MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 14 *POV ZASKIA ASSADIL ALAM


__ADS_3

Kau tahu, kenapa banyak orang yang merasakan patah hati. Atau bilang bahwa hati mereka sedang patah. Sedangkan kenyataannya bahwa hati itu tak bertulang.


Tidak masuk akal namun itu semua nyata. Dan itulah yang sedang kurasakan saat ini. Entah mengapa hatiku rasanya sakit ketika diriku tak sengaja mendengar Bisma bicara begitu. Hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh seribu pisau. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diri ini. Yang pasti aku sedang merasakan yang namanya patah hati.


Aku tersadar dari lamunan saat tangan Rinjani tak sengaja menyenggolku.


"Hei, Rinjani," sapa seorang gadis yang kukenali. Ia melayangkan senyumnya ke arah Rinjani.


"Elo? ngapain lo ada di sini?" tanya Rinjani dengan nada ketus.


"Sewot banget sih lo sama Kakak ipar sendiri."


"Dengar, ya. Lo sama Kak Ari itu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Lagian sampai kapan pun gue nggak akan pernah sudi punya Kakak Ipar seorang pengkhianat kayak lo," kecam Rinjani.


"Gue tahu gue salah. Tapi, lo liat aja Bisma pasti akan balik lagi sama gue," tukasnya dengan sombong. "Dan elo ..." Ia menunjuk padaku.


"Elo jangan pernah mimpi bisa dapetin Bisma, deh. Bisma itu cuma milik gue."


Setelah berkata begitu, Eunike berjalan dengan angkuh melewatiku. Lalu ia duduk di kursi yang letaknya lumayan jauh dari kami. Yang membuatku bingung, kenapa Eunike berkata seolah-olah aku akan merebut Bisma darinya. Perempuan sepertiku mana mungkin bisa jadi pacar Bisma. Omongan Bisma yang barusan saja sudah menyadarkanku terlebih dahulu.


Tunggu! Apa yang sedang aku pikirkan? Mengapa juga aku harus repot-repot memikirkan hal sejauh itu. Lagi pula kenapa juga aku harus berharap bisa menjadi kekasihnya Bisma.


***

__ADS_1


Aku berada di sebuah tempat yang sangat indah, pemandangan air terjun di depanku yang begitu memukau dengan hamparan rumput dan bunga-bunga yang indah. Di atasnya terbentang pelangi. Sinar mentari pagi berkilau indah. Aku seperti sedang berada di negeri dongeng.


Aku menatap sekeliling. Ada di mana aku sebenarnya? Tak jauh di depanku terdapat sebuah tumpukan batu besar. Di atasnya terlihat seorang perempuan mengenakan gaun putih. Wajahnya tak terlihat karena posisinya yang membelakangiku. Karena diliputi rasa penasaran, aku pun menghampirinya.


Ketika jarakku hampir dekat dengannya, ia menoleh. Aku terkejut dan hampir saja terjengkang ke belakang. Wajahnya yang pucat, dengan lingkar hitam yang berada di sekitar matanya menambah kesan seram.


"Mama," ucapku tak percaya dengan apa yang sedang mataku lihat sekarang.


Seketika semua pemandangan yang indah bagai surga itu lenyap dan kini hanya ada kegelapan. Semuanya menghilang kecuali ... kecuali wanita yang berdiri di depanku ini. Dengan cahaya yang hanya menyinari dirinya.


Ia menunduk, lalu bangkit dan mendongak ke arahku. "Kau pembunuh! Kau anak yang tidak berguna!" celanya. Kemudian ia tertawa dengan cekikikan.


Aku takut ... sungguh, aku ketakutan. Wanita itu perlahan berjalan ke arahku, atau lebih tepatnya seperti melayang. Semakin dekat ... dan dekat... Sial, aku bahkan tidak bisa menggerakan kakiku untuk kabur. Jangankan kabur, untuk menggerakkan jari saja susah. Sampai jarak wanita itu hanya beberapa cm dariku ....


"Al …" Suara lembut seseorang memanggilku.


"Kamu kenapa?" tanya Yayu yang duduk di sampingku.


Aku menatap ke sekeliling ruangan kelas. Sial, ternyata aku ketiduran di kelas. Aku mengusap pelan wajahku. Dan menguap beberapa kali.


"Aku nggak apa-apa kok." Aku tersenyum mencoba untuk terlihat tenang.


"Kamu beneran nggak apa-apa?"

__ADS_1


Aku mengangguk, memegang tangan Yayu. "Aku nggak apa-apa, Yu." Aku berusaha untuk meyakinkan Yayu bahwa aku baik-baik saja.


Yayu menghela napas pelan. " Ini pasti ada hubungannya sama Papa kamu, kan? Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku."


"Iya." Aku hanya menjawabnya dengan singkat.


"Aku mau ke perpustakaan. Kamu mau ikut nggak?"


Aku menggeleng lembut. "Nggak, deh. Aku lagi pengen di kelas aja."


"Ya udah. Kalau gitu aku duluan ya," Yayu berdiri dan beranjak pergi meninggalkanku.


Aku duduk sambil tangan diletakkan di atas meja dan menopang daguku. Pikiranku mengapa bisa sekacau ini. Tidak mungkin itu Mama. Mungkin itu jelmaan dari rasa takutku yang sesungguhnya.


Aku merogoh kolong meja untuk mengambil buku yang kurasa dapat mengalihkan pikiranku.


Tanganku terasa seperti meraba sesuatu benda lain. Aku mengeluarkan benda itu. Dan ternyata setangkai mawar merah bersama dengan sebuah surat yang tertempel pada tangkainya.


Bunga dari siapa ini? Mungkinkah dari salah satu penggemarku. Tapi, biasanya mereka memberikannya langsung padaku. Aku pun membuka surat itu dengan diliputi rasa penasaran.


Surat itu berisi ....


Untuk wanita termanis yang pernah kutemui,

__ADS_1


Jika kau berpikir bahwa aku seorang pengecut. Ya, aku memang seorang pengecut yang hanya berani menatapmu diam-diam dari kejauhan. Tidak seperti mereka yang berani menyatakan cintanya padamu meskipun mereka kau tolak berkali-kali. Tapi, bukankah cinta tak harus dinyatakan dengan lisan? Untuk apa diciptakan sebuah surat jika tidak bisa dipakai untuk menyatakan cinta bagi orang-orang yang pengecut sepertiku. Aku memang pengecut, tapi percayalah cintaku tak sepengecut diriku. Ia bahkan lebih berani karena mencintai seseorang yang baru saja dikenalnya beberapa waktu.


Surat yang begitu panjang sampai aku sendiri hampir saja menguap karena bosan membacanya. Tapi, kuhargai. Kata-katanya yang begitu manis mampu membuatku penasaran dan bertanya-tanya, siapakah orang yang mengirimiku surat ini?


__ADS_2