
Aiden memesan kamar hotel yang jaraknya tidak jauh dari kantor Irawan Group. Alasannya agar besok pagi Rania bisa langsung berangkat bekerja.
Aiden memapah Rania yang setengah sadar menuju kamar. Sepanjang kaki mereka melangkah, Rania terus saja meracau tidak jelas.
Menjadikan Aiden dan Rania pusat perhatian bagi orang yang berpapasan dengan mereka. Aiden pun berdecak kesal dan menyeret Rania untuk mempercepat langkah.
Sesampainya di kamar, Aiden langsung menghempaskan tubuh Rania ke atas ranjang. Dia menghela nafas sekaligus melonggarkan dasi yang terasa mencekik di lehernya.
"Kau itu merepotkan saja," desis Aiden geram.
Lalu dirogohnya saku jas untuk mengambil ponsel. Aiden menghubungi Ajeng bahwa Rania ada tugas lembur dan akan menginap di kantor.
Ya, Aiden terpaksa berbohong pada Ajeng agar ibu Rania itu tidak perlu khawatir.
Setelah Aiden selesai menghubungi Ajeng, Rania yang terbaring di atas ranjang menggeliat dan bangun terduduk. Dia mengerjapkan mata, menyapu pandangan ke sekeliling.
Namun, detik berikutnya, dia mengerutkan dahi kebingungan, sebab penglihatannya masih buram tidak jelas dia berada di mana.
Kemudian tatapan Rania tertuju pada sosok pria yang tadi menyeretnya di club malam. Rania yakin begitu melihat jas hitam yang dipakai pria itu.
Meski wajah si pria tidak jelas oleh penglihatan Rania.
"Abc, kamu membawaku ke mana?" Rania bertanya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. "Aku ada di mana sekarang."
"Rania, beristirahatlah! Besok kamu harus bekerja."
Aiden mendorong dengan perlahan bahu Rania supaya wanita itu kembali membaringkan diri. Lalu menarik selimut untuk menutupi gaun pesta berwarna biru yang dipakai Rania.
"Hai, kenapa suaramu jadi mirip seperti si bos galak Aiden?"
Seketika Aiden membelalakan mata. Lagi-lagi dia mendengar Rania menyebutnya dengan julukan bos galak.
Menjadikan Aiden berpikir, mungkinkah selama ini perlakuannya terhadap Rania terlalu berlebihan.
"Si bos galak Aiden?"
"Ya, bos kita yang galak, menyebalkan, sombong dan…" Rania tampak berpikir. "Dan apa lagi ya?"
"Dan tampan," kata Aiden menambahkan dengan percaya diri.
"Dan sayangnya, aku sulit untuk melupakannya," ucap Rania bernada sedih.
Mendengar hal itu, seketika mata Aiden berbinar. Bibirnya mengulum senyum, lalu dia bertanya, "Benarkah?
Dengan tatapan mata kosong, Rania menganggukan kepala. Dia tampak tengah merenung. Berbeda dengan Aiden yang kini melebarkan senyuman.
"Tapi bukankah kamu berpacaran dengan Carlos?"
"Carlos? Oh, pria itu." Rania memiringkan tubuh mencari posisi yang nyaman untuk tidur. "Loretha bilang, aku harus membalas perbuatan Aiden dengan cara membuatnya cemburu melihat aku bersama Carlos."
"Apa? Ulangi sekali lagi!" pekik Aiden terperangah.
Tak ada sahutan dari Rania. Yang ada hanyalah suara deru nafas yang melambat.
Aiden memiringkan kepala untuk melihat wajah Rania yang ternyata sudah terlelap dengan tenang.
Entah kenapa ada perasaan lega dalam diri Aiden begitu menyadari masih ada perasaan cinta terpendam Rania untuknya.
Perlahan Aiden mendekatkan wajah mengikis jarak antara dia dan Rania.
__ADS_1
Saat ini perasaan bahagia yang membuncah membuat Aiden sangat ingin melabuhkan kecupan di bibir sekretarisnya itu.
Namun, tepat saat bibir keduanya hanya berjarak satu sentimeter, Aiden segera memundurkan kepalanya menjauh dari Rania, sebab hidung Aiden menangkap bau alkohol yang sangat menyengat.
Aiden berdecak dan mengumpat kesal. Lalu memilih untuk mendaratkan kecupan singkat di kening Rania.
Setelah membenarkan letak selimut, Aiden beranjak keluar dari kamar hotel.
*
*
*
Rania menggeliat di bawah selimut tebal. Dia mengerjapkan mata, dan detik berikutnya dia terlonjak kaget sampai bangun terduduk menyadari dirinya berada di kamar yang tampak asing baginya.
Rania menyapu pandangan ke sekeliling dan dapat disimpulkan sekarang ini dia sedang berada di sebuah kamar hotel.
"Tapi siapa yang membawaku kemari? Mungkinkah Carlos atau Abc? Kalau Bos Aiden mana mungkin."
Rania menyibak selimut menunduk memandang gaun biru yang masih melekat di tubuhnya. Lalu menyambar tas untuk mencari ponsel.
Rania panik setengah mati sebab tadi malam Ajeng pasti mengkhawatirkannya yang tidak pulang ke rumah.
Tepat saat Rania menemukan ponselnya, satu panggilan masuk dengan nama 'Bos Galak' terpampang di layar. Lantas Rania pun langsung mengangkat telepon.
"My geeky secretary," panggil Aiden. "Kamu sudah bangun?"
"Sudah, Bos."
"Cepat mandi dan temui aku di lobby!"
"Jangan banyak tanya! Waktumu hanya tujuh menit."
"Tapi, Bos."
"Dimulai dari sekarang!" seru Aiden.
Tut.
Aiden menutup telepon tak mau mendengarkan protes dari Rania.
Semantara di dakam kamar, Rania kelimpungan. Dia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri secepat yang dia bisa dan memakai kembali gaun biru yang semalam.
Tak mau berlama-lama, Rania melesat keluar tanpa perlu berdandan terlebih dahulu. Berjalan setengah berlari menuju lift
Lalu sesampainya di lobby, Rania menghampiri Aiden yang berdiri sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"B-bos," kata Rania tersengal.
"Kamu terlambat 4 menit 56 detik," kata Aiden datar tanpa ekspresi.
Bagaimana tidak terlambat kalau bos saja hanya memberiku waktu 7 menit? Gerutu Rania dalam hati.
Aiden menyerahkan paper bag berisi satu stel pakaian kerja wanita plus **********.
"Kembali ke kamar dan pakai ini!"
"Maksudnya saya harus pakai kantong kertas ini, Bos? Mana bisa? Tidak akan muat."
__ADS_1
Aiden menghela nafas, mencoba untuk bersabar menghadapi sekretarisnya yang polos.
"Bukan pakai kantong kertas tapi isinya, Bodoh."
Rania hanya beroh pelan, menerima paper bag dan berjalan santai kembali menuju kamarnya.
Tak lama Aiden berseru, "Waktumu hanya lima menit."
Sontak Rania membalikkan badan untuk menatap bos yang suka mengatur itu. Rania membelalakan mata tak percaya akan perintah Aiden.
"Bos, yang benar saja," protes Rania.
Tapi Aiden tak peduli akan apapun yang diucapkan Rania. Dia tetap memandang jam tangannya lalu berkata, "Dimulai dari sekarang!"
"Ish, serasa berada di camp militer saja," gerutu Rania meski kakinya tetap saja melangkah berlari menuju kamar.
Setelah selesai memakai pakaian kerja, Rania dan Aiden berangkat bersama ke kantor. Mereka datang terlalu pagi, sehingga masih belum banyak karyawan.
Rania melihat jam di ponsel.
Rupanya masih jam enam. Pantas belum ada siapa-siapa.
Ketika hendak ke ruangannya, Aiden menahan dan meminta Rania untuk ikut masuk ke ruangan Aiden.
Di sana Rania hanya disuruh duduk. Sedangkan Aiden mulai membuka laptop dan memeriksa beberapa laporan.
Rania menggarukan kepala yang tidak gatal. Dia bingung kenapa Aiden hanya menyuruhnya duduk tanpa perlu melakukan apapun.
"Bos, saya ingin ke ruangan saya," kata Rania akhirnya memberanikan diri.
"Tidak boleh. Ini belum masuk jam kerja," jawab Aiden tanpa memandang ke arah Rania.
"Tapi, Bos. Saya lapar," Rania melengkungkan bibir membentuk senyuman selebar mungkin.
Aiden menghela nafas, memandang Rania sejenak lalu mengeluarkan ponselnya yang langsung disodorkan ke arah Rania.
"Pesan saja makanan dan kirim ke kantor."
Rania menerima ponsel Aiden untuk memesan makanan. Tak lama, seorang security datang ke ruangan membawa satu kotak berisi bubur ayam.
Segera Rania membuka kotak itu. Dia sudah sangat lapar karena tadi malam dia belum sempat makan.
Melihat hanya ada satu kotak bubur, membuat Aiden mengerutkan dahi dan menelisik ke sekitar meja, mencari bubur untuk dirinya.
"Kamu hanya pesan satu?"
Seketika Rania membeku, mendongak ke arah Aiden, dan balik bertanya, "Kenapa Bos tidak bilang?"
Aiden menghela nafas. Secepat kilat dia merebut kotak dan melahap satu sendok penuh bubur ayam.
"Bos itu punyaku," rengek Rania dengan memasang wajah memelas.
Namun bagi Aiden, Rania tampak lucu dan tanpa disadari ini pertama kalinya mereka bisa tampak akrab seperti layaknya teman.
Aiden menyendok bubur dan menyodorkan ke depan mulut Rania. Membuat wanita itu refleks membuka mulut tapi secepat kilat Aiden membelokan arah sendok sehingga masuk ke dalam mulutnya sendiri.
"Bos," raung Rania marah yang berhasil dikerjai oleh Aiden.
Detik berikutnya, mereka berdua pun tergelak menertawakan tingkah mereka sendiri.
__ADS_1