
Rania menggeliat saat sinar matahari menerpa wajahnya. Dia menarik selimut hingga ke leher tapi sejenak dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Terdengar suara deru mobil dan tubuhnya pun terguncang secara stabil. Membuat Rania mengerjapkan mata lalu mengernyit melihat ke sekeliling.
Ternyata dia tidak berada di kamarnya lagi tapi dia tengah terbaring di kursi belakang mobil.
Dan tebak siapa dua orang pria yang duduk di kursi depan? Siapa lagi kalau bukan Raden dan Vincent.
"Ayah, kita mau kemana? Kenapa aku ada disini?" tanya Rania yang kini duduk dengan raut wajah bingung.
"Kita akan ke Amsterdam hari ini, Rania. Kita akan ke bandara," jawab Raden sambil melirik kaca spion tengah. Lalu dia menoleh pada Vincent yang tengah mengemudikan mobil. "Vin, lebih cepat sedikit."
"Baik, Tuan."
"Tapi Ayah…" Rania mengedarkan pandangan ke sekeliling mobil.
Rania menyadari dirinya masih memakai piyama yang dia gunakan semalam. Pasti akan memalukan jika dia naik pesawat hanya dengan memakai piyama satin berwarna pink itu.
"Aku pakai piyama ke bandara?"
"Itu gampang. Kau bisa mengganti baju di toilet bandara."
"Lalu ponsel aku mana, Ayah?"
Raden mendengus sambil melirik Rania. "Ponselmu Ayah sita."
"Ayah!" pekik Rania sampai Raden dan Vincent menutup telinga. "Aku tidak mau. Turunkan aku di sini, Ayah!"
*
*
*
Sementara itu, mobil milik Aiden berhenti tepat di depan rumah Rania. Kali ini Aiden datang bersama Abe untuk berjaga-jaga kalau Raden mengerahkan lagi asistennya bernama Vincent.
Tapi bersamaan dengan Aiden yang turun dari mobil, ketika itu juga Ajeng keluar dari rumah sambil berlari tergopoh-gopoh.
Menjadikan kening Aiden mengerut bingung dan dipandanginya wajah Ajeng yang tampak cemas itu.
"Aiden, dia sudah membawa Rania pergi," ucap Ajeng dengan nafas terengah.
Seketika manik mata Aiden membola sempurna. Dia tampak tercengang akan penuturan dari Ajeng.
"Sekarang mereka sedang menuju bandara. Pesawatnya akan terbang beberapa menit lagi, Aiden. Cepatlah susul Rania!"
Aiden mengangguk tanpa berkata apapun. Lantas dia masuk kembali ke dalam mobil yang diikuti juga oleh Abe.
Meskipun Abe belum tahu masalah yang sebenarnya terjadi, tapi dia menurut saja saat Aiden memberi perintah untuk segera pergi ke bandara.
*
*
__ADS_1
*
Di waktu yang sama, Rania berjalan mondar-mandir setelah mengganti pakaian. Dia masih berada di dalam bilik toilet, memikirkan cara agar bisa kabur dari Raden.
Masalahnya adalah si tangan kanan ayahnya, alias Vincent, selalu membuntuti kemana pun Rania pergi. Seperti sekarang ini, Vincent dengan setianya menunggu di depan pintu toilet wanita.
"Huft, bagaimana ini ya?" Rania berdecak sambil menghela nafas frustasi.
Tapi tak lama, masuklah seorang wanita muda bersama seorang anak kecil. Seketika Rania menjentikan jari pertanda bahwa dia mendapatkan ide cemerlang.
Lantas Rania menghampiri wanita itu.
"Permisi, maaf kalau aku merepotkan tapi bisakah saya pinjam ponsel Anda, Nona. Saya ingin menghubungi kerabat tapi ponsel saya mati karena jatuh ke air."
Rania tersenyum lebar untuk menutupi kebohongannya dan benar saja, wanita muda itu meminjamkan ponselnya meski sesaat dia tampak ragu.
Untung saja, Rania hafal nomor telepon Aiden. Lalu segera dia menelepon bosnya itu untuk segera memberitahu bahwa dia akan pergi ke amsterdam.
Dua kali panggilan dari Rania diabaikan oleh Aiden. Rania berdecak kesal karena yakin Aiden tak mau mengangkat telepon dari nomor asing sehingga dia pun mengirim pesan.
Bos, ini aku Rania. Ada keadaan darurat, Bos.
Tak sampai tiga menit, satu panggilan masuk ke ponsel yang ada digenggaman Rania. Secepat mungkin Rania mengangkat telepon itu.
"Bos, aku ada di bandara. Ayah akan membawaku ke Amsterdam."
"Iya, Rania, aku sudah tahu dari ibumu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Kamu tunggu sebentar ya, Sayang."
Rania menghembuskan nafas lega sebab Aiden telah mengetahui keberangkatannya.
"Kita pasti bertemu, Rania."
Rania menutup telepon dan menyerahkan kembali pada wanita pemilik ponsel. Tak lupa Rania mengucapkan terima kasih dan kemudian keluar dari toilet.
Di luar sana, Vincent berdiri sambil melipat tangan. Dia mengangkat alis saat melihat Rania keluar.
"Kenapa lama sekali?"
"Bukan urusanmu!" ketus Rania.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menghampiri Raden yang sedang berbicara pada pihak maskapai. Tampak wajah Raden memerah menahan amarah.
Membuat Rania penasaran dan mulai menguping pembicaraan ayahnya dengan petugas bandara.
"Kenapa bisa sampai ditunda?" tanya Raden geram.
"Maaf, Tuan. Kami sedang mengalami kendala. Mohon bersabar, penerbangan ditunda hanya beberapa menit saja," jelas si petugas dengan suara yang masih lembut dan sopan.
"Hanya beberapa menit kau bilang? Aku ini orang sibuk. Waktu adalah emas."
Rania mengulum senyum kala mendapati penerbangannya ke Amsterdam ditunda. Meski hanya beberapa menit tapi itu bisa dijadikan kesempatan untuk Rania bisa kabur.
Vincent yang saat itu tengah ikut berbicara dengan pihak maskapai pun tak menyadari kalau diam-diam Rania berjalan mundur.
__ADS_1
Atensi Raden dan Vincent teralihkan oleh kabar penundaan jadwal penerbangan. Menjadikan mereka berdua tak sadar jika Rania telah berpisah dari mereka.
Rania terus berlari sampai pandangan matanya tak lagi menangkap sosok Raden dan juga Vincent. Arah tujuan Rania tentu saja adalah keluar dari Bandara.
Bersamaan dengan itu, mobil yang ditumpangi Aiden dan Abe telah sampai di parkiran bandara. Dua pria itu langsung melesat keluar dan berlari menuju dalam bandara.
"Kita berpencar. Kau ke arah sana!" Aiden menunjuk ke sisi kirinya.
"Baik, Bos."
Abe dan Aiden berpisah. Di sepanjang langkah kakinya, Aiden menelisik ke sekeliling mencari keberadaan Rania.
Sejenak Aiden berhenti di papan yang menampilkan jadwal keberangkatan pesawat.
Dia mencari pesawat dengan tujuan kota Amsterdam dan saat itu ada satu harapan menyala di dalam diri Aiden kala mendapati penerbangan menuju ibukota negeri kincir angin itu ditunda beberapa menit.
Aiden memutar badan seraya menyapu pandangan ke kerumunan orang yang berseliweran.
"Rania. Di mana kau, Sayang?" gumam Aiden.
Detik berikutnya, Aiden terperangah ketika melihat sesosok wanita yang sangat dia kenal berjalan di ujung sana.
"Rania!" teriak Aiden.
Lantas Aiden menggerakan kaki untuk mengejar Rania dan dia pun berhasil menyambar pergelangan tangan wanita itu.
"Rania," panggil Aiden dengan nafas tersengal.
Wanita itu menoleh ke belakang untuk dapat menghadap pada orang yang telah mencekalnya.
Dan detik itu juga senyum yang berkembang di wajah Aiden seketika layu mendapati wanita yang dia tahan bukanlah Rania.
Tampak wanita itu mengerutkan dahi kebingungan.
"Maaf, Tuan. Saya bukan Rania," wanita itu tersenyum dengan mata berbinar melihat pria tampan di depannya. "Tapi mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu, Tuan?"
Aiden melepaskan cengkaraman tangannya. Lalu menggelengkan kepala dengan raut kecewa tercetak jelas di wajahnya.
"Tidak. Maaf, aku salah orang."
Segera Aiden berjalan kembali mencari Rania. Dia berkacak pinggang dengan dada naik turun karena emosi bercampur dan berkecamuk di dalam dirinya.
Kemudian satu tangan menepuk bahu Aiden.
"Abe, apa kau menemukan Rania?" tanya Aiden tanpa menoleh pada pemilik tangan yang menepuk bahunya.
Aiden yakin jika orang yang berada di belakangnya saat ini adalah Abe yang telah kembali dari berkeliling mencari Rania.
"Aku melihat Rania ada di belakangmu, Bos," ucap sebuah suara wanita yang sangat dikenali Aiden.
Aiden tersentak dan secepat mungkin memutar badan. Dia tersenyum lebar mendapati Rania berada di belakangnya.
"Rania."
__ADS_1
Seketika itu dia langsung memeluk erat tubuh Rania. Bahkan sampai kaki wanita itu terangkat dari lantai.
"Bos," Rania membalas pelukan Aiden tak kalah erat. "Bos, bawa aku pergi dari sini sebelum Ayah melihat kita."