My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
42 Bertemu Rania


__ADS_3

Aiden mengetuk pintu di sebuah rumah berdesain minimalis yang disinyalir sebagai tempat tinggal Rania.


Di sampingnya, Abe mengulas senyuman agar Aiden ikut tersenyum.


Sebab sejak tadi dari pengamatan Abe, Aiden selalu memasang wajah tegang. 


Bahkan saat ini Aiden tampak kurang percaya diri dengan penampilan. Terbukti setiap ada cermin, Aiden selalu mengecek wajah dan juga pakaian yang dia genakan.


Padahal sama sekali tak ada yang berubah.


"Abe, dasiku sepertinya miring."


Aiden merapikan posisi dasinya sambil menatap bayangan di jendala kaca.


"Tidak, Bos."


"Martabak. Apakah masih hangat?"


"Masih, Bos," jawab Abe melingkarkan bola mata malas.


Di saat seperti ini, Aiden masih saja terpikiran martabak.


"Bagus, kalau begitu aku siap menemui Pak Raden," Aiden mengetuk pintu sekali lagi tak ada sahutan dari dalam. "Kenapa lama sekali?"


"Sabar, Bos. Ingat point yang ketiga," kata Abe sambil mengacungkan keempat jemarinya.


Abe tersentak menyadari mulut dan tubuhnya yang tidak selaras. Lalu buru-buru dia mengoreksi dengan menekuk satu jari.


Perlahan pintu terbuka menampakan seorang pelayan wanita yang mengerutkan kening memandang Aiden dan Abe secara bergantian.


Dilihat dari wajahnya, Aiden dapat memastikan jika pelayan itu berasal dari asia tenggara.


"Maaf, cari siapa?" tanya si pelayan setelah melihat wajah dua tamu di depannya tampak berasal dari Indonesia.


"Saya ingin menemui Pak Raden. Apa beliau ada di rumah?" 


"Oh, Pak Raden sedang pergi bersama putrinya."


Aiden dan Abe kompak mendesah kecewa.


"Kalau begitu kita ingin menunggu sampai Pak Raden pulang," Aiden berkata mantap.


"Kalian tidak diizinkan datang ke menemui Rania."


Sebuah suara yang sangat dikenali Aiden terdengar dari dalam rumah. Si pelayan perempuan itu langsung membungkuk dan menggeser tubuh untuk dapat memberi ruang pada Vincent yang berjalan ke arah pintu.


Vincent menyeringai menatap Aiden yang juga membalas dengan sorot mata tajam.


Kalau bukan karena Abe yang mengingatkan point ke tiga, Aiden pasti sudah merubah Vincent menjadi rujak bebek.


"Aku ingin bertemu Pak Raden dan juga Rania. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan," Aiden berkata tanpa mengurangi tatapan tajam yang dia layangkan.

__ADS_1


"Pergilah! Nanti aku akan menghubungi kalian lagi."


Aiden mendengus karena dia yakin Vincent berbohong. "Tidak. Aku akan menunggu Rania di sini."


"Pergilah! Selama aku masih memakai cara yang halus untuk mengusir kalian."


Aiden maju satu langkah hendak membuat perhitungan dengan Vincent tapi saat itu juga Abe menahan lengan tuannya.


Aiden menghela nafas. Kali ini dia ingin lebih memakai otak dari pada otot.


Sehingga Aiden pun menghela nafas dan mundur perlahan.


"Baik. Kami akan pergi tapi kami pasti akan kembali lagi kemari."


*


*


*


Sementara di sebuah restoran, tampak seorang gadis cantik dengan rambut terurai sedang menatap jam tangan yang sengaja dia lepaskan dari pengelangan tangan.


Dia usap jam tangan itu dengan sangat hati-hati selayaknya benda berharga. Seketika bola mata sang wanita berubah nanar mengingat orang yang memberikan jam tangan itu.


Sampai saat ini dia belum bisa menghubungi kekasihnya yang berada jauh di seberang lautan sana.


"Ayah, boleh tidak Rania pinjam ponsel untuk menelepon Aiden?"


"Rania tidak lapar," sahut Rania menundukan wajah yang lesu.


"Kalau begitu ayo kita pulang saja."


Raden menarik tangan Rania yang memberengut. Ingin rasanya Rania memberontak pada perintah sang ayah.


Tapi dia memilih untuk menuruti kemuan Raden untuk sesaat. Karena dia sudah memiliki rencana kabur dan kembali ke Indonesia.


Rania pasrah saat Raden menarik lengannya menuju luar restoran tanpa dia sadari bahwa jam tangan pemberian dari Aiden tertinggal di meja.


Beberapa saat setelah Rania pergi, dua orang pria muda masuk ke dalam restoran dan duduk di kursi yang sempat ditempati oleh Rania.


Dua pria itu adalah Abe dan Aiden. 


Abe membuka kotak makanan berisi martabak coklat yang sangat menggoda iman. Manik mata Abe langsung berbinar menatap martabak itu sampai tak sadar mulutnya menetaskan air liur.


Abe melahap satu potong martabak yang sangat enak di lidahnya.


Sedangkan Aiden sedang menatap ke arah lain.


"Sebaiknya kita pantau terus rumah Rania dan ketika ada kesempatan, kita culik Rania," ucap Aiden yang geram pada Vincent.


"Bos, ingat point ke tiga. Kalau kita culik Rania. Bos akan semakin dibenci oleh Pak Raden."

__ADS_1


Aiden menghela nafas. Lalu melepar pandangan ke meja yang belum dibereslan oleh pelayan.


Kening Aiden langsung mengerut begitu dia menemukan benda yang sangat dia kenal pemiliknya.


Tangan Aiden meraih jam tangan milik Rania yang merupakan pemberian darinya. Tak salah lagi itu memang lah jam tangan milik Rania. Karena desainnya dirancang khusus untuk Aiden.


"Rania."


Seketika Aiden menyapu pandangan ke sekeliling. Mencari sosok Rania yang pasti masih berada tak jauh dari tempat itu.


"Abe, Rania ada di sini."


*


*


*


Rania menahan tangan Raden serta menghentikan langkah. Membuat Raden berdecak kesal lalu memutar badan.


Pandangan mata yang memancarkan rasa kesal tertuju pada Rania.


"Ayah, jam tanganku ketinggalan. Tunggu sebentar, aku ingin kembali ke dalam restoran."


"Jangan lama! Ayah harus segera ke kantor."


Rania mengangguk dan berjalan masuk kembali dalam restoran. Akan tetapi langkah kaki Rania terhenti saat manik matanya menangkap meja yang tadi dia tempati sudah dibersihkan.


Rania yakin jika jam tangan miliknya tertinggal di meja karena di sanalah tempat terakhir Rania melepaskan jam mahal itu.


"Maaf, apa Anda melihat jam tangan di meja ketika membersihkan meja ini?" tanya Rania pada seorang pelayan.


Pelayan itu menggelangkan kepala. "Tidak, Nona. Tapi tadi ada dua orang pria yang menempati meja ini."


Rania menghela nafas penuh sesal. Sebab dia telambat untuk kembali ke restoran.


Sudah dapat dipastikan jam tangan mahal pemberian dari Aiden diambil oleh dua pria yang dimaksud oleh pelayan.


Dengan kepala tertunduk lesu, Rania berjalan keluar restoran. Namun, tiba-tiba bahu Rania ditepuk oleh seseorang.


"Kamu mencari ini?" tanya seorang pria menodongkan sebuah jam tangan.


"Ah, iya," wajah Rania berubah cerah seketika sambil menyambar jam tangan miliknya.


Saking senangnya, dia sampai tak menatap orang yang ada di depan. Dia menunduk sambil terus mengucapkan terima kasih.


Sampai tangan pria itu menarik dagu Rania untuk memintanya mendongak.


"Ini aku Rania."


"B-bos."

__ADS_1


__ADS_2