
Rania mengurung diri di kamar sampai dia tertidur dengan masih memakai pakaian kerja dan melewatkan makan malam.
Begitu terbangun, jam di meja kamar telah menunjukan pukul empat pagi.
Saking lelahnya dengan urusan pekerjaan dan pikiran yang mengganggu terkait ajakan sang ayah untuk pergi ke Belanda membuat Rania tertidur pulas hampir sepuluh jam.
Rania berdecak merutuki dirinya sendiri yang tertidur bagaikan tupai sedang berhibernasi. Lalu terdengar suara perut yang protes minta diisi, menjadikan Rania bangkit dari tempat tidurnya.
Perlahan Rania membuka pintu kamar. Dia menoleh kanan kiri memastikan Ajeng atau Thalia belum bangun.
Melihat kondisi rumah yang sepi, Rani yakin jika ibu dan adiknya pasti masih tidur.
Rania berjalan mengendap-endap ke dapur, mencari mie instan beserta cabai rawit di dalam kulkas.
Tapi tiba-tiba…
Ehm…
Rania tersentak begitu mendengar suara deheman. Lantas dia menoleh pada Raden yang berdiri di depannya dengan gaya berkacak pinggang.
"Ayah, kenapa Ayah ada di sini?" tanya Rania terkejut.
"Kenapa Ayah di sini?" Raden mengulang pertanyaan Rania sambil mengangkat alis. "Ayah belum selesai bicara denganmu. Mulai hari ini kamu tidak boleh bekerja lagi di Irawan Group."
"Ayah tidak bisa mengaturku. Aku berhak menentukan pilihanku sendir, Yah," protes Rania mengepal tangan.
"Ayah bisa, karena Ayah adalah Ayah kandungmu," kata Raden tetap tak mau kalah.
Rania mendesah frustasi. Dia tak mau berdebat terus dengan Raden karena dia yakin tak akan ada ujungnya.
Dia akan tetap dipaksa untuk tinggal bersama Raden di Belanda. Maka dari itu, Rania kembali berlari ke dalam kamar. Mengabaikan perutnya yang kosong.
*
*
*
Pagi hari, Aiden melenggang di koridor kantor dengan setelan jas rapi dan sepatu hitam yang mengkilap. Seperti biasa semua karyawan yang berpapasan pasti akan menundukkan kepala penuh hormat padanya.
Namun, tiba-tiba langkah kaki Aiden berhenti kala berada di depan pintu ruangan Rania. Dari pintu yang tidak ditutup rapat itu, Aiden dapat melihat Rania yang duduk sambil termenung.
"Aku rasa tantangan untuk membuktikan kalau kau sekretaris yang dapat diandalkan sudah berakhir. Tapi kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah ada di kantor?"
Rania mendongak dan begitu melihat Aiden, dia segera bangkit berdiri lalu menunduk memberi hormat.
Ketika Aiden berjalan mendekati Rania, tatapannya menangkap tas ransel tergeletak di bawah meja. Menjadikan Aiden mengernyitkan dahi bingung.
Terlebih isi tas ransel itu terlihat penuh. Seakan memuat banyak barang.
"Kamu mau minggat dari rumah atau apa?"
__ADS_1
"Aku…" Rania menghembuskan nafas berat. "Aku berangkat kerja secara diam-diam, Bos. Dan tadi saya mandi di kantor."
Rania mengusap tengkuknya dan berusaha untuk tersenyum.
Benar tadi pagi, Rania keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan orang tuanya. Dia membawa baju kerja dan peralatan mandi ke kantor yang dia masukan ke dalam tas ransel.
Sudah seperti orang minggat dari rumah, memang.
Sementara itu, Aiden semakin menyipitkan mata serta dahinya semakin bertambah mengerut. Ditatapnya Rania penuh selidik.
"Kenapa? Apa kamu punya masalah dengan ibumu?"
"Sebenarnya bukan dengan ibu, tapi ayah," jawab Rania menundukan kepala lesu.
Melihat ada kesedihan di wajah wanita yang dicintai, Aiden pun menuntun Rania masuk ke dalam ruangannya. Sebab baginya, ruangan Aiden adalah tempat yang paling nyaman.
Dia meminta Rania duduk di sofa, sedangkan dia sendiri duduk di samping wanitanya.
Dia melingkarkan lengan di bahu Rania dan membenamkan wanita itu ke dalam dekapannya. Diusap dengan begitu lembut punggung Rania untuk memberi sedikit ketenangan.
"Katakan! Ada apa?"
"Ayahku mendadak menemui kami setelah sekian lama tidak memberi kabar," ungkap Rania.
"Itu bagus. Lalu apa masalahnya?"
"Ayah meminta aku untuk berhenti bekerja di Irawan Group karena Ayah berencana membawaku ke Belanda dan aku akan tinggal di sana."
Lantas dia menunduk untuk menatap Rania. Bersamaan dengan Rania yang juga mendongak untuk melihat ekspresi Aiden.
Sehingga wajah mereka berada di jarak yang sangat dekat. Bahkan ujung hidung keduanya hampir bersentuhan.
Seketika itu tangan Aiden menangkup kedua pipi Rania. Dia menatap dalam manik mata hitam milik Rania yang begitu bening dan polos.
"Jangan pergi dariku, Rania! Aku tidak mau berada jauh darimu."
Rania menghela nafas. Bibirnya melengkungkan senyuman meskipun terlihat terpaksa.
"Aku juga berharap begitu tapi… Ayah tetap bersikeras agar aku tinggal ke Belanda untuk membantu mengembangkan bisnis Ayah di sana."
Aiden menyatukan dahinya dengan dahi Rania. Beberapa saat berlalu, mereka tak mengubah posisi sedikit pun.
Hembusan nafas hangat saling menerpa wajah satu sama lain. Kemudian tangan Aiden bergerak memeluk Rania.
Sungguh hanya membayangkan berjauhan dengan Rania saja, Aiden tidak bisa. Apalagi hal itu sampai benar terjadi.
"Aku akan menemui ayahmu sekarang juga. Aku ingin bicara dengan calon mertuaku," kata Aiden tegas.
"Tapi Bos hari ini ada meeting penting bersama…"
Rania tak dapat melanjutkan ucapannya karena bibirnya dibungkam oleh bibir Aiden. Pria itu mencium Rania dengan sangat menuntut. Seolah itu adalah ciuman terakhir mereka.
__ADS_1
Lalu Aiden melepas tautan bibir mereka dan memandang wajah Rania dengan mata yang sendu.
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang, kamu harus tetap menjadi karyawanku."
Mendengar dan melihat ucapan Aiden yang sungguh-sungguh, membuat Rania merasa tersanjung dan tersipu malu. Aiden rela membatalkan rapat penting hanya untuk dirinya.
"Terima kasih, Bos."
"Jangan tinggalkan aku, Rania."
*
*
*
"Ajeng! Ajeng!"
Teriakan Raden menggema di penjuru rumah itu. Sampai dapat menggetarkan bohlam dan air minum di dalam gelas atas meja makan.
Thalia yang tengah menikmati sarapannya, terpaksa menutup kedua telinga untuk menyelamatkan indra pendengarannya. Dia tak rela jika harus tuli di usia muda.
Dan apa kata orang nanti kalau dia tuli disebabkan oleh teriakan sang ayah yang marah karena kakak perempuannya kabur dari rumah?
Sedangkan dari arah dapur, Ajeng berlari tergopoh-gopoh untuk menghampiri mantan suaminya.
"Tidak perlu teriak. Meskipun aku sudah memasuki kepala empat tapi pendengaranku masih tajam tahu," ketus Ajeng.
"Hai, kemana Rania? Kenapa dia tidak ada di kamar?"
"Mana aku tahu," jawab Ajeng yang berpura-pura tidak peduli. Meski dalam hati di sangat khawatir.
"Jangan bohong! Kamu sengaja menyembunyikan Rania agar aku tidak bisa membawa Rania ke Belanda kan?"
"Ayah, ibu, tolong jangan bertengkar terus!" Thalia meyela. "Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau Kak Rania hilang ya tinggal di cari."
Raden menjentikkan jari. "Kau benar, Thalia. Aku akan mencari Rania dan langsung membawanya ke Belanda."
Detik berikutnya, Raden melesat keluar rumah tanpa berkata apapun pada Ajeng. Membuat wanita yang berstatus sebagai mantan istri itu naik pitam.
Ajeng tidak akan membiarkan Rania dibawa pergi begitu saja oleh Raden. Lantas dia pun berlari menyusul keluar.
Tepat ketika Ajeng dan Raden berada di teras, mereka melihat mobil hitam memasuki perkarangan rumah.
Kemudian pintu di sisi kanan kiri mobil terbuka, menampilkan Aiden dan Rania yang turun dari kendaraan mewah itu.
"Rania, berani-beraninya kamu kabur dari rumah," raung Raden yang langsung menghampiri dan menarik lengan Rania untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Tapi tarikan lengan Rania tertahan sebab Aiden mencekal lengan Rania yang satu lagi.
"Anda tidak bisa memaksa Rania seperti ini, Bapak Berkumis Baplang."
__ADS_1