
"Menurutmu hukuman apa yang pantas Bella dapatkan, Rania?"
Rania terheran karena Aiden meminta saran kepadanya. Sekilas dia melirik Bella.
Dia sama sekali sudah tidak peduli lagi pada wanita bermuka dua itu, sehingga Rania hanya mengangkat bahu.
"Saya tidak tahu, Bos. Terserah Bos saja."
Bella menahan nafas kala Aiden memandangnya dengan begitu dingin. Lalu dia melempar pandang ke arah Rania.
Kenapa keadaan menjadi terbalik? Dulu karyawan yang sering terlambat Rania, tapi sekarang giliran aku yang selalu saja datang kesiangan. Ini semua gara-gara Mommy yang tidak membangunkan aku. Gerutu Bella dalam hati.
"Kalau begitu Bella seluruh pekerjaan Rania dilimpahkan padamu."
Bella mengangkat tangan ingin melayangkan protes tapi saat dia menoleh ke arah Rania, gadis itu pun juga mengangkat tangan.
"Tapi, Bos," kata Rania. "Kalau seluruh pekerjaanku dilimpahkan kepada Bella, lalu apa yang aku kerjakan?"
"Iya, Tuan. Dia mau melakukan apa?" imbuh Bella melirik sebal ke arah Rania.
"Tidak ada yang protes. Bella, semua urusan administrasi kantor kamu yang urus," Aiden menunjuk Bella, lalu beralih menunjuk Rania. "Dan kau, Rania. Tugasmu hanya menemaniku kemana pun aku pergi."
Bella menghela nafas frustasi, melirik Rania penuh rasa iri, lalu melesat keluar dari ruangan Aiden. Sepeninggalan Bella, Aiden menyadari Rania yang merekahkan senyum.
"Kamu puas melihat Bella dihukum?" tanya Aiden seperti biasa dengan ekspresi datarnya.
"Saya tersenyum bukan karena Bella, Bos."
"Lalu?"
Aiden mengambil minuman dan meneguknya tanpa melepas pandangan yang tertuju pada Rania.
"Saya senang karena berarti saya bisa pulang cepat. Soalnya malam ini Carlos akan mengajakku one night stand."
Bbrrr…
Sontak Aiden langsung menyemburkan minuman begitu mendengar kata 'one night stand' keluar dari mulut Rania.
Uhk… uhk… uhk…
Aiden terbatuk. Hidungnya terasa perih akibat tersedak minuman.
Tapi dia tidak peduli pada rasa perih itu, dia memilih mendongakkan kepala memandang Rania dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
Ada rasa tak percaya dan juga terkejut tapi yang paling mendominasi adalah perasaan marah yang dalam sekejap menguasai dirinya.
"Kenapa Bos tiba-tiba tersedak?"
__ADS_1
Aiden bangkit berdiri, berkacak pinggang, dan dengan tatapan sedingin es, dia berdesis geram, " Rania, apa kamu tahu apa itu one night stand?"
Rania menggelengkan kepala sambil menampilkan wajah polosnya.
"Saya tidak tahu, Bos. Tapi kata Carlos, one night stand itu sangat indah."
"What?" pekik Aiden melototkan mata.
Kedua tangan Aiden seketika mengepal kuat mendengar satu nama pria yang sangat dia tahu bagaimana perangainya. "Carlos, awas kau!"
*
*
*
Malam hari tak dapat menyurutkan hingar bingar aktivitas manusia di pusat kota. Sama halnya di sebuah club, yang semakin malam semakin ramai dikunjungi orang.
Seorang Dj memainkan musik yang mampu memecahkan gendang telinga bayi baru lahir. Untung saja semua orang di club malam itu hanya berisi kumpulan pria dan wanita dewasa yang berlenggok dan berjoget selaras dengan dentuman lagu.
Dan di salah satu sudut club, Rania duduk bersama Carlos di sebuah bar.
Rania menutup kedua telinga menggunakan jari telunjuk. Tak tahan dengan suara musik yang menggelegar.
Sementara Carlos menuangkan bir ke dalam gelas. Lalu menyerahkannya ke mulut Rania.
Rania menggelang cepat tanpa menurunkan tangan yang dipakai untuk menyumpal telinga.
"Aku tidak mau rasanya aneh."
"Satu kali lagi, Sayang, please."
Dengan tidak sabar, Carlos tetap memaksa Rania untuk minum bir dan mencekokinya agar wanita itu mabuk.
Tak jauh dari sana, Aiden berdiri di antara kerumunan orang yang tengah asyik berjoget. Hanya Aiden sendiri yang diam, memandang tajam Rania dan Carlos dengan kedua tangan mengepal kuat.
Aiden mengetatkan rahang menahan marah melihat Carlos yang terus membujuk Rania untuk minum. Tampak jelas jika Carlos memanfaatkan kepolosan Rania untuk tujuan yang licik.
Meski marah, tapi sebagian dalam diri Aiden juga merasa bersalah karena jika dulu dia tidak menolak cinta dari Rania, mungkin gadis itu tidak akan pernah dekat dengan Carlos.
Aiden juga merasa kesal karena tak dapat menahan Rania saat jam pulang kerja. Di mana Rania berhasil lolos dari pantauannya dan pergi bersama pria keparat itu.
Aiden melangkah maju hendak menghampiri Carlos. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat ada seorang wanita memakai baju kurang bahan lebih dulu bergabung dengan Carlos dan juga Rania.
"Carlos, kenapa tidak memberitahuku kalau kamu ada di sini?" tanya wanita itu.
"Naomi?"
__ADS_1
Carlos tampak terkejut melihat Naomi menghampiri dirinya yang sedang bersama Rania.
Seketika Carlos menjadi salah tingkah. Dia melirik Naomi dan Rania secara bergantian.
"Siapa wanita ini?" tanya Naomi mengamati Rania dari atas sampai ke bawah kaki.
Lalu menyunggingkan seringai sambil menggelayut manja di lengan Carlos. Naomi merapatkan diri begitu posesif.
Belum sempat Carlos menjawab, Rania juga melontarkan pertanyaan yang sama, "Carlos, dia siapa?"
Seketika Carlos menjadi gagap tak dapat berbicara dengan jelas. Di dalam hati dia mengumpat pada Naomi yang datang di saat dia ingin menghabiskan malam bersama Rania.
Carlos memijat pangkal hidungnya. Pertanda saat ini dia merasa sangat pusing. Lalu tak punya pilihan lain, Carlos memakai trik keadaan darurat ala playboy cap kadal.
"Sayang, aku tinggal dulu sebentar ya? Aku ingin bicara dengan wanita ini dulu," kata Carlos yang memiringkan wajah ke depan daun telinga Rania.
"Dia siapa memangnya?"
"Namanya Naomi," jawab Carlos singkat. "Aku bicara dengan dia dulu. Tak akan lama. Hanya lima menit."
Kemudian, secepat kilat Carlos menyambar tangan Naomi dan membawanya menjauhi Rania.
Aiden tak mau mensia-siakan kesempatan, begitu melihat Rania duduk seorang diri, dia berjalan mendekati Rania dan langsung menarik tangan gadis itu.
Rania memekik kaget kala tangannya diseret oleh seorang pria yang tidak jelas wajahnya diakibatkan oleh kepala Rania yang sangat berat dan pandangan matanya buram.
"Abc, kau kah itu?" Rania bertanya.
Namun, pria yang menyeret Rania hanya menoleh sekilas. Lalu tetap melanjutkan menuntun Rania membelah kerumunan orang di dalam club.
Di setiap langkah, pandangan Aiden menelisik sekitar mencari keberadaan Carlos. Dia ingin memberi pelajaran untuk pria yang telah berani mengajak Rania ke club malam dan membuatnya mabuk.
Akan tetapi Aiden tidak melihat batang hidung Carlos lagi. Entah kemana perginya si pria kadal buntung itu.
Bisa-bisanya dia meninggalkan Rania dalam keadaan mabuk. Awas saja kalau aku bertemu lagi dengan dia. Geram Aiden dalam hati.
Kemudian, dia merangkul Rania mengarahkan wanita yang dalam pengaruh alkohol itu untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah memasangkan sabuk pengaman, Aiden berjalan memutari mobil untuk duduk ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin tapi sejenak dia termenung.
Aiden ragu akan mengantar pulang Rania dalam keadaan mabuk berat. Pasti yang ada dia dicecar banyak pertanyaan oleh Ajeng.
Tapi tidak mungkin juga Aiden membawa Rania ke rumah. Kirana juga pasti akan mengomeli Aiden jika tahu Rania mabuk.
Aiden mengusap wajahnya dengan kasar. Pertanda dia tengah frustasi.
Setelah kurang lebih tiga menit berpikir, akhirnya Aiden memiliki ide dan segera menancapkan gas pergi dari pelataran club malam.
__ADS_1
"Tidak ada pilihan lain. Supaya aman dari omelan ibu kita berdua, akan akan membawamu ke hotel," kata Aiden menyetir sambil melirik ke samping. Di mana Rania terlelap di kursi.