My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
38 Firasat


__ADS_3

Mata bulat Raden membelalak menatap pada pria muda congkak yang saat ini berdiri di hadapannya. Kumisnya bergerak-gerak pertanda dia sangat marah.


"Hai, anak muda, siapa kau? Berani-beraninya mencampuri urusan orang lain," gertak Raden.


Aiden yang membalas dengan tatapan tajam pun menarik satu lengan Rania untuk lebih dekat dengannya.


"Saya Bos sekaligus pacarnya Rania," sahut Aiden tegas.


Lantas Raden pun tak mau kalah. Dia juga menarik lengan Rania yang satu lagi sehingga kini tubuh Rania bergeser ke arahnya.


"Dan saya bapaknya. Saya yang lebih berhak mengatur Rania."


Detik berikutnya, terjadilah tarik-menarik lengan Rania. Raden di sisi kanan dan Aiden di sebelah kiri.


Dua pria beda generasi itu saling adu kekuatan untuk menarik Rania dan keduanya juga tak ada yang mau mengalah.


Sampai Rania yang menjadi bahan rebutan pun tak kuasa untuk tidak berteriak menahan rasa sakit.


"Ayah, Bos Aiden, sakit."


"Hai, kau dengar? Anakku kesakitan," bentak Raden pada Aiden.


"Aku akan melepasnya jika Anda juga melepaskan tangan Rania."


"Baik. Kalau begitu kita lepaskan bersama-sama."


Aiden dan Raden bersama-sama berhitung. "Satu, dua, tiga."


Aiden melepas tangan Rania tapi tidak dengan Raden. Pria paruh baya itu menyeringai sambil menarik tangan Rania.


"Anda curang," teriak Aiden yang berlari menyusul Raden masuk ke dalam rumah.


Namun, tepat saat itu ada sebuah tangan yang menahan kerah bajunya dari belakang. Membuat Aiden memutar badan untuk dapat melihat orang yang telah mengganggunya.


Di belakang Aiden rupanya telah berdiri seorang pria muda berbadan kurus dan wajah yang tirus. Dari sorot matanya terpancar aura kebencian dan juga permusuhan.


Menjadikan Aiden menepis tangan pria itu dengan geram.


"Siapa kau?"


Belum sempat pria itu menjawab. Dari dalam rumah, Raden berteriak memberi perintah padanya.


"Vincent, habisi pria sombong itu!"


Vincent tersenyum penuh arti sambil menggertakkan jemarinya. Kemudian dia memasang kuda-kuda ala atlet pencak silat siap bertarung.


"Oh, kau ingin adu kekuatan denganku, heh?"


Merasa tertantang, Aiden pun membuka jas, melipat lengan kemeja dan ikut memasang sikap kuda-kuda. 


Dan detik berikutnya, pertarungan antara Aiden dan Vincent tak dapat dielakan. Mereka berdua seimbang saling memukul dan menangkis serangan lawan.

__ADS_1


Sementara Rania yang melihat dari jendela merasa khawatir akan kondisi Aiden di luar sana. Tapi apa daya, Raden menghalangi serta mengunci pintu.


Rania menggedor-gedor kaca jendela dan terus berteriak agar dua pria di depan rumahnya berhenti berkelahi. Dia menangis melihat wajah memar Aiden.  


Asisten pribadi Raden yang bernama Vincent itu telah merusak wajah tampan kekasih Rania. Membuat Rania sangat geram dan mengutuki Vincent.


Meski kondisi wajah Vincent sendiri jauh lebih parah dari Aiden.


"Ayah, tolong hentikan mereka!" rengek Rania sambil menangis.


"Ayah akan hentikan mereka kalau kamu masuk ke dalam kamar dan jangan berusaha untuk kabur," sahut Raden dengan suara memaksa.


Rania menghela nafas. Sekilas dia melirik pada Aiden yang ada di halaman depan sana tengah memiting lengan Vincent.


"Ayah jahat!" teriak Rania yang kemudian langsung berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamar.


"Raden, hentikan mereka! Dia itu Bos Rania dan anak dari sahabatku," kata Ajeng mendelik pada mantan suaminya.


Lantas Raden membuka pintu dan meminta Vincent berhenti menyerang Aiden.


Seketika Aiden yang berhasil membanting tubuh Vincent tanah langsung menghampiri Raden dan hendak menerobos pintu.


"Mana Rania?" tanya Aiden dengan bibir gemetar dan juga berdarah.


"Sebaiknya kamu pulang, Nak Aiden."


Bukan Raden yang berkata. Melainkan Ajeng. Wanita itu menatap Aiden dengan sorot penuh kasih selayaknya ibu pada anaknya.


Ajeng menganggukan kepala mantap. Seolah menyakinkan Aiden untuk menuruti saja perintahnya.


"Pulanglah! Rania akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."


"Tapi…"


"Nak Aiden," sela Ajeng dengan suara lembut lalu tersenyum. "Ini masalah keluarga kami. Nak Aiden tidak perlu mencemaskan Rania."


Aiden menarik nafas dalam. Dia akhirnya menuruti perintah Ajeng untuk kembali ke kantor.


Dia masuk ke dalam mobil dengan terus dipandangi oleh Ajeng dengan tatapan yang tak menentu. 


Ada segelintir dugaan dalam diri Ajeng bahwa Rania dan Aiden saling mencintai tapi saat ini perasaan Ajeng didominasi oleh rasa bersalah.


Bagaimana jadinya jika Kirana tahu putra sulungnya dihajar oleh asisten mantan suami Ajeng? Pastinya dia merasa tidak enak hati pada Kirana.


Selepas melihat mobil Aiden meninggalkan halaman, Ajeng melempar tatapan menghunus pada Raden.


Begitu juga Raden yang mendelik dan berkacak pinggang yang membuat dia tampak berkuasa di rumah mantan istrinya.


"Kamu tidak bisa memisahkan Rania dengan Aiden."


"Oh, jadi nama pria itu Aiden," Raden mendengus. "Hai, dengar Ajeng. Apapun yang terjadi aku akan membawa Rania. Sudah cukup dia menderita bersamamu. Lihatlah rumahmu yang sudah tua ini! Pasti selalu bocor kalau hujan. Iya kan?"

__ADS_1


Manik mata Raden menyapu ke sekeliling dengan sorot meremehkan. Menjadikan Ajeng naik pitam dan maju satu langkah mendekati Raden.


"Iya, rumahku memang sederhana. Lalu kenapa, hah? Lalu kenapa pria sombong seperti kamu masih menginjakan kaki di rumah ini," Ajeng mendorong dada Raden hingga pria itu mundur beberapa langkah. "Pergi sana!"


"Aku akan pergi dengan membawa Rania. Dia pasti akan bahagia tinggal bersamaku di Belanda."


Perdebatan Ajeng dan Raden diamati oleh Rania yang membuka sedikit pintu kamarnya. Dia menghela nafas berat ketika melihat kedua orang tuanya kembali bertengkar seperti dahulu.


Tak mau berlama-lama melihat perdebatan orang tuanya, Rania menutup pintu dan merebahkan diri di kamar.


Selama seharian penuh dia mengurung diri. Bahkan seperti kemarin, Rania melewatkan makan siangnya. 


Namun, kali ini Ajeng mengetuk pintu kamar sambil membawakan makanan untuk putri sulungnya itu.


Rania melihat kedua bola mata Ajeng yang merah. Pertanda ibunya itu telah menangis tapi saat Rania bertanya, Ajeng hanya menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.


Malam harinya, Rania menghubungi Aiden melalui panggilan video.


Dari layar ponsel, Rania dapat melihat sudut kiri bibir Aiden membiru. Membuat Rania menatap sendu pada wajah Aiden dan tanpa sadar jarinya mengusap layar ponsel.


Berharap dia dapat menyentuh wajah kekasihnya itu secara nyata.


"Apa Ayahmu masih di rumahmu?" 


"Sepertinya iya. Aku tidak keluar kamar selama seharian, tapi aku yakin karena Ayah pasti tidak akan menyerah."


Aiden tersenyum agar wanitanya juga ikut tersenyum. Tapi Rania tetap memasang wajah murung.


"Besok aku akan menemui Ayahmu lagi. Aku akan berbicara secara baik-baik."


"Janji?" Rania mengacungkan jari kelingkingnya.


Aiden tersenyum. Dia pun mengacungkan jari telunjuk dan menempelkannya di layar ponsel.


"Janji."


"Janji tidak ada perkelahian lagi?"


"Iya, Sayang. Janji aku tidak akan berkelahi dengan manusia lidi itu lagi."


Rania mengulum senyum. "Wajahmu sudah membaik, Bos?"


"Jangan khawatirkan wajahku! Aku masih tetap tampan kok sekalipun aku dihajar oleh seratus petinju profesional," seloroh Aiden yang membuat Rania tergelak seketika.


"Sekarang kamu tidur ya? Aku akan ke rumahmu besok pagi."


Rania mengangguk sebagai jawaban. Bibirnya melengkungkan senyuman manis.


"Sampai jumpa, Bos. Semoga besok kita bisa bertemu," ucap Rania.


"Jangan bilang begitu! Besok dan seterusnya kita pasti akan bertemu."

__ADS_1


Rania memaksakan untuk tersenyum karena mendadak firasatnya menjadi tidak enak.


__ADS_2