
Beberapa menit sebelumnya ….
Pelajaran olahraga hari ini lumayan membuatku capek. Aku segera bergegas ke kelas untuk mengambil baju ganti karena badanku rasanya sudah mulai gatal dan bau keringat.
Saat membuka tas, ada sesuatu benda asing yang tak kukenali berada di dalam tas. Sebuah kotak berukuran lumayan besar. Kotak apa ini? Pikirku dalam hati.
“Ciee … Alam ada yang ngasih hadiah, nih. Coba dibuka!” teriak salah satu teman sekelasku.
“Iya, cepat dibuka!” sahut yang lain. Saat itu hanya ada cewek-cewek di dalam kelas, karena para cowok masih asyik bermain bola.
Karena diliputi rasa penasaran, aku pun membukanya. Dan tiba-tiba sesuatu terlempar ke arah wajahku. Seketika wajahku pun dipenuhi oleh serbuk berwarna putih hingga rambutku pun kena. Sial, aku terkena prank.
Teman-teman di kelas pun segera menghampiriku,
“Kamu nggak apa-apa kan, Al?”
__ADS_1
Aku hanya menggeleng sambil menahan amarahku.
“Ya ampun, siapa sih orang yang tega jahilin kamu sampai kaya gini?”
Aku menatap lurus ke depan, seketika sekelebat bayangan seseorang melintas di kepalaku, wajah orang-orang yang selama ini terlalu memperlihatkan rasa ketidaksukaannya terhadapku.
“Aku rasa, aku tahu siapa pelakunya.” Setelah berkata begitu aku langsung mencari mereka. Di sepanjang perjalanan aku menjadi pusat perhatian para siswa, hanya saja yang sekarang berbeda dari biasanya. Tatapan mata mereka menggambarkan raut wajah kebingungan.
Akhirnya aku menemukan tiga cecunguk itu di kantin. Dari kejauhan pun aku sudah melihat bahwa sang pemimpin mereka--Bisma, mentertawakanku dari belakang. Aku segera menghampiri dan melabraknya. Awalnya ia tak mau mengakuinya, namun akhirnya ia mengaku juga bahwa itu adalah perbuatannya. Entahlah aku nggak tahu kenapa ia bisa berbuat begini padaku. Dia sudah membuatku malu, dan itu artinya ia benar-benar ingin menantang perang. Mulai sekarang aku tidak akan bersikap pura-pura tak memperdulikannya lagi, mulai dari sekarang aku akan membalas perbuatannya dengan awalan menyiramkan minuman yang dibawa konconya itu padanya. Dan skor-nya satu sama. Dia juga merasakan malu yang sedang kurasakan saat ini. Setelah membalasnya, aku segera pergi meninggalkan mereka dan menuju ke toilet untuk membersihkan wajahku. Untunglah pakaian yang sedang kukenakan saat ini adalah seragam olahraga, jadi aku bisa menggantinya dengan seragam biasa.
“Aaaa …” Aku menjerit keras ketika melihat seekor cacing menempel di wastafel tempat pencuci muka. Aku menjauhkan dan merapatkan diri ke tembok kamar mandi untuk menahan tubuhku yang hampir lemas. Karena jeritanku, semua siswi yang berada di dalam toilet berhamburan keluar.
“Ada apa, Al?” tanya mereka kompak.
“I ... itu ada cacing di wastafel. Tolong buang!” Kataku dengan suara bergetar akibat terkejut saat melihat cacing itu yang tiba-tiba nongol di hadapanku.
__ADS_1
Salah seorang melongokkan kepalanya ke arah westafel yang kutunjuk. “Kamu takut sama cacing?”
Aku menggeleng lemah. “Aku bukan takut, tapi phobia. Tolong ya kalian buang!” pintaku lembut.
Mereka mengangguk dan segera membuang cacing itu meliwati lubang pipa yang ada di westafel. Aku hanya bisa terduduk lemas, sumpah cacing itu hampir saja berhasil membuatku jantungan.
“Kamu beneran nggak apa-apa kan?” tanya Yayu yang merupakan teman sekelasku. Ia berjongkok di depanku.
Aku mengangguk. “Makasih ya kalian udah bantu aku,” ucapku disertai senyuman.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Kita saling berpandangan, salah satu dari kita bergegas keluar untuk memeriksanya.
“Siapa, Yu?” Tanyaku.
“Nggak ada siapa-siapa, kok” jawab Yayu. “Kita ke kelas aja. Kamu bisa jalan, kan?”
__ADS_1
“Bisa kok,” ucapku sambil berusaha berdiri. Setelah itu kami segera pergi menuju kelas. Karena jam istirahat sebentar lagi akan segera berakhir.