
"Hanya ada satu cara untuk mengetahui mana pria yang bengkok."
Rania menatap Aiden dan Vincent secara bergantian. Tampan dia menelan saliva pertanda rasa gugup yang tiba-tiba melanda.
Sebuah ide gila muncul di benak Rania. Sesungguhnya dia malu untuk melaksanakan idenya.
Namun, apa boleh buat. Rania penasaran akan tuduhan yang dilontarkan pada Aiden benar atau tidak.
Sedangkan Raden mengerutkan kening melirik pada sulungnya. Ditatapnya dengan penuh selidik wajah Rania yang semakin menegang.
"Apa maksudmu, Rania?"
Rania tak langsung menjawab. Sesaat dia hanya menatap Aiden dan Vincent.
"Aku mulai dulu dari Bos Aiden," ucap Rania yang mendadak menarik lengan Aiden dan membawa pria itu masuk ke kamarnya.
Rania mengunci pintu kamar tak peduli pada teriakan Raden yang memanggil namanya dengan nada cemas. Bahkan Raden sampai menggedor pintu kamar meminta untuk dibuka.
Tapi Rania malah membalik badan menatap Aiden yang kini tengah dilanda kebingungan dan juga dilanda gejolak yang membakar dada.
Tampaknya obat perangsang yang dimasukan ke dalam minuman Aiden sudah mulai bekerja. Hanya berdua saja di dalam kamar bersama Rania, membuat jiwa laki-laki Aiden mulai meronta.
Apalagi sekarang, Rania melepas kuncir rambutnya dengan gaya yang menggoda ala-ala model iklan shampo di TV.
Rania mengibaskan rambutnya yang terurai indah. Lalu dia berjalan mendekati Aiden, melingkarkan tangan di leher pria itu serta menyunggingkan senyum menggoda.
Tentu saja perlakuan Rania ditambah efek obat, membuat sesuatu di bawah perut Aiden mulai bangkit dari tidurnya.
"Rania, apa yang kamu lakukan?" Aiden mencoba mendorong tubuh Rania agar menjauh.
Meski dalam hati dia sangat ingin memakan calon istrinya itu, tapi untung saja akal sehat Aiden masih bisa bekerja. Dia tak mau menyentuh Rania sebelum hari pernikahan.
"Lihat ini, Bos!" pinta Rania karena saat ini Aiden memalingkan wajahnya.
Rania mundur beberapa langkah. Tubuh Rania meliuk-liuk menari sambil tangannya melepas kancing baju dengan sangat menggoda iman.
Seketika Aiden membelalakan mata terkejut. Rania yang dia pikir gadis lugu dan polos, bisa melakukan hal macam itu di depan seorang pria.
"Rania, stop!" hardik Aiden penuh amarah. "Satu bulan kamu di luar negeri, tingkahmu sudah berubah seperti ini, hah?"
"Kenapa? Bos tidak mau?" tanya Rania melepas bajunya lalu melemparnya ke sembarang arah.
Untung saja, Rania memakai tank top berwarna hitam sebagai dalaman. Meskipun begitu, belahan yang berada di antara dua bukit kembar Rania terlihat dengan jelas oleh mata Aiden.
Terlebih tank top yang digunakan Rania sangat pas di badan. Sehingga Aiden dapat melihat dua bukit yang meski tertutup tapi dapat dipastikan bentuknya padat berisi.
Dengan susah payah, Aiden menelan salivanya. Lidahnya kelu untuk berkata dan meninta Rania berhenti menggodanya.
Mata Aiden tak pernah lepas dari pemandangan indah bentuk tubuh Rania. Membuat sesuatu di bawah sana mengeras dan sesak di balik celana.
__ADS_1
"Aku buka yang di bawah ya?" ucap Rania sambil menggerakan tangan hendak menurunkan rok yang dia pakai.
Sesungguhnya dia pun malu melakukan hal itu. Tapi rasa penasaran mendorong Rania untuk berbuat hal gila.
Sebelum tangan Rania menurunkan roknya, tubuhnya sudah lebih dulu diterkam oleh Aiden. Pria itu memeluk Rania sangat erat dan mencium bibir dengan sangat rakus.
Membuat Rania terkesiap sekaligus menikmati serangan dadakan itu.
"B-bos," kata Rania di sela-sela ciuman panas mereka.
Ciuman penuh gairah itu sudah cukup membuat Rania percaya kalau Aiden tidak berbohong. Pria yang akan menjadi suaminya itu memang laki-laki normal pada umumnya.
Maka tangan Rania pun mendorong dada bidang Aiden, tapi terlambat pria itu sudah mendekap erat Rabia bagai sudah diberi perekat, susah dipisahkan.
"Jangan salahkan aku, Rania! Kamu yang mulai terlebih dahulu."
Bisikan Aiden membuat Rania merinding. Apalagi tangan Aiden kini menyusup masuk ke dalam tank top dan meraba dua benda kenyal miliknya.
Tubuh Rania berdesir merasakan sensasi yang baru pertama kali dia rasakan dalam hidupnya. Sungguh, dia pun merasakan sebuah kenikmatan pada sentuhan Aiden, tapi dia bertarung dengan dirinya sendiri agar logika yang tetap berkuasa.
Kemudian Rania menjerit kencang. Membuat telinga Aiden yang kebetulan berada di dekat bibir Rania terasa sakit.
"Ayaaahhh! Ayaahh! Tolong aku!"
Di luar kamar, Raden semakin kencang mengetuk pintu begitu mendengar jeritan Rania. Naluri seorang ayah mulai bekerja untuk melindungi putrinya.
Dia mendobrak pintu kamar hingga berhasil terbuka.
Meski saat Raden berhasil masuk ke dalam kamar, Aiden sudah tak lagi menyentuh Rania, tapi tetap saja Raden tahu apa yang telah terjadi pada dua anak muda di dalam kamar.
"Rania, kamu tidak apa-apa, Nak?" Raden bertanya sambil memeluk Rania yang sudah memakai lagi kemeja walau belum sempat dikancing.
"Vincent yang berbohong, Ayah. Aiden bukan pria bengkok."
Vincent yang juga ikut masuk ke dalam kamar, mendadak membulatkan mata. "Kamu salah, Rania. Aiden yang justru memiliki kelainan. Dia hanya pura-pura berhasrat di depanmu."
Aiden berdecih melihat Vincent berdebat dengan Rania. Di saat dirinya diliputi gairah yang menggebu, dua orang itu malah berdebat sesuatu yang tidak jelas.
Maka dari itu Aiden lebih memilih keluar dari kamar dan masuk ke dalam toilet untuk menuntaskan hasratnya yang terganggu.
"Aku tahu seperti apa Bos Aiden."
"Sudah cukup!" teriak Raden melengking.
Selama ini menurut penilaian Raden, Vincent memang dianggap sebagai orang kepercayaannya yang selalu jujur dan menuruti perintah.
Namun, kali ini Raden lebih percaya pada putrinya. Apalagi Rania sudah melakukan percobaan gila terhadap Aiden.
"Tuan, percaya padaku! Bisa jadi Aiden itu biseksual. Wanita suka, pria juga suka."
__ADS_1
"Diam, Vin!" hardik Rania. "Sudah cukup kamu memfitnah Aiden. Bahkan kamu juga berbohong kalau Ayah tidak merestui hubungan aku dengan Aiden kan?"
"Apa?" Raden tampak terlonjak akan penuturan Rania. "Jadi selama ini kamu tidak diberitahu yang sebenarnya?"
Lantas Rania menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. Lalu Rania melempar pandangan ke arah Vincent yang kini berwajah pucat.
Begitu pula Raden yang menatap dengan tajam karena merasa dibohongi. Entah apa maksud Vincent melakukan hal itu tapi yang pasti otak Raden mulai menghubungkan semuanya.
"Oh sekarang aku paham. Sejak awal kamu tidak menginginkan Rania bersama Aiden karena kamu sendiri terpikat oleh pesona calon menantuku, kan?"
Seketika Vincent gelagapan. Meski kepalanya menggeleng keras tapi bahasa tubuhnya tidak bisa dibohongi.
"Tidak, Tuan. Bukan begitu."
Raden memandang asistennya dengan dada naik turun karena memendam amarah yang bergejolak.
Awal pertemuan dengan Aiden, memang Raden kurang menyukai sikap pria muda yang sombong itu. Ditambah dia sadar saat itu, Vincent terus meracuni pemikiran Raden yang menjadikannya membawa Rania dengan cara paksa.
"Mulai detik ini kamu dipecat, Vin!"
Sebuah kalimat terlontar yang membuat pemuda bernama Vincent tercengang.
Vincent mendongakan kepala. Menatap Raden dengan mata yang menyala penuh rasa kecewa dan tentunya rasa marah.
"Tapi, Tuan. Apa salah saya?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Vin! Aku pikir kamu adalah pemuda polos dan jujur tapi nyatanya di balik semua itu, aku baru sadar kalau kamu juga senang menghasut."
"Tuan, saya hanya berbohonh satu kali. Hanya karena saya tidak memberitahu Rania tentang pernikahannya, saya langsung dipecat seperti ini, Tuan?" ucap Vincent memasang wajah kecewa supaya dialah yang tampak terdzolimi dalam hal ini.
Raden mengusap kumis hitam lebatnya sesaat. Pertanda dia sedang berpikir.
Tak berselang lama, bibir Raden menyunggingkan seringai.
"Seharusnya aku lakukan ini dari dulu," gumam Raden.
Lalu pria paruh baya itu, mengulurkan tangan yang membuat kening Vincent mengerut dan memandang Raden untuk meminta penjelasan.
"Mana ponsel kamu? Aku penasaran, apa saja isi di dalam ponselmu."
Deg.
Saat itu juga Vincent menelan saliva dengan tubuh yang menegang, sebab semua rahasianya tersimpan di dalam benda canggih itu.
*
*
*
__ADS_1
Hai reader, maaf nya alurnya jadi muter-muter gini. Tenang aja, setelah ini cus Rania dan Aiden sah... 😁
Dan cerita ini juga ga akan terlalu panjang jadi jangan kaget kalau tiba-tiba end ya? Hihi