
Di sebuah rumah berdesain minimalis,
di mana hanya ada dua orang di dalam sana sebab si pemilik rumah sedang pergi bersama putrinya.
Dan secara kebetulan pelayan rumah juga sedang pergi berbelanja kebutuhan dapur. Sehingga rumah itu dijaga oleh Vincent, seorang asisten dari tuan rumah, yang menyambut seorang tamu bernama Aiden.
Vincent melesat pergi ke dapur dan tak berselang lama dia kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman. Dia meletakkan di meja ruang tamu.
Setelah meletakan minuman, Vincent menatap Aiden dengan pandangan layaknya seekor serigala yang kelaparan menatap pada seekor domba. Seperti ingin menerkam pria tampan itu.
Sementara Aiden tak menyadari dirinya sedang menjadi objek tatapan Vincent. Sebab pria itu sibuk berkirim pesan dengan Abe.
Lantas Vincent menjatuhkan bokongnya di samping Aiden. Tangannya pun bergerak merangkul pinggang Aiden dengan sangat posesif.
Merasa ada tangan yang merangkul di pinggang, sontak Aiden pun terlonjak kaget dan langsung melempar tatapan tajam pada Vincent.
"Hai, jaga tanganmu itu!" hardik Aiden.
Vincent menarik tangannya kembali dengan senyum mengambang di bibirnya.
Dan bukannya menjauh, Vincent justru beringsut mendekati Aiden. Menajdikan Aiden menggeser duduknya untuk tetap menciptakan jarak antara dirinya dan pria aneh di sebelahnya.
Firasat Aiden menjadi tak enak hanya duduk berdua bersama pria di rumah orang.
"Kamu tahu, Aiden. Kamu itu sangat tampan. Beruntung sekali Rania, memiliki calon suami sepertimu," ucap Vincent sambil tangannya tak bisa berhenti mengusap penuh damba pada punggung hingga kepala Aiden.
Hal itu membuat tubuh Aiden bergidik ngeri. Dari ucapan dan tatapan Vincent padanya, sudah dapar Aiden simpulkan bahwa pria itu memiliki kelainan.
"Hai, jaga tanganmu itu atau aku akan mutilasi dirimu!" ancam Aiden dengan mata mendelik menyorot ke tangan Vincent yang mengusap pahanya.
Secepat kilat, Aiden menepis tangan Vincent yang tak tahu diri terus mengusap hingga ke atas.
Tak hanya menepis tapi tangan Aiden juga mencengkram tangan Vincent kuat-kuat.
Namun, Vincent hanya menyunggingkan seringai membalas tatapan tajam Aiden.
"Kadang aku membayangkan kalau aku yang berada di posisi Rania. Menjadi istrimu dan ketika malam pertama…" Vincent menggerakan mulutnya menggigit udara kosong di dekat leher Aiden. "Aku bisa memakanmu."
"****! Dasar pria bengkok!" Umpat Aiden yang menahan tangan Vincent.
"Untunglah hanya ada kita berdua di dalam rumah. Sehingga aku bisa memakanmu sekarang juga."
__ADS_1
Vincent tertawa jahat yang menggelegar di penjuru ruangan. Sedangkan Aiden membuat ancang-ancang untuk menyerang.
"Aku sama sekali tidak tertarik denganmu," Aiden berdecih menatap Vincent. "Bagaimana bisa kamu menyukai sesama terong, hah?"
Lagi-lagi Vincent tertawa. Dia sungguh memandang Aiden dengan penuh damba dan tak sabar melahapnya dalam balutan kenikmatan yang pasti tiada tara
Sesungguhnya Vincent sudah tertarik dengan Aiden semenjak pandangan pertama. Namun, sebisa mungkin dia pendam rasa itu.
Ada rasa tidak terima saat Raden memerintahkannya untuk menghajar Aiden. Sebab dia sangat menyayangkan memukul pria setampan Aiden, tapi apalah daya dia hanya seorang bawahan yang harus menurut pada atasan.
"Aku sudah memberikan obat perangsang ke dalam minumanmu dan efek obat itu pasti sudah mulai bekerja," Vincent membentangkan tangan siap menerima pelukan dari Aiden. "Ayo Aiden, peluk aku!"
Aiden bergidik ngeri. Bagaimana bisa Vincent menyukainya dan sangat menginginkannya.
Di waktu yang sama tepatnya di luar halaman rumah, Raden dan Rania telah tiba di rumah.
Raden berjalan lebih dulu menuju pintu depan tapi keningnya mengerut begitu mendapati pintu yang terkunci.
Pasti Vincent sedang keluar rumah, pikir Raden.
Dia menghela nafas dan merogoh saku jas untuk mencari kunci rumah. Untung saja dia selalu membawa kunci cadangan setiap pergi meski ada yang menjaga rumah.
Namun baru satu langkah Raden menginjakkan kaki, bola matanya membelalak melihat pemandangan yang ada di depannya.
Dia sangat syok terlebih Rania yang berada di belakang. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat calon menantunya sedang berpelukan dengan Vincent yang bertelanjang dada dengan posisi mereka berdua yang berbaring di lantai.
"Vincent! Aiden! Apa-apaan ini?" kemarahan Raden menggelegar di penjuru rumah.
Sontak dua pria yang penampilannya acak-acakan langsung menoleh dan bangkit berdiri secar bersama-sama.
"Kalian bertengkar lagi?" Raden bertanya setelah melihat wajah Vincent yang sedikit babak belur.
"Ayah, asistenmu ini ternyata dia laki-laki bengkok, Yah," tutut Aiden menunjuk Vincent.
Aiden menghela nafas lega karena Raden datang di saat yang tepat. Hampir saja dia menjadi mangsa seorang Vincent yang menginap kelainan seksual.
Raden melempar pandangan ke arah asisten yang sudah dua tahun bekerja untuknya. Tampak dada pria itu naik turun karena nafasnya terengah.
"Apa betul itu, Vin?"
Vincent menggeleng. "Bukan, Tuan. Justru Aiden lah yang suka makan terong."
__ADS_1
"Hai, jangan suka menuduh!" bentak Aiden. "Kau bahkan menaruh obat perangsang di minumanku."
"Bohong!" teriak Vincent tak kalah keras. "Kamu lah yang menaruh obat itu ke dalam minumanku."
Raden menatap Vincent dan Aiden secara bergantian dengan sorot mata menyelidik. Sungguh dia dibuat bingung harus percaya pada siapa.
Melihat pemandangan tak wajar yang baru saja Raden lihat, menjadikan dia sangat yakin salah satu diantara dua pria muda di hadapannya ada yang bengkok.
Tapi siapa yang bengkok? Siapa yang berbohong dan siapa yang berkata jujur? Raden bertanya-tanya dalam hati.
Hal yang sama juga dipikirkan oleh Rania. Sungguh dia sangat terkejut melihat ada Aiden di rumahnya dan tambah terkejut lagi karena dia memergoki pria itu sedang bermesraan dengan sesama laki-laki.
Mungkinkah ada satu hal yang belum aku tahu dari seorang Bos Aiden? Mungkinkah Bos Aiden memiliki kelainan? pikir Rania.
"Ayah, percaya padaku! Asistenmu ini yang memulai duluan."
Vincent membelalakkan mata serta menggelengkan kepala.
"Tuan, percaya padaku! Justru Aiden ini yang menyerang. Dia hampir saja merebut kebujanganku."
Aiden mendengus. "Kebujanganmu? Aku sendiri tidak yakin kamu masih bujang. Kamu pasti pernah bermain dengan sesama pedang kan?"
Vincent tidak menggubris ucapan Aiden. Dia lebih memilih mengatupkan tangan di depan dada sambil memasang wajah memelas pada Raden.
"Tolong percaya padaku, Tuan. Bukankah saya asisten Tuan Raden yang sudah tidak diragukan lagi soal kejujurannya."
Raden menghembuskan nafas berat. Sekali lagi dia bingung menentukan mana yang berkata jujur dan mana yang berkata bohong.
Terlebih tak ada kamera cctv yang mengarah ke ruang tamu. Sehingga dia tak bisa melihat kejadian yang sebenarnya.
"Entahlah. Aku sendiri bingung, Vin. Tapi kalau kau sudah berkata seperti itu, maka mungkin benar kalau calon menantuku ini seorang pria bengkok."
Raden menoleh pada Aiden dengan sorot mata yang menelisik dari atas hingga ke bawah kaki.
"Calon menantu?" ulang Rania dengan nada terperangah.
Banyak pertanyaan bermunculan di benak Rania seketika itu juga. Tapi dia lebih memilih diam dan fokus dengan masalah yang ada di depan mata terlebih dahulu.
Rania maju satu langkah dan memposisikan diri diantara Aiden dan Vincent. Ditatapnya dengan lekat dua pria yang sedang berselisih itu.
"Hanya ada satu cara untuk membuktikan mana pria yang bengkok."
__ADS_1