
Aiden menjatuhkan kepala untuk mendaratkan ciuman di bibir Rania. Dilumaaatnya bibir ranum itu dengan sangat rakus sebagai bentuk pembalasan akan kemarahannya tadi siang.
Lalu dia mengangkat kepala melepas ciuman. Baik Aiden dan Rania sama-sama terengah kehabisan nafas.
Dada mereka naik turun begitu pula degup jantung yang semakin berpacu cepat.
"Aku minta maaf, Bos. Tadi siang aku gugup dan takut," ungkap Rania jujur.
Sedangkan tangan Aiden mengusap wajah Rania, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
"Kenapa juga harus takut?"
"Karena dari yang orang bilang, kalau malam pertama itu pasti sangat sakit."
Aiden menarik nafas panjang. "Baiklah. Aku tidak akan bersikap egois. Jika nanti di tengah permainan kamu kesakitan, aku akan berhenti."
"Sungguh?"
Aiden mengangguk sebagai jawaban. Kemudian dia kembali mengecup bibir Rania dan kali ini dia mendapatkan balasan.
Dengan mata terpejam, Rania pun ikut menggerakan lidah, menelusuri rongga mulut, dan beradu dengan lidah milik Aiden.
Semburat rona merah terpancar dari pipi Rania. Dia tersipu malu meski pernah berciuman dengan Aiden, tapi baru kali ini dia bisa sangat berani.
Sesenak mereka tersenyum. Lalu Aiden menutunkan kecupan ke leher, meninggalkan banyak tanda merah di sana sambil tangan yang bergerak cekatan membuka kancing piyama Rania.
"Bos, aku malu," ucap Rania menutup kembali piyama yang telah terbuka.
Aiden berdecak kesal. "Kita kan pernah mandi bersama, jadi untuk apa harus malu. Aku bahkan sudah pernah melihat setiap jengkal tubuhmu."
Rania terkekeh. "Iya juga ya."
Aiden terduduk di samping tubuh Rania yang terbaring di atas ranjang. Lantas Aiden membuka pakaiannya tepat di hadapan Rania dengan gaya yang penuh sensual.
Dari pandangan Rania, cara Aiden melepas pakaian sangatlah seksi dan menggoda. Bak seorang model bintang iklan.
Sampai-sampai Rania harus menelan saliva dengan keras. Tapi begitu sadar, dia memalingkan wajah.
Rania menghirup nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut. Meskipun takut, namun tak bisa dipungkiri ada rasa penasaran dalam diri Rania seperti apa rasanya bercinta.
Sehingga dia membiarkan saja tangan Aiden yang bergerak melucuti pakaiannya.
Rania menoleh menghadap Aiden dan dia menyadari bahwa saat ini sudah tak ada lagi kain penghalang di tubuh mereka berdua.
Detik berikutnya mereka berperang bibir, dengan tangan Aiden yang turun mengusap serta memijat dua benda kenyal milik Rania.
__ADS_1
Suara erangaaan dan desahaan lolos dari bibir Rania yang menjadikan suasana di dalam kamar menjadi bertambah panas.
Ciuman Aiden turun juga dengan tangannya yang sekarang bermain di lembah kenikmatan. Sementara lidah Aiden memainkan puncak bukit kembar Rania.
"Bos Aiden," ucap Rania dengan suara yang syarat akan kenikmatan.
Sejenak Aiden menghentikan permainannya dan menatap Rania.
"Katakan saja jika kamu ingin berhenti, oke?"
Rania mengangguk.
Setelah puas memainkan bukit kembar, kepala Aiden turun mengecup perut lalu melahap bibir mahkota Rania yang membuat wanita itu memekik penuh nikmat.
Suara desaahaan dari bibir Rania semakin terdengar keras dan tidak bisa Rania kecilkan.
Namun, baik Rania maupun Aiden sama-sama tak peduli. Toh, mereka hanya tinggal berdua di rumah baru itu.
Memang ada asisten rumah tangga dan juga penjaga tapi di jam seperti ini mereka pastilah sudah terlelap.
Tidak seperti Aiden dan Rania yang sepertinya akan melewati malam panjang mereka dengan melakukan petualangan baru.
"Bos, masukan sekarang!" perintah Rania setelah tak dapat menahan gejolak di dalam diri.
Kemudian Aiden memposisikan juniornya siap menerobos milik Rania. Tapi tiba-tiba Rania merentangkan tangan menahan perut Aiden.
Menjadikan Aiden mengerutkan kening menatap wajah Rania.
"Kira-kira sakit tidak ya?"
"Kita tidak tahu sebelum mencobanya," jawab Aiden yang hendak melanjutkan memasukan junior.
"Tunggu dulu!"
Aiden berdecak kesal. Hasratnya sudah ada di puncak ubun-ubun dan dia sudah tidak tahan lagi melepas keperjakaannya.
"Apa lagi?"
Rania tersenyum meski di jantungnya berdegup kencang.
"Tidak. Lanjutkan!"
Aiden melanjutkan memasukan junior bersamaan dengan Rania yang berteriak kesakitan sambil meremas seprai.
Awalnya, Aiden menghentak pelan. Namun, seperti ada dinding penghalang yang menjadikan Aiden menghentak lebih keras, tepat saat itu juga Rania menjerit merasakan sakit di bagian inti.
__ADS_1
Hingga milik Aiden telah masuk seluruhnya ke dalam milik Rania, lalu dia pun menggerakan pinggang naik turun secara perlahan.
"Kamu mau berhenti?" tanya Aiden memastikan.
"Teruskan, Aiden."
Aiden mengulas senyum, sebelum akhirnya dia melumaat bibir Rania tanpa menghentikan gerakan pinggang terus menyodok di bawah sana.
Semakin lama, Aiden semakin mempercepat tempo. Suara jerit kesakitan Rania berubah menjadi rintihan kenikmatan.
Sedangkan Aiden menggerang penuh kenikmatan tiada tara yang baru pertama kali dia rasakan.
"Aiden, aku sepertinya mau pipis."
"Sebentar lagi kamu akan mencapai puncak, Sayang," jelas Aiden yang juga merasakan sesuatu yang siap meledak di dalam dirinya. "Kita keluarkan sama-sama, oke?"
Aiden mempercepat hentakan lalu serempak Aiden dan Rania memekik melepas sesuatu yang sejak tadi mereka tahan.
Tubuh keduanya bergetar merasakan sesuatu yang hangat menyembur di dalam. Kemudian Aiden menjatuhkan diri di samping Rania, memeluk tubuh istrinya yang licin oleh keringat.
"Kamu sudah mengeluarkan benih calon anak kita?" tanya Rania.
"Kita tinggal tunggu mereka tumbuh di dalam sini," ucap Aiden mengusap perut Rania.
Lalu Aiden mengecup sekilas puncak kepala istrinya sebelum melakukan ronde kedua.
Malam yang dingin itu dilalui oleh sepasang suami istri dengan olahraga malam yang tak ingin mereka akhiri mungkin sampai pagi.
Sepanjang malam itu pula, Aiden terus membisikan kata-kata cinta pada sang istri. Tentu saja Rania sangat tersanjung mendengar ucapan tulus dari seorang Aiden.
"Aku mencintaimu, Bos."
"Aku juga sangat mencintaimu, Rania."
*
*
*
Maaf, novel ini author tamatkan sampai sini. Terima kasih yang sudah menyempatkan waktu untuk baca.
Dan mohon maaf jika novel ini masih banyak banget kurangnya.
Author undur diri dan sampai jumpa lagi. 😊
__ADS_1