My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
25. Bella Iri


__ADS_3

Aiden memimpin jalannya rapat hari ini tampak memancarkan aura hangat tak seperti biasanya. Beberapa karyawan bahkan sampai saling lirik tak percaya akan perubahan sikap tuan mereka.


Hal itu terjadi karena kedekatan Aiden dengan Rania tentu saja. Tapi ada satu lagi yang membuat Bos Dingin itu mendadak mencair. 


"Perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan dari London, Alastar Corp," ungkap Aiden pada seluruh peserta rapat. 


Semua peserta rapat mengangguk paham. Mengerti penyebab Tuan Aiden menjadi terlihat bahagia karena perusahaan Irawan Group akan mendapatkan untung besar jika kerjasama dengan Alastar Corp berhasil disepakati.


"Dan saya menunjuk kau menjadi sekretaris yang akan menangani proyek bersama Alastar Corp," tutur Aiden sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Rania.


Namun orang yang ditunjuk malah menoleh ke kiri dan kanan. Membuat Aiden menghela nafas jengah dan memutar bola malas.


"Rania, aku menunjukmu."


"Aku, Bos?" tanya Rania bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, dan minggu ini kita akan ke London untuk menemui langsung Tuan Gerald."


Seketika Bella berdiri dari duduknya. Membuat perhatian semua orang tertuju pada sekretaris yang satu itu.


Bella mengetatkan rahang, jelas sekali jika wanita itu tidak terima dengan keputusan Aiden. Tentu saja Bella ingin dialah yang ikut menemani Aiden pergi ke London.


"Maaf, Tuan. Tapi Rania, dia sekretaris baru yang belum tahu apa-apa. Apalagi untuk menjaga sikap di depan Tuan Gerald," kata Bella melirik penuh iri pada Rania.


Kemudian Bella kembali menatap tajam Aiden.


"Saya mengkhawatirkan kontrak kerjasama dengan Alastar Corp gagal hanya karena sekretaris yang selalu membuat malu ini."


Secepat kilat, Rania juga ikut berdiri dengan melayangkan tatapan menghunus ke arah Bella. Dia tidak terima jika dikatakan selalu membuat malu. Meski ucapan Bella memang benar adanya.


Rania yakin kalau Bella hanya sedang iri karena dia yang ditunjuk oleh Aiden untuk pergi ke London. Bukan Bella yang selalu merasa hebat.

__ADS_1


"Akan aku buktikan kalau kontrak kerja sama dengan perusahaan Alastar Corp berjalan sesuai rencana," Rania berkata mantap.


Sementara Bella melipat tangan di depan dada sambil manik matanya memutar malas.


"Oh ya? Kamu yakin? Gadis culun sepertimu mana bisa," oceh Bella mencemooh.


"Jangan sombong kau ya, Bella! Mau aku jambak lagi rambutmu sampai rontok," raung Rania tersulut emosi.


Bella menunjuk Rania dengan tatapan menghadap ke Aiden.


"Tuan, lihat kan? Kelakuan Rania seperti ini yang akan membuat Tuan Gerald ilfeel," Bella mengalihkan pandangan kepada Rania dengan sorot mencemooh dan angkuh dalam satu waktu bersamaan. "Asal kamu tahu, Tuan Gerald orang yang perfeksionis."


Brak.


Aiden menggebrak meja yang membuat semua orang terlonjak kaget. Termasuk Bella dan Rania yang sedang bersitegang.


Melihat tatapan mengerikan dari manik mata Aiden, menjadikan baik Bella maupun Rania mau tak mau menghempaskan diri ke kursi.


Semua orang menunduk takut. Bahkan sekedar untuk melirik ke arah bos besar pun, mereka tidak berani.


"Aku akan tetap pada keputusanku. Tugas ini akan menjadi tantangan terakhir yang dilakukan oleh Rania," Aiden menoleh pada Rania. "Waktumu hanya tinggal satu minggu lagi, bukan?"


Rania menganggukan kepala teringat jika kesempatan untuk membuktikan diri jika dia bisa bekerja dengan benar hanya tersisa satu minggu.


"Nah ini akan menjadi tantangan terakhirmu. Jika proyek ini berhasil maka kamu akan tetap menjadi sekretaris dan seandainya gagal maka…" Aiden tak melanjutkan ucapannya. Dia lebih memilih mengangkat bahu. "Kamu sendiri tahu akan jawabannya."


Seketika itu tanpa ada yang melihat, Bella melengkungkan senyuman seringai sambil menatap lekat Rania.


Tentu saja dia tidak akan tinggal diam jika ada orang yang mengancam posisinya.


*

__ADS_1


*


*


"Rania, Rania, Rania," teriak Bella penuh geram saat wanita cantik itu berada di toilet wanita.


Dada Bella naik turun, rahang mengetat dan dia menatap bayangan di cermin dengan kedua tangan mengepal.


Sekali lagi dia berteriak untuk melampiaskan amarah yang sejak tadi ditahan saat berada di ruang rapat.


Dia mendengus kesal begitu mengingat wajah Rania yang kini mulai berani menantangnya. Tidak seperti ketika gadis itu baru pertama kali masuk kerja.


Amarah Bella semakin memuncak kala menyadari tatapan hangat Aiden kepada Rania. Dia yakin jika Tuan Aiden yang selama ini dia incar telah jatuh hati pada gadis culun bernama Rania.


Bella yakin jika Aiden menunjuk Rania untuk menemani ke London pasti hanya sebuah alasan agar mereka bisa berlibur berdua.


"Tidak akan aku biarkan. Aku akan melakukan segala cara agar Rania enyah dari kantor ini," desis Bella.


Sejenak Bella berpikir, dia berjalan mondar-mandir di dalam toilet, mengacak rambut frustasi dan mengerang kesal.


"Kalau Rania yang menjadi sekretaris Tuan Aiden, percuma saja aku merengek pada Daddy untuk diizinkan bekerja di sini," geram Bella.


Ya sebenarnya, ayah Bella merupakan seorang anggota dewan dan sangat ingin Bella terjun ke ranah politik. Tapi Bella yang mengagumi Aiden sejak lama, memaksa sang ayah agar mengizinkannya bekerja sebagai sekretaris di Irawan Group.


Namun, dengan satu syarat, apabila Aiden memberhentikan Bella, maka dia mau tak mau harus menuruti kemauan sang ayah.


Tak lama datanglah Tara dan Wati, begitu masuk ke dalam toilet dan melihat Bella yang tampak gelisah, mereka langsung paham.


"Hai guys, bantu aku cari ide untuk menjatuhkan Rania," kata Bella dengan nada frustasi.


Sejenak Tara dan Wati saling tatap lalu mereka tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Itu gampang. Bukankah ayahmu seorang anggota dewan yang memiliki banyak relasi pengusaha dan investor," kata Tara.


Mendengar kata investor, membuat langkah Bella mendadak berhenti dan manik matanya membulat sempurna. Sebab di dalam benaknya kini tercetus sebuah ide cemerlang.


__ADS_2