
Aiden masuk bergabung bersama Rania dan Abe di dalam lift. Seketika di dalam kotak besi itu suasana berubah menjadi dingin.
Dari ketiga orang itu tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Mereka saling diam dengan ekspresi berbeda-beda.
Aiden melirik tajam pada Rania melalui ekor matanya. Rania menunduk kepala tak tahu dirinya sedang diawasi oleh Aiden.
Sedangkan Abe yang berdiri diantara Aiden dan Rania hanya bisa menoleh kanan kiri sesekali. Lalu mengusap tengkuk yang meremang.
Sepertinya perang dingin akan segera di mulai.
"Apa ada pertemuan penting hari ini?" tanya Aiden tiba-tiba.
"Setahu saya ada pertemuan dengan Mr Thomas, Tuan," jawab Abe setengah ragu.
"Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara dengan Rania."
Lantas Abe pun menoleh pada Rania yang masih menundukan kepala.
"Rania, Bos Aiden bilang, apa hari ini ada pertemuan penting?"
Rania mendongakan kepala sedikit untuk dapat melihat wajah Abe dan sebisa munhkin untuk tidak melirik Aiden.
"Katakan ke Bos kalau jam dua siang ada pertemuan dengan Mr Thomas!" bisik Rania.
Kemudian Abe beralih memandang Aiden.
"Rania bilang, ada pertemuan dengan Mr Thomas pukul dua siang, Bos."
"Katakan pada Rania, aku mau pertemuannya dimajukan menjadi pukul satu."
Sial. Kenapa aku menjadi seperti tukang pos? Mereka kan berada di ruangan yang sama. Kenapa juga harus menitip pesan melalui aku sih? Batin Abe sambil menggaruk kepala kebingungan.
Melihat Abe diam saja, membuat Aiden membentak. "Cepat katakan!"
"I-iya, Bos."
Abe memutar badan menghadap Rania.
"Rania, kamu dengar kan tadi? Bos minta dimajukan menjadi pukul satu siang."
Ting.
Pintu lift pun akhirnya terkuak dan Aiden menjadi orang pertama yang keluar. Membuat Abe akhirnya bisa bernafas lega sebab dia tidak lagi menjadi burung pembawa pesan bagi Aiden dan Rania.
Tapi rupanya tak sampai di situ saja. Sepanjang hari itu, Aiden dan Rania berkomunikasi melalui Abe.
Meski kedua orang itu berada di dalam ruangan yang sama dan tentunya mereka mendengar ucapan masing-masing tapi mereka gengsi untuk berbicara langsung.
Dasar pasangan aneh. Umpat Abe dalam hati.
__ADS_1
Dan pekerjaan Abe sebagai pengantar pesan antara Aiden dan Rania berlanjut sampai empat hari lamanya. Menjadikan Abe merasa lelah dan tak tahan lagi.
Akhirnya dia putuskan di hari ke enam untuk mengembalikan hubungan Aiden dan Rania seperti sedia kala.
Tepat saat berada di ruangan hanya bersama Aiden, Abe memberanikan diri untuk membuka suara.
"Bos, apakah Bos tidak lelah melancarkan perang dingin dengan Rania? Bukankah ini terlalu kekanak-kanakkan?"
Aiden mendongak dari berkas yang dia baca untuk menatap Abe dengan sorot tajam.
"Maksudmu, aku kekanak-kanakkan?"
"B-bukan b-begitu, Bos," kata Abe gagap. "Hanya saja Bos tidak ingin berbaikan dengan Rania, begitu?"
Aiden menghela nafas sekaligus membanting berkas ke meja. Dia memalingkan pandangan ke jendela kaca di mana terlihat jelas pemandangan puncak-puncak gedung pencakar langit.
Apa yang dikatakan Abe memang ada benarnya. Tapi Aiden tidak tahu harus bagaimana caranya supaya hubungannya dan Rania seperti dulu lagi.
"Menurutmu apa yang salah dengaku, Abe? Kenapa Rania tidak menatapku dengan sorot penuh kagum seperti dulu?" tanya Aiden dengan tatapan melamun namun tangannya mengepal kuat.
Abe menghirup nafas panjang. Sebelum berbicara dia mengatur kata-kata yang pas untuk dapat berbicara dengan tanpa menyinggung perasaan bosnya yang sedang patah hati.
"Begini, Bos. Dari pandangan Rania, Bos Aiden mencintai Rania setelah Rania mengubah penampilannya. Jadi dia menganggap Bos tidak..."
Sejenak Abe menghentikan kata-katanya. Dia mendadak ragu untuk meneruskan. Takut jika kata yang selanjutnya keluar dapat membuat Aiden murka.
Akan tetapi Aiden melirik tajam pada Abe dengan sorot menyelidik.
"I-iya, kurang lebih seperti itu."
Aiden mendesah frustasi sambil memijat pangkal hidungnya.
"Lalu apa aku harus menyuruhnya berpenampilan culun lagi?" Aiden bergumam pelan sehingga hanya dia yang mendengar ucapannya.
"Dan satu lagi, Bos. Rania juga menganggap kalau Bos adalah pria yang kasar."
Kening Aiden mengerut seketika. "Kasar bagaimana? Kapan aku melakukan kasar padanya?"
"Ya, contohnya saat Bos Aiden menuntun Rania."
"Memangnya kenapa saat aku menuntun Rania?" Aiden bertanya denga wajah tanpa dosa.
"Bos lebih terkesan menyeret dari pada menuntun."
Aiden berdecak kesal. "Itu karena dia berjalan seperti keong."
"Tapi Rania jadi beranggapan kalau Bos Aiden pria yang kasar dan tidak sabar. Wanita itu ingin diperlakukan lembut dan romantis, Bos."
Aiden mendelikkan mata dengan alis yang menaut marah.
__ADS_1
"Kamu menggurui aku sekarang, heh? Mentang-mentang kamu sudah punya pengalaman memacari banyak wanita."
"Bukan begitu, Bos. Sebagai petualang cinta aku hanya ingin memberitahu saja."
Seketika jantung Abe berdetak kencang seperti mau copot melihat raut wajah Aiden yang sangat merah menahan amarah.
Dia mengusap tengkuknya dan berusaha tersenyum, meski tubuhnya sedang dilanda gugup.
Hanya dengan gerakan tangan, Aiden meminta Abe untuk keluar dari ruangannya.
Sepeninggalan Abe, Aiden duduk termenung memikirkan perlakuannya terhadap Rania sejak hari pertama wanita itu bekerja.
Di gedung yang sama tapi di ruangan berbeda, Rania pun tengah duduk termenung sambil bertopang dagu.
Lamaran Aiden masih mengusik benak Rania. Meski sudah jelas dia menolaknya.
Kemudian dering ponsel di atas meja menyadarkan Rania dari lamunan. Dia menghela nafas kala menatap ponsel yang terus meraungkan panggilan masuk dari Carlos.
Rania menolak panggilan itu, menaruh ponsel ke atas meja dan kembali memfokuskan diri ke pekerjaannya.
Namun, tak berselang lama ponsel Rania kembali menderingkan panggilan dari orang yang sama.
Terpaksa Rania mengangkat telepon dari Carlos dengan menahan kesal.
"Mau apa lagi kamu menghubungiku?" tanya Rania dengan ketus begitu sambunga telepon terhubung.
"Rania, Sayang, aku ingin kita balikan. Please, Rania, aku sangat mencintaimu," ucap Carlos memelas.
"Tapi aku tidak mencintaimu, Carlos," sahut Rania tegas.
"Please, Rania, tolong terima aku lagi. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Naomi supaya supaya bisa kembali denganmu, Sayang."
"Carlos, sudahlah. Aku sedang sibuk. Jangan telepon aku lagi!"
Tut.
Rania langsung mematikan telepon tanpa mau mendengar perkataan bullshit dari Carlos. Lalu dia mengalihkan perhatian ke berkas yang harus segera dia serahkan pada Aiden.
Tapi lagi-lagi ponsel Rania berdering. Membuat Rania menggeram kesal bahkan sampai memukul meja.
Diangkatnya telepon itu tanpa melihat nama yang terpampang di layar ponsel. Sebab Rania yakin kalau si penelepon itu adalah Carlos yang terus memintanya kembali menjalin hubungan.
"Carlos, sudah aku katakan aku tidak mencintaimu. Aku hanya mencintai pria bernama Aiden Abimanyu. Aku mendekatimu hanya untuk membuat Aiden cemburu. Kamu paham, heh?"
"Rania, ini aku," jawab seseorang di seberang telepon sana.
Menjadikan Rania membulatkan mata seketika saat menyadari suara orang yang meneleponnya.
Lantas Rania melirik nama yang tertera di layar ponselnya saat ini.
__ADS_1
"Sial. Ternyata aku berbicara dengan Bos Aiden."