My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
35. Will You Marry Me?


__ADS_3

"Uncle!" pekik Aiden tatkala melihat pamannya yang bernama Nakula berdiri dengan senyum lebar.


Seketika Rania berusaha membebaskan diri dari pelukan Aiden. Dia menunduk mengiris malu, kemudian pamit undur diri dari ruangan.


Sedangkan Aiden hanya mendengus kesal sebab Nakula telah merusak suasana romantis yang terjadi di antara dia dan Rania.


Nakula pun duduk di sofa sambil meletakan sebuah paper bag ke atas meja. Dia menoleh pada keponakannya yang kini berkacak pinggang.


"Mau apa Uncle kemari?"


"Uncle ada janji bertemu dengan orang tuamu," jawab Nakula sambil manik matanya menelisik penjuru ruangan. "Ruangan ini tidak banyak berubah yah?"


Tak lama, pintu pun kembali terbuka yang kemudian masuklah kedua orang tua Aiden, Kirana dan Raka.


Kirana  bar cipika-cipiki dengan Nakula tapi tidak dengan Raka yang lebih memilih duduk dengan tatapan kesal memandang sang istri begitu dekat dengan adiknya.


Ketiga orang dewasa itu duduk di sofa saling berbasa-basi yang membuat Aiden memutar bola mata malas dan berniat meninggalkan ruangan untuk mencari Rania.


Namun, tepat saat itu juga Kirana memanggil Aiden dan menyuruh putranya itu untuk ikut bergabung.


Mau tak mau Aiden pun menurut, dia duduk di sebelah Nakula lalu memandang wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Ada apa, Mom?"


"Begini, Aiden. Mom dan Daddy akan terbang ke Jepang beberapa jam lagi, jadi Mom minta tolong kamu jemput adikmu, Alshaka, di stasiun kereta api pukul empat sore nanti," terang Kirana sambil melirik jam tangan.


Aiden hanya menghela nafas lesu sambil memutar bola matanya, dan dia pun menjawab dengan suara tak bersemangat, "Memang tidak ada pelayan yang menjemput Alshaka?"


"Kamu turuti saja perintah ibumu, Aiden. Jangan banyak membantah!" kata Raka memandang sinis pada anaknya sendiri.


Kembali Aiden menghela nafas. Lalu menggerutu pelan, "Selalu saja begitu."


Sedangkan Nakula yang melihat keluarga kecil di depannya hanya bisa tertawa. Lalu dia mengalihkan pandangan pada Kirana.


"Kamu tahu, tadi aku memergoki Aiden mencium seorang pegawai."


"Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah," ucap Raka menyeringai pada Nakula. "Dulu kamu sering mengganggu kami saat berciuman. Sekarang anakku juga kamu ganggu."


Nakula terkekeh pelan. Mereka bertiga melanjutkan obrolan. Ya hanya bertiga. Nakula, Kirana, dan Raka.


Aiden sendiri memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Sampai akhirnya pembicaraan mereka selesai dan Aiden pun menghembuskan nafas lega.


Kirana dan Raka lebih dulu meninggalkan ruangan, lalu disusul oleh Nakula. Namun tepat saat Nakula berada di ambang pintu, dia memutar badan.

__ADS_1


"Oh ya, aku lupa. Ada sesuatu untukmu," Nakula menunjuk paper bag yang tadi dia bawa dan diletakan di atas meja.


Aiden menyambar paper bag dan melongok isinya. "Apa ini?"


"Hanya jam tangan yang Uncle pesan khusus untukmu," ucap Nakula santai sebelum akhirnya dia pergi.


Aiden merogoh dan mengeluarkan isi dalam paper bag yang ternyata sebuah kocak pergesi berwarna hitam. Manik mata Aiden berbinar ketika melihat sepasang jam tangan tersimpan di dalam kotak.


Dua jam tangan mewah berwarna emas itu memberikan Aiden sebuah ide. Dia menyeringai tipis lalu bergegas pergi mencari Rania.


Tak butuh waktu lama, sebab Aiden tahu Rania pasti berada di dalam ruangannya tapi saat Aiden mengayunkan daun pintu, wanita yang dicarinya tak ada di tempat.


"Kemana perginya, Rania?"


Aiden mencoba menghubungi Rania tapi saat itu juga dia mendengar bunyi ponsel di atas meja kerja. Membuat Aiden mendesah kecewa karena Rania pergi tanpa membawa ponselnya.


"Sial. Kenapa dia ceroboh sekali meninggalkan ponsel di sini?"


Tak mau menyerah, Aiden menghubungi Abe untuk mencari keberadaan Rania.


"Rania, sedang makan siang di the firt resto, Tuan," lapor Abe melalui sambungan telepon.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Aiden bertanya dengan perasaan curiga.


Hening sejenak. Di ujung telepon sana, Abe sedikit bimbang untuk berkata kalau Rania ada bersamanya.


"Jadi… begini, Bos… aku…"


"Ah, sudahlah. Bicara saja lama," ketus Aiden yang segera mematikan telepon dan segera berlari ke restoran di mana Rania makan siang.


Sementara Abe langsung memasukan ponsel ke dalam saku. Dia menarik nafas, lalu menoleh kanan kiri.


Memastikan Rania yang sedang berada di toilet tidak melihatnya kabur secara diam-diam. Abe lebih memilih melakukan langkah kaki seribu dari pada kepergok Aiden sedang makan siang bersama Rania.


Bisa dipastika Aiden akan cemburu buta padanya. Padahal Rania sendiri yang meminta untuk ditemani makan siang. Wanita itu ingin curhat mengenai dia yang menerima lamaran Aiden.


Kemudian saat keluar dari toilet, Rania tak melihat keberadaan Abe di tempat duduk. Menjadikan Rania mengernyit bingung akan kemana perginya si asisten pribadi itu.


Tepat ketika Rania memutat badan untuk mencari Abe, dia menabrak seseorang yang membuatnya terpental beberapa langkah ke belakang.


"Aw," ringis Rania mengusap dahinya yang sakit.


Lantas dia mendongak menatap orang yang baru saja ditabraknya untuk meminta maaf. Tapi dia justru membelalakan mata dengan wajah yang tegang karena orang itu adalah Aiden.

__ADS_1


"B-bos,"


"Rania," Aiden bersimpuh seketika itu di depan Rania.


Dan tindakan Aiden menjadikan dia pusat perhatian. Semua pengunjung di restoran itu tahu akan apa yang terjadi.


Seorang pria akan melamar kekasihnya, pikir mereka.


Tapi Rania yang terlihat bingung, malah ikut bersimpuh dengan manik mata yang menelisik ke tiap jengkal tubuh Aiden.


"Bos, kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Rania dengan begitu polos.


Aiden berdecak kesal. Di saat dirinya ingin melakukan sesuatu yang romantis, Rania justru sangat tidak peka.


"Berdiri!" bisik Aiden.


"Hah? Apa, Bos?" 


Aiden mendesah frustasi. Merasa kondisinya kurang pas, dia pun menarik lengan Rania untuk membawanya ke luar restoran dan masuk ke dalam mobil.


Aiden langsung mengeluarkan kotak berisi jam tangan couple pemberian Nakula. Lalu menyerahkan pada Rania.


"Will you marry me?" tanya Aiden.


Rania tersenyum simpul, lalu menoleh pada Aiden. "Kenapa Bos masih mempertanyakan itu lagi? Bos kan sudah tahu jawabannya."


"Aku ingin membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh."


Rania semakin melebarkan senyum. Pasalnya dia hanya sekedar bercanda saat mengatakan kalau Aiden tidak serius melamarnya tapi yang dia dapati Aiden membuktikannya dengan memberikan sebuah jam tangan.


Ya, meskipun pada umumnya seorang pria melamar dengan cincin tapi kali ini Aiden mengikat Rania dengan jam tangan.


Tapi itu semua tidak masalah bagi Rania.


"Bisakah Bos pasangkan ini untukku?" 


Dengan senang hati Aiden memasangkan jam tangan model wanita ke pergelangan tangan Rania. Kemudian sebaliknya, Rania juga memasangkan jam tangan pada Aiden.


Mereka berdua sama-sama mengulum senyum sambil menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangan  mereka.


"Jam tangan ini semakin terlihat bagus saat kita perpegangan tangan," gumam Aiden yang kini menggenggam erat tangan Rania.


"Aku mencintaimu, Rania,"

__ADS_1


Cup.


Satu kecupan mendarat di kening Rania. Menjadikan semburat warna merah langsung merona di pipinya.


__ADS_2