malu. Pelan-pelan wajah Rania semakin memerah sebab dia kehabisan nafas.
"B-bos," ucap Rania tersengal.
Begitu tersadar, secepat mungkin Aiden melepas pelukan. Dia terlihat salah tingkah. Sama halnya dengan Rania yang menunduk mengiris malu.
"Bos, sebaiknya kita pulang."
Rania berniat melangkah tapi tangannya dicekal oleh Aiden.
"Rania, terima kasih."
Rania tersenyum. Pasalnya baru pertama kali ini dia melihat Aiden bersikap lembut.
Ternyata Aiden yang selama ini galak pada Rania, bisa juga mengucapkan kata terima kasih dengan raut wajah yang tulus.
Rania tersenyum manis. Berusaha untuk tidak besar kepala dan tetap merendah.
"Jangan berlebihan, Bos! Aku kan hanya menjalankan tugas."
Aiden menarik nafas panjang dan mengeluarkannya melalui mulut. Dia maju satu langkah dengan tatapan yang tak lepas sedekit pun dari wajah Rania.
Lalu satu tangan Aiden mengusap pinggang Rania.
"Sebagai reward atas performa kerjamu yang semakin bagus, aku akan memberikanmu satu permintaan," kata Aiden bersungguh-sungguh.
Seketika Rania terkekeh mendengar ucapan Aiden. Tapi Aiden sendiri mengerut heran kenapa sekretarisnya itu tiba-tiba tertawa.
"Kenapa?"
"Bos seperti jin yang baru keluar dari lampu ajaib saja," seloroh Rania.
Bibir Aiden melengkung membentuk senyum tipis.
"Aku serius. Kamu mau minta apa? Aku akan berusaha mengabulkannya untukmu."
__ADS_1
Rania menggaruk kepala yang tidak gatal. Sesaat wajahnya mengerut tampak sedang berpikir.
"Bos yakin akan mengabulkan apapun permintaan aku?" Rania sekali lagi bertanya untuk memastikan jika Aiden tidak sedang bercanda.
Aiden hanya mengangguk sebagai jawaban.
Namun membuat manik mata Rania menyipit curiga.
"Benarkah? Sungguh? Apapun yang aku mau?" Rania mencecar pertanyaan yang menjadikan Aiden jengah.
"Iya benar, sungguh, aku tidak main-main. Semua. Apapun yang kamu mau akan aku kabulkan," ucap Aiden yang geram pada Rania.
Padahal baru beberapa menit yang lalu Aiden terkesima akan perubahan Rania tapi ternyata wanita itu kembali ke mode menyebalkan dan merepotkan.
Lalu Aiden mengacungkan jari telunjuk membentuk angka satu. "Tapi hanya ada satu permintaan."
Aiden menarik nafas panjang. Mengisi paru-parunya dengan udara dan juga kesabaran yang tiada tara.
Sementata itu, Rania mengetuk-ketukan jari telunjuk ke dagu. Sambil matanya menerawang ke atas.
Selang beberapa menit, Rania membulatkan mata dan melebarkan senyum.
"Bos aku mau…"
*
*
*
"Apa? Rapat itu berjalan dengan lancar?" Bella terperangah kala mendengar laporan dari orang suruhannya.
Dia menggeram kesal. Lalu segera mematikan telepon itu.
Manik mata Bella membola mengisyaratkan kemarahan yang berapi-api. Nafasnya menggebu selaras dengan detak jantung yang berdetak di atas normal.
Tepat saat itu, pintu ruangan terkuak terbuka dengan Rania yang berdiri di ambang pintu.
Rania berdiri memandang tanpa ekspresi pada Bella. Berbeda dengan Bella yang membalas tatapan dengan tajam.
"Kamu dipanggil Bos Aiden," kata Rania singkat.
__ADS_1
Mendadak jantung Bella menjadi berdegup kencang tak menantu. Dia memiliki perasaan yang tidak enak.
Dan perasaan itu semakin tidak mengenakan di setiap langkah menuju ruangan CEO. Terlebih begitu Bella masuk, sorot mata Aiden langsung memancarkan aura yang mencekam.
Bella menelan saliva sebelum akhirnya dia berkata, "Ada apa Tuan memanggil saya?"
"Hari ini juga kemasi barang-barangmu dan besok kamu tak perlu lagi bekerja di sini," ucap Aiden dengan tatapan dingin yang mampu membuat Bella kelabakan.
"T-tapi apa salah saya, Tuan?" Bella bertanya pura-pura tidak tahu.
Bibir Aiden menyeringai. "Bukankah kamu sudah tahu apa kesalahanmu? Jangan berpura-pura, Bella!"
Bella menggeleng kepalanya dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Dan manik mata Bella membola akibat dirinya yang semakin terpojokan.
"Saya tidak tahu, Tuan. Sungguh."
"Jangan bohong! Aku tahu kamu yang membuat berita palsu dan mempengaruhi para investor. Ya meski bukan kamu yang turun tangan secara langsung, tapi aku tahu kamu lah otak di balik semua kekacauan ini."
Bella maju satu langkah dengan tangan terkepal. Bagaimanapun juga dia harus membuat Aiden percaya padanya. "Tuan, jangan menuduh tanpa adanya bukti!"
"Kamu ingin aku membuktikannya?" tanya Aiden menantang. "Kamu hanya membuang waktuku saja."
"Tuan Aiden."
"Mulai detik ini juga kamu dipecat secara tidak hormat dari Irawan Group atas kecerobohan membocorkan rahasia perusahaan dan membuat berita palsu yang hampir merugikan Irawan Group."
Bella diam mematung di tempat. Dadanya naik turun akibat nafas yang tersengal menahan amarah.
Dia tak percaya. Jebakan yang harusnya mengenai Rania malah berbalik arah padanya.
Sedangkan Aiden masih menatap tajam pada Bella yang kini menundukkan kepala. Melihat Bella yang tidak kunjung angkat kaki dari ruangannya, Aiden menelepon security untuk menarik paksa wanita itu.
Dengan menahan malu, Bella melirik ke semua orang yang memandangnya dengan tanda tanya besar di kepala.
Semua orang saling berbisik akan apa yang telah terjadi pada sekretaris Bella. Namun mereka bisa langsung menyimpulkan bahwa Bella dipecat oleh Tuan Aiden.
Bella menghempaskan tangan security saat dia sudah berada di depan gerbang. Dia menjejakkan kaki penuh amarah mendapati dirinya dipermalukan oleh semua orang.
"Awas saja, Tuan Aiden. Aku pasti akan membalas perbuatanmu."
__ADS_1