
Kecupan lembut Aiden turun ke mata, hidung, dan bibir Rania. Membuat wanita itu tersipu malu dengan wajah yang sangat merah.
Aiden memajukan wajahnya hendak mencium kembali bibir Rania tapi tiba-tiba dadanya di tahan oleh kedua tangan wanitanya. Seketika dahi Aiden mengerut bingung dan langsung ditatapnya wajah Rania.
"Bos, ciuman itu bisa menyebabkan wanita menjadi hamil tidak?" tanya Rania begitu polos.
Sedangkan Aiden mendesah frustasi. Dengan nada malas dia pun jawab, "Tidak."
Lalu kembali memajukan bibirnya tapi lagi-lagi Rania menahanya.
"Bos, yakin?" Rania menyipitkan mata penuh selidik.
"Rania, please jangan pura-pura bodoh!" kata Aiden kesal. "Seorang wanita bisa hamil itu karena dia berhubungan badan dengan laki-laki bukan karena ciuman."
Rania terkekeh garing. Sejatinya dia pun tahu kalau ciuman tidak akan menjadikan seorang wanita hamil.
Tapi sejak tadi Rania gugup kala Aiden mendekatkan wajah. Sehingga dia melontarkan pertanyaan bodoh itu agar menggagalkan misi Aiden yang ingin menciumnya.
Sejenak Rania menarik nafas dan menghembuskannya melalui mulut untuk mengusir rasa gugup yang melanda.
"Baiklah. Kalau begitu cium aku, Bos."
Rania menutup mata. Siap mendapatkan kecupan dari Aiden.
Namun Aiden menyeringai sebab di benaknya terlintas ide untuk menjahili Rania.
Aiden pun berdehem lalu berkata, "Kita kembali saja ke kantor."
Membuat Rania segera membuka matanya dan melirik pada Aiden dengan bibir mengerucut kesal.
Kini giliran Aiden yang tertawa melihat ekspresi kesal Rania. "Aku bercanda."
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Rania. Baik Aiden dan Rania seketika menutup mata, meresapi sentuhan lembut bibir mereka yang melekat bagaikan telah dipakaikan lem.
Kemudian, mereka saling mengecap dan lidah mereka pun tak mau diam saling menerobos dan saling memainkan lidah satu sama lain.
Tangan Aiden menarik tubuh Rania untuk semakin jatuh ke dalam dekapannya. Dia mendekap seolah tak mau Rania pergi jauh.
"Kamu semakin pintar berciuman," kata Aiden setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Bos," pekik Rania memukul dada Aiden. Wajahnya yang merah, semakin bertambah merah karena malu.
__ADS_1
"Sore nanti aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus menjemput adikku tapi cepat atau lambat aku pasti akan menemui ibumu," Aiden berkata tanpa melepas pelukan.
Kepala Rania yang terbenam dalam dada Aiden pun hanya mengangguk pelan. Dia menghirup nafas panjang hingga indra penciumannya dapat menangkap wangi maskulin dari pria itu.
*
*
*
Dengan langkah yang ringan dan sesekali berjingkrak riang, Rania menapaki jalanan trotoar menuju rumahnya.
Senyum lebar terukir di bibir Rania sebab dia tak akan menayangka akan mendapatkan cinta dari seorang Aiden Abimanyu.
Namun, senyum di bibir Rania mendadak lenyap begitu melihat mobil terparkir di depan rumah.
Kening Rania mengernyit, dia tak tahu siapa orang yang bertandang ke rumahnya. Yang jelas perasaan Rania menjadi tidak enak.
Lantas dia pun masuk ke dalam rumah dan di ruang tamu, dia melihat Ajeng yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya.
Rania tak dapat melihat wajah si tamu karena memang pria itu duduk membelakanginya.
"Rania, kamu pulang, Nak," ucap Ajeng begitu menatap Rania masuk.
Dan betapa terkejutnya Rania saat menyadari bahwa si tamu itu adalah ayah kandungnya sendiri yang sudah belasan tahun meninggalkan Rania dan juga adiknya tanpa ada kabar.
Pria berkumis baplang itu mengingatkan Rania pada karakter Pak Raden dalam cerita serial si unyil. Tapi memang, nama ayah kandung Rania adalah Raden.
Bibir Raden tersenyum di bawah kumis hitam lebatnya kala melihat putri sulung yang sudah beranjak dewasa.
"Rania, kebetulan kamu sudah pulang. Ayah ingin bicara padamu."
"Ayah mau bicara apa?" Rania bertanya dengan nada kurang suka tapi dia tetap duduk di samping Ajeng.
"Apa kabarmu, Nak? Ayah dengar kamu bekerja sebagai sekretaris CEO," ucap Raden berbasa-basi.
Rania hanya menanggapi seperlunya saja dengan wajah menampilkan rasa kesal dan rindu di saat bersamaan.
Rania kesal pada ayahnya yang lama tak memberikan kabar sejak bercerai dengan ibu, apalagi memperdulikan dia dan Thalia.
Meskipun begitu, ada perasaan rindu di relung hati Rania.
Andai saja orang tuanya tidak bercerai mungkin mereka bisa menjadi keluarga yang utuh dan hangat. Seperti keluarga Aiden.
__ADS_1
"Apa tujuan Ayah datang kemari?"
Raden menundukkan kepala sejenak. Dia berdehem lalu mendongakan kepala lagi.
"Jadi begini, Rania. Ibu dan Ayah sudah sepakat agar kamu ikut ke Belanda dan tinggal di sana."
"Apa?"
Rania memekik terkejut dan langsung bangkit berdiri. Dia menatap Ajeng dan Raden secara bergantian sambil berharap salah satu dari kedua orang tuanya akan berteriak 'april mop'.
Tapi nyatanya baik Ajeng dan Raden hanya diam menunduk. Membuat Rania menghela nafas lesu.
"Aku tidak mau ikut Ayah ke Belanda. Aku mau tetap di sini," ucap Rania tegas.
"Tapi,Rania," Raden ikut berdiri berniat membujuk putrinya. "Ayah membutuhkanmu untuk membantu bisnis Ayah di Belanda."
"Aku tidak mau. Sekarang aku bekerja di Irawan Group, Ayah. Dan aku tidak mau meninggalkan pekerjaanku," Rania berkata setengah berteriak, meluapkan semua emosi yang terpendam.
Bagaimana bisa dia tidak emosi? Sewaktu Rania membutuhkan pekerjaan, Raden sama sekali tidak ada kabar apalagi datang menemuinya.
Tapi sekarang, setelah Rania nyaman dengan profesinya sebagai sekretaris, Raden datang dan meminta Rania tinggal di Belanda.
"Ayah dan ibumu sudah sepakat, Rania. Kamu akan tetap pergi ke Belanda," Raden tak kalah tegas pun berkacak pinggang penuh kuasa.
Seketika Rania bersimpuh di depan lutut Ajeng. Dengan wajah memelas dan manik mata yang berembun, Rania terus membujuk ibunya.
"Ibu, tolong beritahu Ayah. Aku tidak mau ikut Ayah. Aku mau di sini, Bu."
Ajeng pun yang sebenarnya tidak rela melepas Rania pergi bersama mantan suaminya hanya bisa menghela nafas.
Tapi Ajeng tidak punya pilihan lain. Dua jam telah dia habiskan berdebat dengan Raden hanya membahas tentang Rania yang akan tinggal di Belanda.
"Untuk apa kamu bekerja di perusahaan orang lain, Rania? Lebih baik kamu membantu mengembangkan bisnis Ayah ini yang nantinya akan diwariskan padamu," kata Raden kini mulai merendahkan suaranya. Meski masih bernada memaksa.
Rania menutup kedua telinganya. Tak mau mendengar apapun yang diucapkan oleh Raden.
"Tidak," pekik Rania. "Tidak mau. Aku tidak mau tinggal di Belanda."
Kemudian Rania berlari menuju kamar. Dia mengunci pintu, lalu menelungkup di atas kasur sambil memeluk bantal.
Rania menitikkan air mata. Namun secepat mungkin dia hapus jejaknya di pipi.
"Aku tidak mau pergi jauh dari Aiden. Aku tidak mau," gumam Rania pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1