
Satu minggu sudah berlalu sejak hari pernikahan Raina dan Aiden. Kini mereka berdua telah kembali ke rutinitas seperti biasa.
Bekerja di kantor Irawan Group. Meski sebenarnya Aiden melarang Rania untuk bekerja, tapi istri barunya itu bersikeras ingin kembali bekerja seperti sebelum dia menikah.
Bukan Aiden tak ingin Rania kembali ke kantor, tapi Aiden merasa mampu untuk memberi nafkah pada Rania tanpa perlu istrinya bekerja.
Setelah perdebatan kecil, akhirnya Aiden mengalah. Dia akan tetap mengizinkan Rania bekerja sebagai sekretarisnya dengan syarat Rania harus berpenampilan culun lagi.
Dan pagi ini kembali terjadi perdebatan, saat Aiden mendandani Rania.
Aiden mengepang rambut Rania tanpa peduli Rania yang duduk cemberut menatap cermin rias.
"Bos, aku tidak mau dikepang dua," protes Rania.
"Psst, diam! Aku tidak mau kamu terlihat terlalu cantik. Yang ada karyawanku tertarik sama kamu," terang Aiden sambil melanjutkan mengepang rambut di sisi kanan.
Mendengar penjelasan Aiden, Rania semakin mengerucutkan bibir dan melipat tangan di depan dada.
"Oh, jadi Bos pengen aku tampil jelek gitu? Supaya diledek orang lain gitu?" sungut Rania mendengus kesal.
"Astaga. Bukan begitu, Sayang."
Aiden menarik dagu Rania supaya wanita itu menatapnya. Lalu Aiden perhatikan keseluruhan wajah Rania yang meski hanya memakai riasan natural dan rambut dikepang dua, tapi masih terlihat cantik.
Aiden memajukan kepalanya, mengecup bibir Rania cukup lama, lalu setelah itu dia mengulas senyum.
"Kamu tetap cantik kok."
"Bohong," sahut Rania ketus.
Menjadikan Aiden semakin gemas pada Rania yang satu minggu terakhir ini emosinya sangat sensitif nan labil.
Aiden membalas tatapan kesal Rania dengan senyuman. Kemudian dia memeluk serta mencium pipi istrinya itu.
"Apa haid mu sudah selesai?"
Seketika raut wajah Rania berubah yang semula cemberut menjadi terlihat bimbang.
Sebenarnya, Rania sudah selesai masa menstruasinya sudah sejak dari kemarin tapi dia takut mengatakannya pada Aiden.
Berhubungan intim masih menjadi hal yang menakutkan bagi Rania. Pasalnya dari apa yang dia dengar, jika saat pertama kali berhubungan pasti akan sangat sakit.
Membayangkan saja, Rania sudah menelan saliva ketakutan. Apalagi melakukannya.
__ADS_1
"Kenapa diam?" tanya Aiden ketika melihat Rania yang malah terdiam bimbang.
"Oh, a-aku sudah selesai," Rania berkata terbata-bata.
"Benarkah?" Aiden tersentak sekaligus mengulum senyum. "Kalau begitu, persiapkan dirimu untuk nanti malam."
Sungguh sekarang ini rasa bahagia membuncah dalam diri Aiden. Selama satu minggu dia menahan hasrat, akhirnya nanti malam dia dapat merasakan seperti apa itu malam pertama.
Kalau bukan karena harus datang ke kantor, pastilah Aiden sudah meminta jatah dari Rania detik ini juga.
Dan rasa bahagia yang menggelora terus terbawa sampai Aiden berada di ruang kerjanya.
Senyum merekah tak pernah luput dari bibir Aiden. Tak sabar dia menantikan jam pulang kerja.
Dan semakin matahari beranjak naik, semakin Aiden tidak bisa menahan hasrat yang terpendam. Sehingga dia pun menelepon Rania untuk masuk ke ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?" Rania bertanya saat masuk ke dalam ruangan suaminya.
Meskipun Aiden adalah suami Rania, tapi dia tetap profesional dalam bekerja dan menganggap Aiden sebagai atasan ketika bekerja.
Terlebih dahulu Aiden menekan tombol dari sebuah remote yang membuat pintu dan jendela otomatis terkunci. Lalu dia berdiri dan memeluk Rania.
"Tolong bantu buatkan aku anak," Aiden berbisik di depan telinga Rania sambil menyunggingkan senyum penuh arti.
"B-bos."
Dan seketika itu pula bulu kuduk Rania meremang. Degup jantung berdetak lebih cepat serta jangan lupakan keringat dingin yang meluncur di pelipis.
"Bos, jangan ini kan kantor!"
Aiden menghela nafas berat. "Kita pemanasan saja dulu. Bagaimana?"
Sejenak Rania terdiam dengan tatapan yang turun memandangi celana Aiden. Lalu dia pun berkata, "Bos, lepaskan celanamu!"
"Lepas celana?" ulang Aiden menampilkan wajah tak percaya sekaligus senang. "Sekarang?"
Rania mengangguk mantap dan berkata dengan tidak sabar, "Iya, ayo cepat!"
"Oke, oke, aku lepas dulu."
Dengan penuh semangat, Aiden membuka celana dan menyisakan celana bokser hitam. Dia hendak melepas celana bokser juga tapi alis Aiden menaut ketika Rania menyambar celana panjang yang sudah tergeletak di lantai.
"Rania, kenapa?"
__ADS_1
"Celanamu kotor, Bos. Jadi aku bersihkan dulu," kata Rania sambil memegangi celana Aiden lalu secepat kilat dia menekan tombol untuk membuka pintu dan melesat lari keluar.
"Rania, kembali!" teriak Aiden dari dalam ruangan.
Tidak mungkin Aiden mengejar Rania keluar ruangan dengan bawahan yang hanya memakai celana bokser. Yang ada dia akan dianggap sebagai bos gila oleh para karyawan.
Dengan dada bergemuruh kemarahan, Aiden menelepon Abe.
"Cepat rebut celanaku yang diambil oleh Rania!" perintah Aiden begitu sambungan telepon terhubung.
Setelah itu, Aiden langsung memutuskan panggilan tanpa mau mendengar jawaban dari Abe.
Sementara Abe yang diseberang sana hanya bisa mengerutkan alis bingung. Dia menatap layar ponsel dengan banyak tanda tanya di kepala.
"Merebut celana? Rania? Maksudnya apa?"
*
*
*
Malam harinya, di sebuah rumah mewah yang baru beberapa hari ditempati oleh sepasang suami istri, tampak lengang karena para penghuninya sudah berada di kamar untuk beristirahat.
Namun tidak untuk seorang pria yang masih setia menatap berkas sambil sesekali mengetik di laptop. Pria itu fokus duduk di ruang kerja di salah satu sudut rumah.
Hingga terdengar lah suara dentingan jam yang menunjukan pukul sembilan malam.
Si pria itu pun tersentak dan segera mengakhiri pekerjaannya. Dia beranjak dari duduk, berjalan keluar ruang kerja untuk berpindah ke kamar.
Di dalam kamar utama, si pria menemukan istrinya sudah tidur terlelap di atas ranjang. Dia pun menyeringai, menyibak selimut, lalu membuang selimut itu ke lantai.
Pergerakan selimut yang ditarik membuat sang istri terbangun dan melirik sang suami.
"Ck, Aiden, aku mengantuk," keluh Rania yang detik berikutnya memiringkan badan mencari posisi enak.
"Enak saja kamu tidur. Setelah tadi siang kamu mengerjaiku, sekarang waktunya kamu mendapatkan hukuman."
Mendengar ucapan Aiden yang terdengar sungguh-sungguh, membuat Rania membuka mata lebar dalam satu detik.
Lantas dia melirik Aiden yang kini menyunggingkan seringai sambil kakinya bergerak naik ke atas ranjang.
"Bos, tunggu dulu! Aku mau diapakan?"
__ADS_1
Aiden menindih Rania seraya mengunci pergerakan tubuh istrinya supaya tak dapat meloloskan diri.
"Kamu tidak bisa lari lagi, Rania."