My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
28 Tidak Ada Pengulangan


__ADS_3

Rania keluar dari lift, berjalan menghampiri Aiden yang sejak tadi menunggunya di Lobby. Tampak tak ada kesedihan dalam diri Rania setelah putus dari Carlos.  


Karena memang, sejak awal Rania tak menaruh hati sesikit pun pada Carlos. Dia hanya memanfaatkan pria itu untuk membuat Aiden cemburu dan bonusnya, Rania memiliki sopir pribadi yang bersedia mengantarnya kemana pun dia pergi tanpa perlu digaji. 


Aiden menatap Rania yang mendekat. Lalu bibir Aiden melengkungkan senyuman. 


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku jauh lebih baik," jawab Rania singkat. "Hanya sedikit lelah. Aku ingin cepat pulang, Bos."


Aiden dan Rania hendak melangkah tapi teriakan Carlos menghentikan pergerakan kaki mereka. Lantas secara bersamaan keduanya menoleh ke arah Carlos yang kini telah memakai piyama meski asal-asalan. 


Rania berdecak sembari memutar kedua bola matanya malas. Segera dia menarik tangan Aiden untuk masuk ke dalam mobil. 


Carlos yang tak mau menyerah begitu saja, mengejar dan mengetuk kaca mobil, memanggil nama Rania agar wanita itu memberinya waktu berbicara. 


"Rania, dengarkan aku! Aku mau kita balikan. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, Sayang."


Namun, Rania tetap meminta Aiden untuk lekas menancapkan gas, meninggalkan Carlos yang mengerang frustasi. 


Di perjalanan, Aiden mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sedangkan Rania menyandarkan punggung untuk merehatkan tubuhnya yang lelah akibat penerbangan panjang yang baru dilaluinya. 


"Kamu tahu? Selama ini kamu hanya dijadikan selingkuhan oleh Carlos," ungkap Aiden tanpa menoleh pada Rania. 


Aiden pun baru mengetahui fakta itu. Setelah dia sampai di bandara dan mendapatkan pesan dari Abe yang mengatakan bahwa Carlos dan Naomi telah menjalin asmara sebelum mengenal Rania.


Aiden juga mendapat laporan kalau semalam Carlos dan Naomi kedapatan mabuk-mabukan di sebuah club malam dan berakhir keduanya pergi ke apartemen Carlos. 


Sesaat hening tak ada tanggapan dari Rania atas penuturan Aiden. Membuat Aiden mengerutkan kening dan menoleh ke arah Rania yang ternyata tertidur dengan posisi membungkuk. 


Aiden mendengus kasar. Dia menggeram kesal karena orang yang diajak bicara malah tertidur. 


"Enak sekali dia tidur," Aiden menyeringai kala benaknya mendapat sebuah ide jahil. 

__ADS_1


Seketika Aiden memepercepat laju kendaraan tapi tak lama dia mendadak menginjak rem yang berhasil membuat tubuh Rania terhuyun ke depan dan mencium dashboard. 


Rania mengerang kesakitan. Dengan mata setengah mengantuk dia menoleh pada Aiden sambil tangannya mengusap kening yang benjol. 


"Aduh, Bos yang satu ini kebiasaan mengerem mendadak. Bahaya tahu," kata Rania ketus. 


"Siapa suruh tidur saat aku bicara."


Aiden menyeringai menahan tawa. Lalu dia melajukan kembali mobil dengan kecepatan sedang. 


"Memang Bos bicara apa?" 


"Tidak ada pengulangan."


"Ooh ya sudah lagi pula siapa juga yang mau mendengarkan Bos bicara," Rania berkata dengan santainya dan kembali mencari posisi enak untuk kembali tidur. 


Namun Aiden yang mendengar ucapan Rania, sontak membulatkan mata dan melirik penuh ancaman. 


"Apa katamu?" raung Aiden marah. 


*


*


*


Keesokan harinya, Abe berjalan tergesa-gesa di antara koridor kantor. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Abe, menyapa penuh hormat tapi asisten pribadi itu hanya membalas hanya dengan anggukan singkat. 


Sebab saat ini, Abe baru saja mendapat telepon dari Tuan Aiden untuk segera ke ruangan CEO. Sesampainya di sana, sudah ada Rania yang duduk di depan Aiden dan Abe pun bergabung duduk di samping sekretaris itu. 


Saat ini fokus Aiden ada pada laptop di depannya. Rahang Aiden mengetat marah dan tak lupa tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. 


Lantas Aiden memutar laptop agar layarnya menghadap ke arah Abe dan Rania yang secara bersamaan mencondongkan tubuh untuk dapat melihat tulisan di layar laptop. 

__ADS_1


Rania dan Abe membaca tulisan yang merupakan artikel di website berita seputar dunia bisnis.


Berita itu mengabarkan kalau saat ini perusahaan Irawan Group sedang dalam keadaan pailit dan proyek kerja sama dengan Alastar Corp dinilai hanya akan menghamburkan dana perusahaan. 


Rania dan Abe langsung mengerti jika berita itu hanya sebuah hoax belaka. Karena mereka tahu sendiri jika perusahaan Irawan Group dalam keadaan baik-baik saja. 


"Saya akan segera menghubungi admin untuk segera menghapus berita itu, Bos," kata Abe begitu selesai membaca. 


"Ya,  tapi masalahnya sebagian investor telah terlanjur percaya dengan berita ini, dan sekarang mereka menarik saham dari Irawan Group," kata Aiden dengan menampilkan wajah menahan amarah. 


"Pasti orang yang menyebar berita ini bukan orang sembarangan," kata Rania yang membuat Aiden dan Abe menoleh ke arahnya. 


Membuat Rania buru-buru menambahkan, "Para investor tidak akan mudah percaya begitu saja pada berita macam itu kalau bukan karena mereka tidak diberitahu oleh orang kepercayaan mereka, kan?"


"Rania, benar. Tapi siapa?" Abe merenung sambil dahinya yang mengerut. 


"Itu tidak penting. Sekarang yang lebih penting adalah mengadakan rapat bersama para pemegang saham untuk meluruskan masalah ini," Aiden mengalihkan pandangan pada Rania. "Aku mau kamu persiapkan rapat secepatnya."


Rania menganguk dengan gelagapan. Lantas dia segera melesat keluar untuk beralih ke ruangannya. 


Di sana tepatnya di samping meja kerja Rani, Bella tengah duduk santai sambil mengikir kuku panjangnya. Bella bersiul dan begitu melihat Rania yang gelisah, dia tersenyum tipis. 


"Hari yang sibuk ya?" sindir Bella. 


Rania diam tak memperdulikan Bella yang meliriknya sinis. 


Sementara itu, masih di ruang CEO, Aiden mengangkat telepon dari seseorang.


 Abe yang memandang bos nya tidal tahu isi pembicaraan itu. Akan tetapi Abe yakin Aiden baru saja mendapatkan kabar buruk. Terlihat jelas dari raut wajah Aiden yang memancarkan aura kemarahan sekaligus kekesalan dalam satu waktu bersamaan. 


"Baik," ucap Aiden sesaat sebelum menutup telepon. 


Lalu pandangan Aiden beralih kepada Abe. "Aku harus pergi ke Surabaya. Kantor perusahaan cabang sedang mengalami masalah."

__ADS_1


"Biar saya saja yang mengurusnya, Bos. Bukankah Bos harus menghadiri rapat bersama para pemegang saham."


"Tidak bisa. Aku harus tetap kesana."


__ADS_2