My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
27 Bukan Sopir Pribadi


__ADS_3

Setelah puas berlama-lama di cafe, Aiden mengajak Rania untuk kembali ke hotel dimana mereka menginap.


Kebetulan kamar mereka bersebelahan, dan sebelum Rania masuk ke dalam kamar, Aiden memanggilnya.


"Tidur! Jangan kamu pikirkan pacarmu itu! Besok kita akan langsung pulang," kata Aiden dengan nada bicara yang begitu dingin.


Rania hanya mengangguk pasrah. Sebab dia sudah sangat mengantuk dan tak ingin berdebat dengan Aiden.


Setelah itu, Aiden pun masuk ke dalam kamarnya. Dia segera menghubungi Abe untuk memberikan tugas pada asisten pribadinya itu.


"Abe, kamu selidiki ada hubungan apa antara Carlos dengan Naomi! Lalu laporkan padaku segera!"


"Baik, Tuan."


Panggilan telepon ditutup dengan Aiden yang mengepalkan tangan kuat dan wajah yang mengisyaratkan kemarahan berapi-api.


*


*


*


Setelah satu hari penuh, Rania dan Aiden melakukan perjalanan pulang ke tanah air. Sesampainya di bandara, Rania menyeret kopernya dengan wajah lesu menahan lelah.


Berbeda dengan Aiden yang masih bisa berjalan tegak dan penuh semangat di depan Rania. Mendadak Aiden menghentikan langkah yang membuat Rania menabrak punggung pria dua puluh tujuh tahun itu.


"Bos," panggil Rania sambil mengusap keningnya yang sakit menubruk punggung Aiden.


Rania memiringkan tubuhnya untuk dapat melihat apa yang dilakukan Aiden sehingga pria itu berhenti melangkah.


Rupanya, Aiden tengah membaca sebuah pesan singkat dari Abe yang entah apa isinya. Namun, setelah itu Aiden menarik tangan Rania yang terbebas untuk segera meninggalkan bandara.


Aiden dan Rania disambut oleh seorang pria berwajah jenaka yang berdiri di samping mobil milik tuannya. Pria itu menunduk memberi hormat begitu Aiden berdiri tepat di hadapannya.


Lantas Aiden mengulurkan tangan meminta agar pria itu menyerahkan kunci mobil. 


"Katakan pada Mommy, aku ada urusan penting!" ucap Aiden pada pria itu sesaat sebelum dia masuk ke kursi pengemudi.


Rania dengan wajah lelahnya pun ikut masuk ke dalam mobil tanpa banyak tanya. Barulah ketika mobil melaju ke arah yang tidak dikenali, Rania pun membuka suara.

__ADS_1


"Bos, kita mau ke mana?" tanya Rania menelisik jalanan yang dia tahu bukan ke arah kantor Irawan Group atau rumah Aiden apalagi rumah Rania.


Namun, Aiden tidak menjawab pertanyaan Rania. Dia diam sambil menambah kecepatan mobil.


"Bos, tidak akan melakukan sesuatu padaku kan?" Rania kembali bertanya dengan mata yang menyipit curiga.


Aiden menghela nafas, melirik Rania sekilas dan kembali menatap lurus ke depan.


"Jangan banyak bicara! Nanti juga kamu tahu kita akan ke mana," kata Aiden dengan sorot mata penuh amarah. "Dan persiapkan mentalmu melihat apa yang akan terjadi nanti."


Wajah Rania mengernyit bingung akan perkataan terakhir Aiden tapi dia memilih untuk diam. Karena dia hafal jika Aiden memintanya diam, maka berarti diam.


Hingga mobil masuk ke dalam area gedung apartemen yang menjulang tinggi, Rania masih belum mengerti akan kemana Aiden membawanya.


Namun, Rania tetap mengekori Aiden yang masuk ke dalam lift menuju lantai sebelas. Setelah itu, langkah Aiden berhenti di sebuah pintu.


Aiden menunjuk dengan lirikan mata, memberi isyarat agar Rania masuk ke dalam. Sesaat Rania mengayunkan tangan hendak mengetuk pintu itu tapi dicegah oleh Aiden.


"Langsung masuk saja. Kamu tahu password nya kan?" tanya Aiden yang membuat kening Rania mengerut dan kemudian menggelengkan kepala.


"Saya tidak tahu, Bos. Memang ini apartemen siapa?"


"Oke kalau begitu nyalakan saja bel nya," kata Aiden pada akhirnya melepas tangan Rania.


Selang beberapa menit Rania menekan bel, pintu itu pun berderit terbuka menampakan Naomi dengan rambut acak-acakan serta memakai pakaian tidur minim.


Wajah Naomi mengerut dan matanya menyipit meneliti dua orang yang telah mengganggu pagi harinya.


"Mau apa kalian?" tanya Naomi yang berpegangan pada gagang pintu karena mendadak tubuhnya menjadi limbung.


Tepat saat itu juga, Rania mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Naomi. Membuat Rania mundur dan mengibaskan tangan di depan hidung.


Kemudian, dari balik bahu Naomi, Rania melihat Carlos yang hanya memakai handuk untuk menutupi pinggangnya.


"Naomi sayang, ada siapa?" tanya Carlos yang detik berikutnya membulatkan mata melihat tamu tak diundang. "Rania?"


Rania hanya memasang wajah tanpa ekspresi ketika Carlos berjalan melewati Naomi untuk menghampirinya. Dia mundur beberapa langkah tak mau disentuh oleh Carlos.


Sedangkan Aiden yang melihat tiga orang di depannya hanya menghela nafas.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak terlibat dalam masalah ini," kata Aiden memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. Lalu melirik Rania. "Aku tunggu di lobby."


Lalu Aiden pun melangkah pergi menuju lift apartemen.


Sementara itu, Carlos kembali memandang Rania dengan ekspresi bersalah. Bahkan dia berlutut di depan wanita itu untuk meminta pengampunan.


"Maafkan aku, Rania. Ini salah paham. Aku dan Naomi tidak ada hubungan apapun."


Naomi yang mendengar hal itu pun sontak menjerit tidak terima. Tapi sebelum Naomi berbicara lebih banyak, Carlos segera membawanya masuk ke dalam kamar dan menguncinya di sana.


Carlos menghampiri lagi Rania tanpa memerdulikan suara gedoran pintu dan teriakan Naomi yang memanggil namanya. 


Carlos sudah tidak peduli lagi pada Naomi karena targetnya sekarang adalah Rania, wanita yang masih tersegel dengan baik. Dia harus melakukan segala cara agar Rania memaafkannya


Ya, itulah Carlos. Pria dengan otak yang hanya memikirkan wanita dan ranjang.


"Rania, maafkan aku. Kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang kemari? Aku kan bisa menjemputmu, Sayang."


Rania menghela nafas dan memutar bola mata jengah.


"Sudahlah. Jangan meminta maaf!" kata Rania membuat Carlos tersenyum lebar.


"Kamu memaafkan aku, Sayang. Oh kamu memang wanita terbaik yang pernah aku temui," Carlos merentangkan tangan berniat memeluk Rania.


Namun, sayang Rania justru mundur satu langkah sekaligus menampik kasar tangan Carlos. Menjadikan pria itu keheranan.


"Tidak perlu meminta maaf karena aku juga menerimamu sebagai pacar semata-mata hanya untuk membuat Bos Aiden cemburu," ungkap Rania.


"What?"


Rania mengangkat bahu dengan santai. "Ya, aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku hanya ingin membalas perbuatan Bos Aiden dengan membuatnya cemburu dan juga menjadikan kamu sebagai sopir pribadi yang tidak perlu aku bayar."


Jeder.


Tubuh Carlos bagai disambar petir di siang hari. Dia membeku tak dapat berkata apapun.


Sesaat dia mencerna perkataan Rania. Lalu dia berkacak pinggang sambil mendengus kasar.


Tak habis pikir. Selama ini Carlos kira dia yang akan dapat menjebak Rania untuk dijadikan tempat bersenang-senang. Namun rupanya Rania, wanita yang dia pikir polos dan lugu bisa menipu serta memanfaatkannya.

__ADS_1


"Oh, ya, aku juga mau bilang kalau mulai hari ini kamu bukan lagi sopir pribadiku," ucap Rania sebelum akhirnya dia melangkah pergi.


__ADS_2