My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
41 Belajar Dari Abe


__ADS_3

Aiden berjalan mondar-mandir di sebuah kamar hotel yang sudah dipesannya. Dia telah mandi dan mengganti pakaiannya tapi tidak dengan Abe yang masih berkutat dengan laptop.


Wajah Abe mengkilap oleh keringat sebab dia tak punya waktu bahkan untuk cuci muka sekalipun.


Aiden berhenti tepat di tengah ruangan lalu menghembuskan nafas lelah.


Bukan lelah mondar-mandir tapi lelah dengan pikiran semrawut yang bersemayam akhir-akhir ini.


"Kenapa beberapa hari terakhir aku jadi seperti orang bodoh. Pertama, kenapa juga aku harus berkelahi dengan manusia lidi padahal aku bisa menyusul Rania ke Belanda? Kedua kenapa aku harus pusing memikirkan alamat tempat tinggal Rania kalau aku memiliki orang yang dapat mencari data seseorang hanya dalam hitungan jam?"


Mendengar bosnya menggumam sendiri, membuat Abe mengulum senyum. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa tapi dia sadar betul akan apa yang terjadi setelah dia tertawa.


Pastinya bukan hanya mendapatkan amukan dari Aiden tapi juga bogem mentah.


Abe berdeham untuk menetralkan perasaannya. Lalu berkata, "Mungkin karena Bos sedang jatuh cinta. Cinta bisa membutakan seseorang. Buta pandangan mata dan juga buta akal pikiran."


"Diam kau!" bentak Aiden menoleh cepat pada Abe. "Siapa yang menyuruhmu bicara?"


Abe menggelengkan kepala ketakutan. "Tidak ada, Bos."


"Sudah selesai dengan pekerjaanmu?"


Abe kembali menggeleng. "Belum, Bos."


Aiden mendengus dan kembali pada lamunannya. Dia sedang menunggu orangnya mencari data tentang Raden berikut alamat tempat tinggalnya di Belanda.


Aiden menarik nafas panjang. Lama-lama dia membenarkan ucapan Abe. 


Benar juga ya? Aku seperti anak SMP yang baru mengenal cinta. Baru ditinggal Rania saja, aku sudah tidak bisa berpikir jernih.


Aiden berkacak pinggang sambil menautkan alis. Dia berusaha mencari cara agar hubungannya dengan Rania mendapat restu dari Raden dan juga dapat membawa kembali Rania ke Indonesia.


Dan kali ini caranya harus tidak boleh gagal.


"Bos," seru Abe menyadarkan Aiden dari lamunannya. "Kita sudah menemukan alamat tempat tinggal Pak Raden."


Aiden tidak terlihat bahagia ataupun terkejut. Dia hanya bergumam pelan sambil mengusap dagu.


Tampak jelas jika Aiden sedang berpikir keras. Membuat Abe mengernyit wajah bingung.


"Ada apa, Bos?"

__ADS_1


"Begini, Abe. Harus aku akui kamu lebih berpengalaman dalam hubungan asmara ketimbang aku. Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan supaya Pak Raden menaruh simpati padaku dan mau menerimaku sebagai calon menantunya?"


Sontak Abe membelalakkan mata. Bibir tersenyum lebar dan bangkit berdiri dengan badan tegap.


"Tenang saja, Bos. Serahkan semuanya pada…" Abe menepuk dadanya sendiri. "Abe cdefghijklmnop…"


"Diam!" bentak Aiden lagi. "Siapa yang suruh kamu menghafalkan lagu ABC?"


Abe menunduk kepala dengan penuh rasa takut. Menyadari Aiden kini sedang tidak bisa diajak bercanda.


Tapi detik selanjutnya, wajah Aiden tidak segarang tadi. Dalam sekejap wajah tampan itu dihiasi kebingungan dan kegundahan.


Dia kembali berjalan mondar-mandir. "Jadi katakan! Apa yang harus aku lakukan saat pertama kali ke rumah calon mertua?"


"Menurut pengalaman saya, Bos. Camer akan senang jika kita para laki-laki membawa sesuatu ke rumah."


Aiden menjentikan jari. Lalu berkata dengan penuh percaya diri, "Ya itu sudah aku pikirkan. Martabak coklat. Siapa yang tidak suka martabak coklat?"


"Kedua," lanjut Abe. "Camer akan lebih tertarik pada laki-laki yang mempunyai pekerjaan mapan."


"Aku CEO. Tidak perlu diragukan lagi," Aiden berkata dengan percaya diri yang semakin meningkat.


Abe mengangguk menyetujui. "Ketiga, camer akan lebih suka laki-laki yang sopan, baik hati, tidak sombong dan tidak suka baku hantam."


Aiden melipat tangan di depan dada lalu memijat pangkal hidung. Dia sadar jika point ketiga akan sangat sulit untuk dia lakukan.


Mengingat Raden sudah mengecapnya sebagai pria yang tidak sopan, pemarah dan suka berkelahi. 


Dan untuk pertama kalinya seorang Aiden menjadi kurang percaya diri, hanya karena masalah calon mertua.


Melihat hal itu Abe, menarik nafas. "Tenang, Bos. Saya akan bantu Bos Aiden dalam memperjuangkan restu."


"Kamu punya triknya?" tanya Aiden.


Abe mengangguk dengan senyum penuh arti di bibirnya.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu, masih di negara yang sama, Rania menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong.


Dia berada di kamarnya yang ada di lantai dua. Dari jendela kaca kamar, Rania melihat segerombolan anak remaja mengendarai sepeda melintas di jalanan.


Tampak gerombolan remaja itu sangat bahagia, saling tertawa dan mengayuh sepeda lebih cepat.


Rania hanya bisa tersenyum sinis. Betapa dia iri pada anak remaja itu yang bisa bebas bermain. Sedangkan dia terkurung di dalam kamar.


Lalu suara ketukan pintu memecahkan keheningan disusul dengan suara derit pintu terbuka.


"Nona Rania, saya bawakan makanan untuk Anda," ucap Vincent menaruh nampan berisi makanan di atas meja.


"Katakan pada Ayah, aku tidak lapar!" Rania berkata tanpa menoleh pada Vincent. Dia tetap memandangi para pesepeda yang hilir mudik di depan rumah.


"Tapi, Nona Rania belum makan apa-apa dari kemarin."


Vincent ingat betul jika Rania belum makan sama sekali setelah tiba di Belanda. Padahal pelayan rumah juga sudah memasak makanan khas Indonesia kesukaan Rania.


Tapi makanan itu sama sekali tak tersentuh sedikit pun. 


Rania memang tidak diizinkan keluar oleh Raden. Dia diberi waktu tiga hari sebelum nanti akan mulai bekerja di kantor.


Vincent menatap intens Rania. Tampak wanita itu sangat ingin kelaur dari dalam kamar dan saat itu Vincent mendapat sebuah ide.


"Nona, apakah Nona Rania ingin jalan-jalan mengenal lebih tentang kota Amsterdam?"


Rania tak menjawab. Membuat Vincent melanjutkan ucapannya tanpa perlu diminta.


"Kalau iya. Saya bisa membujuk Tuan Raden agar mengizinkan Nona makan di luar. Ada restoran yang khusus menyediakan menu masakan Indonesia di sekitar sini."


"Ide bagus, Vin."


Bukan Rania yang berkata tapi Raden. Pria paruh baya itu berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan.


Lalu dia berjalan untuk menghampiri Rania yang masih tetap termenung.


"Ayah tahu. Suasana kamar pasti membuatmu suntuk kan? Pasti makan di luar bisa memberikan sedikit udara segar dan kamu bisa sedikit lebih fresh."


Rania menghela nafas jengah. "Ayah saja. Aku mau tetap di sini."


Tampak kumis Raden bergerak-gerak dengan manik mata yang melotot. Pertanda bahwa saat ini Raden tangah menahan untuk tidak mudah meluapkan amarahnya.

__ADS_1


Tapi meskipun begitu, Raden tetap berkata dengan nada memaksa.


"Tidak, Rania! Kamu harus ikut. Titik."


__ADS_2