
Sepanjang sisa jam kerja hari itu, Aiden dan Rania saling diam. Keduanya seperti enggan untuk berbicara satu dengan yang lain.
Menjadikan Bella senang bukan main menyadari ada kerenggangan dalam hubungan Aiden Rania.
Dan kerenggangan itu terus berlanjut sampai lima hari lamanya. Di mana Aiden dan Rania hanya terlibat pembicaraan jika ada sesuatu yang penting-penting saja.
"Bibirmu masih lebam. Sudah kamu obati kan?" Rania mengamati bibir Carlos yang tempo hari ditonjok Aiden.
Saat ini Rania tengah berada di dalam mobil Carlos yang mengantar Rania berangkat bekerja.
Rania memiringkan kepala untuk dapat dengan jelas melihat luka lebam di ujung bibir Carlos. Sedangkan Carlos sendiri hanya tersenyum getir kala mengingat kemunafikan Aiden.
"Sudah diobati kok, Sayang. Jangan khawatir!"
"Bagus deh kalau sudah diobati."
Melalui sudut mata, Carlos melirik Rania yang tengah membalas pesan dari Loretha.
Dari pengamatan Carlos, hari demi hari Rania semakin pintas merias diri membuatnya semakin bertambah cantik dan dorongan dalam diri Carlos untuk mendapatkan Rania secara seutuhnya juga semakin kuat.
Carlos berdecak frustasi sekaligus membuang nafas kasar sebab sesuatu yang keras di bawah sana sejak tadi menuntun untuk dipuaskan.
Dia mulai berandai dapat melakukan pergulatan panas di atas ranjang bersama Rania.
Selama perjalanan, Carlos melajukan mobil sambil benaknya berfantasi liar hingga tibalah mereka di depan gedung Irawan Group.
Setelah berbasa-basi sebentar, Rania langsung membuka pintu mobil berniat untuk turun. Akan tetapi lengan Rania tiba-tiba ditahan oleh Carlos.
Menjadikan Rania menoleh pada pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Rania, ada yang ingin aku bicarakan. Apa nanti malam kamu ada acara bersama Loretha?"
Rania menggelengkan kepala. "Tidak. Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia," Carlos melengkungkan senyuman penuh arti. "Tapi satu hal yang pasti kita akan melewati malam dengan indah."
Carlos meraih tangan kanan Rania, menariknya, dan melabuhkan kecupan di punggung tangan Rania yang putih itu.
Sementara Rania sendiri mengernyitkan dahi. Terlihat dia keheranan akan ucapan Carlos.
"Maksudnya apa?" Rania bertanya dengan polosnya.
Carlos menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman serta menghirup udara panjang untuk mengisi paru-parunya dengan udara dan juga kesabaran dalam menghadapi tingkah lugu Rania.
__ADS_1
"One night stand, Sayang," terang Carlos.
Dahi Rania bertambah mengerut. "One night stand itu apa?"
Astaga. Rania polos sekali. Dia tidak tahu sama sekali istilah one night stand? Tapi itu bagus. Sebab dengan kepolosannya itu, aku bisa merayunya dengan mudah. Batin Carlos menyeringai licik.
"Nanti juga kamu akan tahu apa itu. Oh ya, usahakan hari ini Aiden memberikan tugas lembur padamu. Jam tujuh malam, aku akan jemput."
Rania mengangguk, keluar dari mobil dengan ditatap terus oleh Carlos. Pria itu mendesah frustasi sebab selama berpacaran dengan Rania, dia merasa dirinya tak lebih dari sekedar sopir pribadi yang siap mengantar jemput kemanapun Rania pergi.
Ya, Rania tampak seperti menjaga jarak dari Carlos meski mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Bahkan Rania selalu menolak dengan tegas tiap kali Carlos menggenggam tangan atau berusaha mencium.
"Kini saatnya, kamu harus menjadi milikku, Rania."
*
*
*
Sesampainya di ruang kerja, tubuh Rania seolah membeku ketika manik matanya menangkap sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar berada di atas meja.
Segera Rania mengambil buket bunga mawar itu, memandangnya penuh takjub, lalu menghirup aroma bunga yang semerbak. Namun, Rania langsung menaruh kembali buket bunga ke atas meja karena dia harus bekerja.
Rania melesat masuk ke ruangan Aiden, yang ternyata sang empunya ruangan sudah duduk di kursi kebesaran dengan memandang tajam Rania.
Aiden melihat pancaran bahagia di mata sekretarisnya itu. Menjadikan Aiden melontarkan pertanyaan bernada pedas, "Kenapa senyum-senyum sendiri? Seperti orang gila saja."
Dengan santai Rania menjawab, "Saya baru saja mendapat buket bunga, Bos."
Tanpa Rania lihat, bibir Aiden melengkungkan senyuman tipis. Aiden bahagia kala mendapati Rania yang senang diberi bunga olehnya dan juga menjadi pertama kali mereka mengobrol santai setelah lima hari saling acuh.
"Oh ya, dari siapa?" Aiden bertanya dengan ekspresi datar.
Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rania dia tidak tahu nama sang pengirim, sebab memang tak ada kartu ucapan tersemat di bunga itu.
Rania mengangkat bahu, "Entahlah, Bos. Aku tidak tahu."
"Menurutmu bunga itu dari siapa?"
Wajah Rania mengernyit sambil jati telunjuknya mengetuk-ketuk kening agar otaknya bisa diajak berpikir.
"Kalau dari Carlos, rasanya tidak mungkin. Aku kan berangkat satu mobil dengannya. Kenapa juga dia harus meletakan bunga di meja kerjaku, kalau dia sendiri bisa memberikan secara langsung?" gumam Rania berpikir keras.
Detik berikutnya, tubuh Rania tersentak ketika menyadari kemungkinan orang yang mengirimnya buket bunga mawar merah, dan Aiden yang melihat ekspresi Rania pun semakin melebarkan senyuman.
"Kamu sudah tahu nama pengirimnya?" Aiden bertanya sebagai pancingan.
__ADS_1
Lantas Rania menganggukkan mantap. Semantap kesimpulan di benaknya.
"Aku yakin orang yang mengirim bunga pasti… Loretha."
Senyum di bibir Aiden pudar seketika. Berganti dengan raut wajah yang tidak suka, menghela nafas kecewa dan segera mengalihkan perhatian.
Berbeda dengan Rania yang berjingkrak senang. Dia yakin yang memberikan bunga pasti Loretha karena sahabatnya itu berjanji akan mengirim bunga sebagai penyemangat Rania di kantor.
"Loretha?" Aiden menyeringai. "Kenapa kamu tidak menghubungi Loretha dan mengucapkan terima kasih?"
"Oh iya. Benar juga, Bos."
Rania menghidupkan ponsel, mencari kontak Loretha dan langsung menekan tanda telepon berwarna hijau. Lalu panggilan itu terhubung setelah Rania menunggu dua menit.
"Halo, Rania. Ada apa?" Loretha bertanya dari seberang sana.
"Lo, terima kasih ya atas bunga mawar merahnya. Sekarang aku jadi semangat dalam menghadapi Bos Aiden yang galak."
Seketika Aiden melototkan mata begitu Rania menyebutnya galak. Seingat Aiden, dia tidak galak, hanya saja suka membentak.
"Bunga? Bunga apaan?" tanya Loretha bingung.
Menjadikan Rania yang awalnya tersenyum ceria, mendadak ikut kebingungan.
"Kamu kirim bunga ke aku kan?"
"Tidak. Maksudku, belum," jawab Loretha. "Aku memang akan mengirimmu bunga tapi aku masih mencari bunga yang cocok."
Tut.
Aiden yang ternyata sudah berdiri di samping Rania, merebut ponsel dan langsung mematikan telepon secara sepihak.
Membuat Rania mengerucutkan bibir sebal pada bosnya yang memutuskan telepon. Padahal dia belum selesai berbicara dengan Loretha.
"Kamu itu bodoh atau apa, hah? Tidak peka sama sekali. Bunga itu dariku," kata Aiden ketus.
"Oh."
Mata Aiden mendelik ketika respon Rania hanya 'oh' dengan raut muka datar tanpa ekspresi bahagia.
"Kenapa hanya 'oh' saja?" protes Aiden.
Rania memaksakan diri untuk tersenyum. "Baiklah. Terima kasih, Bos Aiden."
"Nah, begitu dong. Sekarang, apa saja jadwalku hari ini?"
Rania membacakan jadwal Aiden untuk hari itu yang rupanya tidak terlalu padat seperti hari-hari sebelumnya dan tepat saat itu juga, Bella mendobrak pintu ruangan dan berlari ke depan meja Aiden.
__ADS_1
Nafas Bella tersengal akibat berlari berpacu dengan waktu agar tidak terlambat.
Namun, sayangnya saat Aiden melirik jam tangan, Bella sudah dinyatakan terlambat lima menit. Dan Aiden sangat tidak menyukai orang yang tidak tepat waktu meski hanya lima menit saja.