My Geeky Secretary

My Geeky Secretary
32 I Love You Rania


__ADS_3

"Bos," kata Rania dengan netra yang mengembun.


Dia sangat tersanjung akan kejutan yang diberikan oleh Aiden. Sudah lama Rania memimpikan dapat melihat sunset di tepi pantai. 


Aiden menarik tangan Rania dengan perlahan, menuntun wanita itu ke sebuah meja bundar dengan taplak putih dan beberapa makanan tersaji di atasnya.


Aiden menggeser kursi untuk Rania. Barulah dia duduk di kursi seberang.


Rasa gugup seketika melanda di dalam diri Rania. Semburat warna merah tak dapat disembunyikan dari kedua pipinya.


"Kamu menyukainya?" tanya Aiden singkat.


Rania hanya mengangguk pelan. Saking senangnya, dia tak dapat berkata-kata.


Mereka berdua makan dalam diam. Hanya terdengar dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.


Rania menikmati makanannya sambil menatap langit di atas lautan sana yang semakin lama semakin gelap dan taburan bintang pun mulai bermunculan. 


Dia tak menyadari jika sejak tadi Aiden memandangnya dengan penuh damba.


Setelah meneguk minumannya, Aiden meraih tangan Rania yang berada di atas meja. Membuat atensi Rania teralihkan memandang Aiden.


"Aku dan keluargaku sering datang ke villa ini setiap kali liburan. Di villa ini juga, orang tuaku berbulan madu." 


Aiden mengusap jemari Rania dengan ibu jarinya. "Dan apakah kamu mau villa ini juga akan menjadi tempat bulan madu kita berdua?"


Kening Rania mengerut tak mengerti maksud ucapan Aiden yang terakhir.


"Maksudnya apa, Bos?"


Tanpa melepas pandangan dari wajah Rania, Aiden merogoh saku dalam jasnya untuk mengeluarkan sebuah kotak beludru merah.


Aiden membuka kotak berisi cincin berlian yang berkilau seperti bintang di atas langit.


Rania gugup seketika. Dia menatap Aiden dengan bibir yang kelu tak mampu berbicara.


"Menikahlah denganku, Rania!" ucap Aiden mantap.


Rania menarik nafas panjang dan menghembuskanya melalui mulut. Sekali lagi dia memandang wajah Aiden yang syarat akan kesungguhan.


Rania berusaha menarik ujung bibirnya membentuk senyum lalu dia menggelengkan kepala yang membuat Aiden menautkan alis keheranan.


"Maaf, Bos. Aku tidak bisa."

__ADS_1


"Why?" 


Manik mata Aiden menelisik raut wajah Rania, untuk memastikan jika wanitanya sedang bercanda.


"Aku tidak bisa," kata Rania sekali lagi. 


Dia tampak tercengang dan tergagap. Lantas Rania beranjak berdiri sambil mengusap lengannya yang mulai terasa dingin akibat tiupan angin.


Kaki Rania melangkah pergi meninggalkan Aiden dengan segala perasaan yang bercampur menjadi satu.


Aiden merasa bingung, kecewa dan pastinya patah hati. Ternyata rencana melamar Rania tak seperti yang diharapkan.


Padahal sebelumnya, Aiden yakin kalau Rania akan menerima pinangan darinya. Tapi ternyata, Rania menolak dan meninggalkan dia pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.


"Rania, beri aku satu alasan!" Aiden berteriak dan seketika itu langkah Rania terhenti.


Rania berbalik. Lalu Aiden segera berjalan menghampiri Rania.


Digenggamnya jemari lentik Rania, dan tak lupa Aiden melabuhkan kecupan di sana.


Namun, respon Rania biasa saja. Menjadikan jantung Aiden semakin terasa diremas dari dalam.


Aiden menatap bola mata Rania yang tampaknya sudah tak ada lagi rasa kagum dan cinta saat seperti dulu.


Secepat mungkin Rania menggelengkan kepala, membuat Aiden mendesah kecewa. 


Benar dugaan Aiden, kalau perasaan Rania sudah tidak seperti saat wanita itu menyatakan cinta padanya. 


Aiden kecewa pada dirinya sendiri sebab dia pernah menolak Rania dan bahkan membuat wanita itu sakit hati.


"Maafkan aku, Bos. Tapi aku tidak bisa menerima Bos."


"Apa karena aku pernah membuat hatimu terluka, Rania?" tatapan Aiden semakin dalam. "Kalau iya, berikan aku kesempatan untuk mengobati lukamu dan biarkan aku membahagiakanmu."


*


*


*


Keesokan hari di kantor Irawan Group.


Ting.

__ADS_1


Pintu lift terbuka menampilkan Abe yang akan naik ke lantai atas. Di depan lift, berdiri Rania yang masuk bergabung bersama Abe.


"Kulitmu kelihatan sedikit coklat, Rania," ucap Abe yang sengaja menyinggung tentang liburan Rania dan Aiden ke pantai.


Rania merogoh saku blazer untuk mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk cangkang kerang. Lalu dia sodorkan pada Abe.


"Oleh-oleh untukmu," kata Rania singkat.


"Thanks," Abe menerima gantungan kunci itu sambil menerbitkan senyuman. "Kemarin kalian melakukan apa saja?"


Rania mengangkat bahu. "Kami main di pantai, datang ke villa keluarga Abimanyu dan sudah tidak ada lagi."


"Kamu yakin tidak ada apa-apa lagi?" Abe bertanya dengan mata menyipit.


Sebab seingat Abe, beberapa hari sebelum mengajak Rania ke pantai, Bos Aiden membeli sebuah cincin berlian yang harganya cukup fantastis. 


Bahkan dibeli langsung dari seorang desainer perhiasan yang cukup ternama di Eropa.


Tidak mungkin kalau cincin itu dibeli untuk dipakai  Bos Aiden sendiri. Jelas-jelas Abe melihat cincin yang dibeli Aiden adalah model cincin wanita.


Sementara Rania merenung sejenak. Dia masih tak menyangka Aiden akan menyatakan cinta sekaligus melamarnya. 


Semua itu terasa terlalu cepat bagi Rania. Meski dia pernah mengharapkan cintanya terbalaskan dari seorang Aiden tapi entah kenapa kini Rania menjadi ragu.


"Sebenarnya, kemarin Bos Aiden melamarku," ungkap Rania pada akhirnya.


Membuat Abe membulatkan mata bahagia. 


"Benarkah? Dan kamu menerima lamaran Bos Aiden?"


Rania menoleh menatap Abe lalu menggelengkan kepala.


Abe mengerutkan kening heran. "Kenapa kamu menolak lamaran dari Bos Aiden?"


"Karena Bos Aiden mencintaiku setelah aku merubah penampilanku," kata Rania dengan tatapan kosong. "Dia tidak mencintaiku apa adanya, dan kalau suatu saat aku berubah menjadi jelek dia pasti akan meninggalkan aku. Lagi pula dia pria yang kasar."


Saat itu juga Abe langsung tertawa. Meski tawa yang keluar dari mulutnya terdengar garing.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"


Ting.


Belum sempat Rania menjawab, pintu lift terbuka. Rania dan Abe serempak menoleh pada seorang pria yang telah berdiri dengan memancarkan sorot tajam ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Bos Aiden."


__ADS_2