
"Vin, mana Rania?"
Raden bertanya saat menyadari Rania tak bersama mereka. Dia bersama Vincent mengedarkan pandangan mencari sosok putri sulungnya.
"Sial. Dia kabur," geram Raden. "Cepat! Kita cari Rania."
Raden dan Vincent bergerak berpencar mencari Rania. Raden yakin putri sulungnya itu belum jauh dan masih berada di sekitar bandara.
Badan Raden yang gempal memaksakan diri untuk berlari dengan pandangan yang terus menyorot ke sekeliling. Bagaikan lampu mercusuar yang menyorot mengawasi keadaan pantai.
Kemudian, mendadak Raden menghentikan langkah ketika dia matanya yang bulat menangkap Rania dan Aiden sedang berpelukan tak jauh darinya.
Raden segera menghampiri dan memisahkan Rania dari Aiden. Begitu pula Vincent yang menahan tubuh Aiden agar tak dapat merebut Rania.
"Ayah, lepaskan aku! Aku tidak mau pergi, Ayah. Aku mohon. Jangan paksa aku!" ucap Rania memelas.
"Tidak, Rania. Kamu harus tetap pergi bersama Ayah," Raden menarik paksa lengan Rania yang terus menoleh pada Aiden.
Dipandanginya dengan tatapan nanar pria yang tengah memberontak di cengkraman Vincent.
"Vin, hajar dia supaya kapok dan tidak mengganggu Rania lagi!"
Bugh.
Bukan Vincent yang memukul tapi Aiden. Vincent kalah cepat sehingga dia yang mendapatkan pukulan tepat di wajah.
Aiden tak dapat menahan amatahnya lagi. Awalnya dia akan bersikap sopan dan berbicara baik-baik asal Raden pun tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan.
Tapi kali ini Aiden tak tahan lagi. Dia menghajar Vincent seperti kemarin dan perkelahian pun tak dapat dielakan.
Aiden dan Vincent kembali beradu di tengah kerumunan di bandara. Menjadikan mereka pusat perhatian semua orang.
"Ayah, hentikan! Aku mohon Ayah. Kasihan Bos Aiden," rengek Rania yang tak mampu melihat Aiden terluka.
Saat ini Aiden dan Vincent berguling di lantai dan berhenti tepat saat Aiden berada di bawah tubuh Vincent.
Bugh.
Vincent meninju bertubi-tubi wajah Aiden. Membuat Rania yang melihatnya menjerit histeris.
"Ayah, aku mohon hentikan! Aku mau pergi pergi bersama Ayah, asalkan Ayah hentikan Vincent," ucap Rania berderai air mata.
Raden tersenyum penuh makna begitu mendengar ucapan Rania. Lalu dia berteriak, "Vin, stop!"
Tepat saat Raden memberi perintah berhenti, secara kebetulan petugas bandara datang dan berusaha untuk melerai perkelahian yang telah merusak tata tertib keamanan bandara.
Mereka memisahkan Aiden dan Vincent yang sama-sama berwajah babak belur.
"Ayo, Rania. Kita pergi sekarang," Raden menarik lengan Rania yang diam mematung sambil memandang Aiden penuh kepedihan.
"Rania," Aiden menggelengkan kepala tak percaya. "Jangan tinggalkan aku!"
Rania membebaskan diri dari cengkraman tangan Raden. Lalu berjalan menghampiri Aiden dan mengusap bawah hidung yang terdapat aliran darah.
"Selamat tinggal, Bos"
__ADS_1
Rania berjalan menjauh. Sedangkan Aiden membulatkan mata terkejut melihat Rania yang hendak pergi darinya.
"Jangan, Rania!"
Satu bulir mengalir di pipi Rania. Disusul dengan derai air mata yang semakin deras.
Perlahan Rania berjalan mundur, bergabung bersama Raden dan membalikkan badan.
"Rania!" teriak Aiden.
"Usir pria itu!" perintah Raden pada petugas bandara sebelum dia melangkah pergi.
Namun, petugas bandara tak ada yang berani mengusir Aiden setelah menyadari siapa pria itu.
Aiden memiliki hubungan baik dengan bos mereka sehingga mereka berpikir dua kali untuk mengusir Aiden.
"Rania, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku," teriak Aiden memandang punggung Rania yang berjalan menjauh.
Akan tetapi Rania sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya. Wanita itu terus berjalan dengan dituntun oleh Raden.
Satu kali Rania menoleh, memperlihatkan wajah yang sendu dan juga bola mata yang menggenang sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu kaca.
"Rania," teriak Aiden sambil maju satu langkah ingin menyusul wanitanya.
"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk," ucap petugas menahan langkah Aiden.
"Bos," panggil Abe yang baru datang menghampiri Aiden.
Seketika Aiden menoleh pada asisten pribadinya yang tidak bisa diandalkan saat dibutuhkan. Gurat kekesalan dan kemarahan tercetak jelas di wajah Aiden.
"A-aku.. aku tadi tak sengaja bertemu Loretha, Bos. Maaf," Abe menundukkan kepala mengakui kesalahannya.
Lalu Abe mengusap tengkuk yang terasa meremang saat tatapan tajam Aiden menyorotinya.
"Jadi, Rania ketemu, Bos?" tanya Abe dengan wajah tanpa dosa.
"Rania ketemu. Tapi bapak berkumis baplang itu tetap memaksa Rania pergi," ungkap Aiden dengan suara kecewa dn marah.
"Lalu, kenapa Bos kecewa seperti itu?" tanya Abe lagi yang membuat Aiden mendelik marah.
"Hai, Rania itu akan pergi ke Belanda dan tinggal disana untuk selamanya. Kamu mengerti tidak?" Aiden menggeram marah memandang Abe yang kecerdasannya semakin hari semakin merosot.
"Tapi kan Bos punya pesawat jet pribadi dan Bos bisa menyusul Rania ke Belanda sekarang juga."
Ting.
Lampu di otak Aiden menyembul dan menyala terang dari atas kepalanya. Dia menoleh pada Abe sambil membelalakan mata.
Sepertinya Aiden perlu menarik lagi ucapan bahwa kecerdasan Abe merosot. Karena nyatanya Abe memikirkan ide yang olehnya saja tidak terduga.
"Kau benar. Kenapa aku tidak terpikirkan sejak tadi?"
Aiden tersenyum sumringah. Kemarahan dan kesedihan yang tadi terlihat wajah Aiden dalam sekejap sirna seketika.
Berganti dengan wajah yang bahagia dan penuh semangat. Bahkan dia mengepalkan tangan dan menoleh pada Abe dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Ayo, Abe, kita berangkat!"
"Sekarang, Bos?"
"Tidak. Tahun depan," seloroh Aiden lalu dia membentak, "Ya, tentu saja sekarang."
"Saya ikut ke Belanda?" tanya Abe lagi dengan menunjuk dirinya sendiri.
Aiden berdecak dan memutar bola mata malas. "Iya."
Yes. Kapan lagi bisa kerja sambil jalan-jalan. Gumam Abe dalam hati.
"Amsterdam, I'm coming."
*
*
*
Setelah menempuh waktu kurang lebih lima belas jam, Aiden dan Abe sampai di Schiphol Airport, Amsterdam.
Abe meregangkan badan karena duduk terlalu lama di dalam pesawat membuat seluruh persendian tubuhnya pegal. Sedangkan Aiden tampak tenang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Kita akan langsung ke rumah ayahnya Rania atau terlebih dahulu mencari penginapan, Bos?" tanya Abe.
"Kita langsung saja," Aiden menjawab dengan suara yang mantap dan hendak melangkah pergi tapi ditahan oleh Abe.
"Eh, tunggu, Bos."
"Apa?" Aiden menoleh kesal.
"Bos yakin tidak akan membawa apapun ke rumah calon mertua?"
Sejenak Aiden berpikir. Lalu dia menjetikan jari dan tersenyum semringah.
"Kau benar. Kalau begitu belikan martabak coklat untuk ayahnya Rania."
Sontak Abe tercengang hingga mulutnya setengah melongo. Dia menyesal telah memberi saran agar Aiden membawa buah tangan ke rumah ayahnya Rania.
"Tunggu, Bos. Memang di Amsterdam ada yang jual martabak?"
Pertanyaan Abe itu tidak didengar oleh Aiden karena pria itu terus berjalan tanpa memperdulikan asisten pribadinya.
Satu hal yang terpenting saat ini adalah dia harus cepat bertemu dengan Rania.
Namun, mendadak Aiden menghentikan langkah kaki membuat Abe yang berlari di belakang tak sempat menghindar dan akhirnya menabrak punggung Aiden.
"Bos, apa ada yang jual martabak di Belanda?" Abe bertanya sekali lagi sambil mengusap keningnya yang sakit.
Dengan kening yang mengerut, Aiden menoleh pada Abe.
"Masalahnya bukan itu, Abe. Tapi aku baru sadar, kalau aku tidak tahu alamat rumah bapak berkumis baplang itu."
"Apa?" teriak Abe tak yang terkejut. "Jadi Bos tidak tahu alamat tempat tinggal Rania di Belanda?"
__ADS_1