MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 1 *POV BISMA JAWHARI


__ADS_3

#cerita ini direvisi ulang agar pembaca lebih nyaman untuk menikmatinya


.


.


.


Namaku adalah Bisma Jawhari, aku termasuk cowok populer dan tertampan di sekolah. Bagaimana tidak, aku memiliki wajah yang putih. Dengan hidung mancung, mata sipit dan alis tebal yang menghiasi dahiku. Banyak gadis yang menggilaiku. Apa lagi jika mereka melihatku tersenyum, sehingga terlihat jelas lesung pipi ku. Bukan maksudku berbesar hati. Tetapi seakan Tuhan menciptakanku dengan penuh kesempurnaan. Selain itu, Aku juga jago dalam bidang olahraga. Setiap aku lewat bersama dua koncoku yang paling setia ini-pastinya. Sebelah kiriku bernama Ilham, tingginya sama sepertiku, dan sebelah kananku bernama Dicky. Yeah, dia anak yang paling lugu (mungkin lebih tepatnya lemot) dengan tubuh yang lebih pendek dariku. Jika kami lewat, pasti semua mata langsung tertuju padaku. Dan para gadis mulai menghampiri.


"Bis, pulang nanti kamu ada acara nggak?" tanya gadis yang dengan genitnya memegang tanganku.


Aku melepaskan dekapan gadis itu dengan pelan, "Apa sih yang nggak buat kamu," ucapku dengan manis disertai senyuman palsu.


Yeah, kalian pikir aku mau aja gitu kencan sama para gadis yang berada di bawah levelku. Tentu saja aku bicara manis begitu agar mereka tidak kecewa padaku. Dan untuk menutupi kenyataan bahwa sesungguhnya aku tidak menyukai mereka.


Ya, semuanya berjalan seperti biasa sampai cewek sialan itu datang ke sekolahku. Ia adalah seorang murid baru.


Bagaimana tidak? Wajahnya yang tidak biasa dimiliki seorang perempuan dan terlihat tampan--bahkan melebihi diriku. Rambutnya yang di potong shaggy pendek, hingga memperlihatkan dengan jelas tengkuknya yang putih mulus, tatapan matanya yang tajam menghiasi wajahnya. Tubuhnya yang tinggi langsing bahkan hampir sama tingginya denganku. Dan kudengar rumornya bahwa ia juga jago dalam bidang olahraga bela diri sama sepertiku.


Sontak saja itu membuat para penggemarku beralih padanya dalam hitungan detik. Mulai dari para gadis, lelaki, hingga guru-guru pun menyukainya. Bahkan mereka menjulukinya Alam Sang Pangeran. Mendengarnya saja itu membuatku ingin muntah. Apanya yang pangeran, sih? Aku berdecak kesal dalam hati.


Dan sialnya, dia satu eskul denganku. Dia ikut club drama. Itu tentu saja membuat rasa benciku padanya semakin memuncak. Terlebih sekarang dia telah menyandang gelar the prince of school, gelar yang seharusnya diberikan padaku.


Kini ia sedang berdiri di hadapanku. Bisa-bisanya ia tertawa lepas bersama teman-teman perempuannya tanpa merasa bersalah sedikit pun karena sudah berani menggeser posisiku sebagai murid paling populer di sekolah.


"Upsss … sori. Gue nggak sengaja," kataku ketika sengaja menabrakkan diri padanya, sehingga ia pun terjatuh. Dan itu membuatku diam-diam tersenyum puas.


"Ya ampun, Al. Kamu nggak apa-apa?" tanya salah seorang temannya yang mencoba membantunya berdiri.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa, kok," ucap Alam sambil tersenyum. "Kalian kenapa masih memanggilku Alam? Kan aku sudah bilang nama depanku Zaskia. Panggil saja Kia!"


"Tapi kan sama aja, cuma bedanya Alam itu nama belakang kamu. Dan kami lebih senang memanggilmu Alam. Karena kamu itu bagai pemandangan alam yang indah bagi kami." Mereka terdengar tertawa cekikikan.


"Kalian bisa aja, deh. Aku jadi malu," ucapnya malu-malu.


"Kita pergi ke kantin, yuk!"


Mereka pun pergi meninggalkanku yang sedari tadi hanya diam melongo.


Sial, mereka mengacuhkanku. Bahkan mereka tak menganggap aku ada. Dasar para gadis bodoh! Kemarin-kemarin mereka mengejar-ngejar aku dan sekarang mereka membuangku begitu saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang.


"Bis, kok mereka kayak nggak nganggep lo ada," ucap Dicky sambil memegang pundakku.


"Hu-uh, kita teracuhkan, Men," sambung Ilham.


"Diam lo berdua!" Bentakku pada Dicky dan Ilham. Alhasil mereka berdua langsung diam tak bersuara. "Lo berdua cuma bisa komen doang. Bukannya bantuin gue cari cara supaya gue bisa ambil kembali posisi gue sebagai murid populer di sekolah."


"Kalian yakin nggak sih kalau si Alam itu cewek beneran?"


"Maksud lo?" tanyaku kompak dengan Ilham.


"Maksud gue, gue nggak yakin kalau si Alam itu cewek. Gue curiga sebenarnya dia itu cowok yang ngaku-ngaku jadi cewek supaya bisa dikelilingi para gadis. Soalnya wajah dan body-nya itu lebih ke fisik cowok. Sepertinya jalan satu-satunya kita harus menyelidiki dan memeriksa dirinya," jelas Dicky yang jelas-jelas ucapannya lebih terdengar ke hal yang nggak masuk di akal.


"Terus lo mau kita ngapain?"


Ia menjentikkan jari jari tangannya, "Ikut gue!"


Dan entah mengapa aku dan Ilham menurut saja padanya. Entahlah aku tidak mengerti hal aneh apa lagi yang ada di pikiran Dicky. Karena di antara kami, Dicky-lah yang paling lemot dan yahh … paling tidak bisa diharapkan. Tapi, karena rasa penasaranku, aku jadi menurutinya.

__ADS_1


***


Kami menarik Alam dengan paksa untuk ikut bersama kami ke gudang sekolah. Lalu menutup pintu gudang agar tidak ada siapa pun yang tahu.


"Kalian mau ngapain?" tanya Alam dengan tenang. Aku lumayan kagum padanya, karena ia bisa bersikap tenang begitu di saat dirinya dikurung di gudang bersama tiga orang cowok.


Yeah, Seharusnya cewek umum kebanyakan pasti akan ketakutan dan berteriak alay jika dirinya dikurung begini, apa lagi dikelilingi oleh cowok-cowok populer di sekolah. Mereka pasti akan histeris.


Aku, Dicky, dan Ilham berjalan perlahan mendekati Alam. Dan ia pun terus melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada tembok. Kami berhasil menyudutkannya.


"Dengar ya Anak baru. Gue nggak suka lo yang suka cari perhatian ke seluruh masyarakat sekolah."


"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti?" tanyanya dengan wajah polos dan tenang yang membuatku semakin membencinya.


"Cih, Lo nggak usah pura-pura ****!" gertakku dengan memukul tembok yang ia gunakan sebagai sandaran. Kesabaranku hampir habis.


"Kita curiga sama lo. Jangan-jangan lo bukan cewek, kalau cewek nggak mungkin begini."


"Kalian nggak jelas banget, sih. Sumpah, gue nggak ngerti maksud kalian. Gue ini jelas-jelas cewek kok!"


"Kalau gitu kasih lihat kita satu-satunya sesuatu yang membuktikan kalau lo itu cewek!" ucap Ilham dengan tangan di taruh di dagunya. Dan matanya yang menatap Alam dari atas hingga bawah.


Aku tak menduga reaksi yang di berikan Alam pada kami di luar dugaanku. Ia langsung menonjok perut Ilham. Seketika Ilham tersungkur. Kemudian ia memukul wajah Dicky juga. Satu detik kemudian pukulannya melayang ke arahku. Dalam hitungan detik pun kami babak belur dihajar olehnya.


"Dasar mesum!" teriaknya. Setelah itu ia meninggalkan kami.


"Kok dia mukul kita, sih? Kok dia teriakin kita mesum?" tanya Dicky dengan suara serak karena menahan rasa sakit. Dan memegangi pipinya yang mulai terlihat membiru.


"Iya padahal kita cuma pengen lihat kartu pelajar miliknya. Jenis kelaminnya laki apa perempuan," kata Ilham sambil memegang perutnya yang sakit.

__ADS_1


"Cewek itu benar-benar bikin gue kesal," Aku meringis pelan karena rasa sakit di perutku. "Awas aja lain kali gue nggak akan lepasin dia."


__ADS_2