
Ternyata mencari kerja dengan status masih seorang pelajar susah sekali. Aku sudah berusaha untuk melamar ke toko-toko dari yang besar hingga yang kecil. Sampai ke warung nasi pun tidak ada yang mau menerimaku.
Ya, setelah Bisma dan Rinjani pergi. Aku langsung bergegas keluar kompleks untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya aku dan Bisma masih satu kompleks, hanya beda beberapa blok saja. Itu baru kusadari saat aku tahu bahwa Rinjani ternyata adiknya Bisma.
Sesekali aku mengusap keringat yang mengalir di keningku. Matahari semakin menurun dan cuaca semakin panas. Kemana lagi aku harus berjalan. Semua sudah aku telusuri namun tak menghasilkan apa pun. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seorang Bapak-bapak yang sepertinya sedang membutuhkan pertolongan. Di depannya terparkir sebuah mobil dengan guard depan mobil yang terbuka.
Aku pun bergegas menghampirinya.
"Maaf, Pak. Mobilnya kenapa?" tanyaku ketika berada di sebelahnya.
"Nggak tahu, Dek. Tiba-tiba saja mobil saya mogok," kata Bapak itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sudah jelas tidak terasa gatal.
"Coba saya periksa dulu, Pak." Aku meminta izin untuk memeriksa mobil itu.
Bapak separuh baya itu terlihat tidak yakin denganku. "Memangnya kamu bisa, Dik?"
"Tenang aja, Pak. Gini-gini juga saya ngerti kok soal mesin."
Ya, aku lupa memberitahukanmu bahwa aku juga mengerti soal mekanik. Aku benar-benar mempelajari semua tentang hobi dan profesi seorang lelaki. Tapi semua itu tetap saja tidak mengubah pandangan Papa padaku.
Aku segera memeriksa mesin bagian depan mobil. Menurutku ini mudah hanya
Masalah radiatornya saja. Perlu beberapa menit untuk aku mengotak-atik mesin mobil itu …
dan selesai sudah.
"Coba sekarang Bapak nyalakan mesinnya!" perintahku ketika selesai memperbaiki mesin mobil tersebut.
Bapak itu pun segera mengecek mobilnya. Dan hasilnya mobil berhasil menyala kembali.
"Wah, kamu hebat, ya. Mobilnya udah nyala kembali," pujinya padaku.
Aku tersanjung malu. "Makasih, Pak."
"Jarang lho ada anak perempuan yang bisa mekanik."
"Ah, Bapak bisa aja."
__ADS_1
"Saya serius kok … oh ya, kamu mau ke mana kok kelihatannya lagi bingung?"
"Iya, Pak. Saya sebenarnya lagi cari kerja."
"Cari kerja? Kamu masih terlihat terlalu muda buat bekerja. Sepertinya kamu masih sekolah bahkan kamu seumuran dengan anak saya. Atau kamu sudah putus sekolah?"
"Saya sebenarnya masih sekolah, Pak. Cuma masalah ekonomi saya libur dulu mau cari kerja paruh waktu."
"Susah lho cari kerja paruh waktu apalagi dengan status yang masih seorang pelajar."
Omongan Bapak ini membuatku hampir putus asa tak ada harapan. Apakah aku harus menyerah.
Beberapa detik Bapak itu seperti sedang berpikir sambil menopang dagu kemudian ia berkata. "Tapi, setelah lihat kemampuan kamu. Mungkin saya bisa pekerjakan kamu di bengkel saya?"
Aku melongo mendengar tawaran dadakan itu.
"Iya, sebenarnya saya ini seorang Bos di bengkel. Tapi memperbaiki mobil mogok saja saya nggak bisa. Aneh ya?" Kemudian ia tertawa pelan. "Bagaimana, kamu terima nggak tawaran saya? Kamu bisa kok kerja dari pulang sekolah sampai malam. Asal tidak mengganggu belajar kamu."
Aku segera mengatupkan mulutku yang sedari tadi mungkin menganga membuat pintu terbuka untuk lalat yang ingin masuk (untungnya tidak ada lalat yang beneran masuk). Langsung saja aku mengangguk semangat.
"Mulai besok saja. Pulang sekolah kamu langsung datang ke bengkel saya." Lalu ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar kartu. "Ini kartu nama saya. Alamat bengkelnya ada di situ."
Aku menyambut kartu nama itu dengan perasaan senang. "Terimakasih banyak, Pak"
"Kalau begitu saya pergi dulu." Setelah berkata begitu. Pak Rudi, yang kuketahui namanya dari kartu nama yang barusan ia berikan padaku. Masuk ke dalam mobil dan melaju jauh dariku.
Aku memandang kartu nama itu dengan perasaan yang teramat-amat senang. Akhirnya usahaku tidak sia-sia. Benar kata pepatah, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Aku tersenyum dan memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Bisma.
***
Ada yang aneh pagi ini di sekolah. Tentu saja karena pandangan para murid yang memandangiku dengan tak biasa. Kali ini mereka terlihat saling berbisik memandangku. Aku berpikir aneh, mengapa semuanya tak bersikap seperti biasa. Mengapa mereka memandangiku dengan tatapan menjijikkan.
"Al, kamu beneran tinggal di rumah Bisma?" tanya Yayu ketika aku baru saja meletakkan pantatku di kursi.
Aku menyipitkan mata. "Kok kamu tahu?"
Yayu membelalakkan matanya. "Ya ampun, Al. Jadi kabar burung itu benar? Kamu ada hubungan apa sama Bisma?"
__ADS_1
“Emangnya ada gosip tentang apa antara aku sama Bisma?”
“Kamu tahu, Al? Eunike bilang ke orang-orang kalau kamu itu cewek … mmm …” Yayu terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya. “Jalang, karena sudah berani tinggal sama seseorang yang belum ada ikatan yang sah.”
Aku membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang barusan kudengar dari mulut Yayu. “Serius Eunike bilang gitu? Pantas saja di sepanjang koridor sekolah tadi aku merasa aneh sama pandangan mata mereka yang melihatku.” Aku menunduk lemas di atas meja.
"Kamu jangan salah paham dulu. Aku bakal cerita semuanya ke kamu, Yu."
Aku membenarkan posisi dudukku dan menceritakan semua kejadian dari mulai aku memecahkan guci antik milik Papa. Sampai kabur dari rumah lalu ditampung oleh Bisma.
"Ya ampun, Al. Kenapa kamu nggak bilang ke aku. Kamu kan bisa tinggal di rumahku," ucap Yayu dengan prihatin.
"Maaf, Yu. Semua terjadi begitu cepat."
"Jadi kamu kemarin nggak masuk sekolah karena cari kerja? Aku kira kamu sakit, Al. Aku khawatir banget sama kamu."
Aku tersenyum. "Makasih, Yu. Kamu udah mau peduli sama aku."
"Sama-sama. Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan ngomong ke aku ya."
Aku mengangguk. Baru kuketahui ternyata Eunike yang sudah menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentangku. Untung saja Yayu menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar geram padanya. Andai aku punya kesempatan untuk menamparnya sekali lagi. Pasti akan kulakukan.
Sepulang sekolah aku langsung mencari alamat bengkel yang tertara di kartu nama yang saat ini sedang kupegang.
Selang beberapa menit akhirnya aku sampai di depan sebuah bengkel. Bengkel itu terlihat kecil di bagian depan, namun saat aku memasukinya, rupanya ruangan di dalamnya cukup besar untuk menampung beberapa mobil. Ingar-bingar mesin yang terdengar ditambah dengan cowok-cowok bertampang dekil yang lalu lalang membuatku bingung.
Aku celingukan ke sana ke mari untuk mencari seseorang. Dari kejauhan aku melihat perawakan orang yang dari tadi aku cari. Aku pun menghampirinya.
"Permisi, Pak."
Pak Rudi membalikkan badannya. Kemudian beliau tersenyum padaku. "Ternyata kamu beneran serius ya mau kerja di sini. Saya pikir kamu bakalan pikir ulang kembali tawaran saya."
"Rezeki nggak boleh ditolak, Pak," balasku tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu langsung ikut saya ke ruangan untuk ambil seragam," perintahnya. Aku pun langsung mengekor di belakang beliau.
Kuperhatikan cowok-cowok sekelilingku sedang memperhatikanku. Mungkin dibenak mereka bertanya-tanya kenapa ada seorang gadis yang mau bekerja disini (itu pun kalau mereka sadar bahwa aku perempuan).
__ADS_1