My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
31 Pantai


__ADS_3

"Yey… pantai…" 


Sorakan Rania beradu dengan suara debur ombak. Dia berjingkrak senang di atas pasir putih lalu berbalik badan untuk memandang Aiden.


Rania tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Dia tak menyangka Aiden benar-benar mengabulkan permintaan Rania yang ingin pergi ke pantai melepas penat pekerjaan.


"Terima kasih, Bos," ucap Rania sambil mengibaskan rambut yang berantakan akibat ulah angin pantai.


Aiden menganggukan kepala tanpa berbicara apapun. Lalu dia memilih duduk di kursi pantai memandangi Rania yang kembali berlari menerjang ombak.


Sambil meneguk minuman segar, manik mata Aiden terus mengamati Rania bermain pasir dengan pakaian wanita itu yang berkibar tertiup oleh angin.


Lantas Aiden menyapu pandangan ke sekeliling untuk memastikan tak ada orang lain yang juga tengah mengamati Rania. Sebab meskipun Rania memakai dress pantai yang longgar, tapi pakaian itu cukup menerawang saat basah.


Aiden pun memanggil Rania dan mengibaskan tangan agar sekretarisnya itu mendekat.


"Ada apa, Bos?"


"Ganti pakaianmu!" perintah Aiden singkat.


Seketika Rania memandang ke bawah, memperhatikan apa yang salah dengan pakaiannya.


Menurut Rania tak ada yang salah pada dress pantai berwarna putih itu. Kecuali memang keadaannya yang basah dan kotor. 


Menjadikan Rania bertanya, " Memangnya kenapa, Bos?"


"Kalau aku bilang ganti ya ganti!" bentak Aiden membuat Rania mengerucutkan bibir sebal.


Tepat saat itu juga, ponsel Rania yang berada di dalam tas berdenging menandakan ada satu pesan masuk. Dia pun segera menyambar ponselnya untuk membaca pesan dari Loretha.


Beberapa menit yang lalu, Rania mengabari Loretha bahwa dia sedang berlibur bersama Aiden ke pantai dan Loretha membalas dengan sebuah pesan bertuliskan :


Wah asyik tuh. Jangan lupa pakai bikini! Ups.


Lantas Rania mendongak dari ponselnya dan beralih memandang Aiden.


"Bos, kata Loretha aku harus pakai bikini," ucap Rania dengan sangat polos dan lekas berlalu pergi meninggalkan Aiden yang tampak tercengang.


"Apa dia bilang?"


Secepat mungkin Aiden bangkit berdiri dan berlari untuk menyusul Rania.


Di sepanjang pesisir pantai, Aiden berjalan setengah berlari sambil memanggil Rania. Namun sekretarisnya itu seperti tuli, dia terus berjalan santai tak memperdulikan Aiden.


Aiden yang sudah habis kesabarannya, memungut cangkang kerang dan meleparkan ke arah punggung Rania.


Tepat saat itu, Rania membelokkan langkah kaki, sehingga cangkang kerang yang dilempar Aiden mengenai seorang turis bule berbadan tambun.

__ADS_1


"Sorry," kata Aiden pada turis yang menoleh pada Aiden dengan tatapan sinis.


Kemudian, Aiden kembali berlari menyusul Rania. Dia memutar bahu Rania begitu dia berhasil menangkapnya dan tatapan tajam langsung menghunus ke dalam bola mata wanita.


Menjadikan Rania mengusap tengkuk yang terasa meremang.


Hawa dingin tiba-tiba mulai terasa padahal cuaca sedang terik-teriknya.


"Kamu tidak boleh mengikuti saran dari Loretha!" titah Aiden dengan penuh penekanan.


"Kenapa?"


"Kamu masih tanya kenapa?" 


Aiden naik pitam saat itu juga. Nafasnya terengah menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubun.


Namun, Rania terkekeh pelan. Menjadikan Aiden bingung dan bertanya-tanya dalam hati.


Apakah aku terlalu sering membentak Rania sampai dia menjadi kurang waras?


Melihat Aiden mengerut wajah bingung, membuat Rania berkata, "Bos, aku hanya bercanda."


Aiden mengendurkan cengkraman di bahu Rania dan menghela nafas lega. Dia berdehem untuk menetralkan perasaannya.


Lantas dia menarik tangan Rania untuk lekas pergi dari pantai. Satu tangan Aiden yang terbebas menyambar tas yang mereka bawa lalu berjalan ke mobil.


"Bos, kita pulang? Padahal aku kan ingin lihat sunset," sungut Rania berdecak kesal saat masuk ke dalam mobil.


Di sampingnya, Aiden menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mesin.


"Kita lihat sunset di villa saja."


"Villa? Villa siapa, Bos?"


Aiden tak menjawab dan memilih melajukan mobil.


"Bos tidak akan membawaku ke tempat yang sepi dan berbuat macam-macam kan?" Rania menyipitkan mata curiga tapi orang ditanya hanya melirik sekilas dan diam seribu bahasa.


Setelah menempuh waktu lima belas menit, mereka sampai di sebuah bangunan megah yang mampu membuat Rania berdecak kagum.


Begitu turun dari mobil, Aiden dan Rania di sambut oleh pelayan yang membawakan tas mereka. 


Sedangkan Rania tak bisa berkata-kata dan mengekor Aiden kemanapun bosnya itu pergi. 


Rania masih terpana akan kemegahan villa yang dia datangi. Terlebih saat melihat deretan foto yang terpajang di salah satu sudut villa.


Rania mengamati foto itu satu per satu. Di mana di sana banyak foto ayah dan ibu Aiden dari mereka menikah sampai memiliki dua orang anak.

__ADS_1


Membuat Rania menyimpulkan bahwa villa yang ditempati saat ini adalah milik keluarga Abimanyu.


Tiba-tiba Rania tersentak kala tangan kekar Aiden melingkar di pinggang dan puncak kepalanya dikecup dari arah belakang. 


"B-bos," ucap Rania terkejut.


Dia membulatkan mata dan menelan salivanya dengan kasar. Tak berani untuk membalikkan badan karena pastinya wajah mereka akan berada di jarak yang sangat berdekatan.


"Beristirahatlah di kamar!" bisik Aiden yang menempelkan bibirnya di daun telinga Rania.


Dan berhasil membuat tubuh Rania meremang karena geli. Pikiran Rania pun makin menjalar kemana-mana.


"Bos, jangan mesum!"


Seketika Aiden menautkan dahi kebingungan. Akan tetapi detik berikutnya dia paham akan maksud Rania.


"Kamu pikir aku akan melakukan apa? Aku memintamu beristirahat di kamar. Nanti sore kita akan melihat sunset dari lantai atas."


Aiden melepas pelukannya dan saat itu juga Rania baru berani membalikkan badan. Sesaat mereka terdiam saling menatap.


Lalu bibir Aiden melengkungkan senyuman tipis kala mendapati pipi Rania yang bersemu merah. 


Ikatan tatapan mereka terputus begitu seorang pelayan datang dan mengatakan jika kamar Rania sudah disiapkan.


Siang sampai menjelang sore itu, Rania habiskan waktu di kamar. 


Sesuai perintah dari Aiden, dia memakai gaun berwarna salem yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan dan tidak lupa juga berdandan secantik mungkin.


Kening Rania mengerut bingung akan perintah Aiden itu. Tapi Rania menurut saja tanpa banyak bertanya.


Sampai pada saat melihat melihat langit jingga melalui jendela, Rania keluar dari kamar. Dia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Aiden.


Sayangnya tak ada satu pun orang di lorong. Bahkan satu pelayan pun tidak ada.


Lantas Rania menulis pesan pada Aiden.


Bos, aku sudah siap. Bos dimana?


Tak sampai satu menit, satu pesan balasan masuk.


Naik ke balkon lantai paling atas!


Rania melangkah menuju tangga. Derap langkah kaki saat menaiki tangga terdengar jelas di villa megah itu.


Sesampainya di balkon lantai paling atas, Rania dapat melihat pemandangan lautan dengan matahari yang setengah tenggelam di batas cakrawala.


Warna jingga senja menghiasi langit sore, tiupan angin membelai rambut Rania dan tidak ketinggalan suara merdu dari burung camar yang menukik terbang bebas di atas sana.

__ADS_1


Sesaat Rania terpana akan pemandangan yang menakjubkan itu, lalu atensi Rania beralih ke samping di mana Aiden berdiri dengan setelan jas abu-abu yang rapi.


__ADS_2