MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 7


__ADS_3

Aku menendang kaleng bekas yang tergeletak begitu saja di jalanan. Melampiaskan amarahku pada kaleng tak berdosa itu. Aku masih saja kesal denga insiden yang terjadi padaku hari ini. Aku membayangkan bahwa kaleng minuman bekas itu adalah kepala Bisma si cowok rese. Dengan sekuat tenaga aku menendangnya.


“Awww …” rintih seseorang yang ternyata kepalanya terbentur oleh kaleng minuman bekas yang kutendang barusan. Dia seorang gadis.


“Maaf, aku nggak sengaja ...” ucapanku terhenti ketika mengetahui wajah gadis itu, “Rinjani.”


Ia menoleh dan tersenyum padaku, “Kak Kia.”


“Kamu sedang apa di sini? Nanti kalau diganggu preman lagi gimana?”


“Aku lagi nungguin Kak Kia.”


Aku mengkerutkan dahi. “Nungguin aku? Ada perlu apa, ya?”


Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak terbungkus kertas kado. “Ini dari Kak Ari, ia menitipkan ini padaku untuk diberikan pada Kak Kia. Katanya sih sebagai ucapan terimakasih karena Kakak udah tolongin aku.” Ia menyodorkan kotak itu padaku.


Aku menerima kotak itu dengan ragu. Dan sepertinya Rinjani bisa menangkap keraguan di mataku.


“Kak Kia nggak usah takut. Ini bukan bom kok. Kak Ari memang benar-benar ikhlas kasih ini ke Kakak, malahan dia sendiri yang memilihkannya untuk Kakak.”


Aku tersenyum melihat sorot mata kejujuran dari Rinjani. “Kakak kamu baik banget. Tolong sampaikan rasa terima kasih aku pada dia, ya.”


Ia hanya mengangguk dan senyum.

__ADS_1


“Oh, ya. Kakak kenapa kok tadi kayak lagi marah sama seseorang sampai nendang-nendang kaleng bekas gitu?”


Aku nyengir. “Maaf ... kamu nggak sakit, kan?”


Rinjani menggeleng pelan. “Nggak sih, emangnya Kakak punya masalah apa?”


Aku berjalan ke samping jalan, lalu duduk di situ. Diikuti Rinjani.


“Aku lagi kesal karena aku dikerjai sama cowok paling rese yang pernah aku temui. Bahkan aku nggak tahu sebenarnya dia punya masalah apa sama aku sampai-sampai dia punya dendam pribadi gitu,” keluhku.


“Mungkin cowok itu iri sama Kakak?”


“Iri? Kenapa dia harus iri ke aku?” tanyaku bingung sambil sesekali menengok ke arah Rinjani berharap ia bisa membantu menemukan solusinya.


Yeap, meskipun kita baru kenal tapi rasanya seperti sudah akrab saja. Rinjani juga merupakan tipe orang yang mudah bergaul. Buktinya ia bisa nyambung bila kuajak ngobrol.


Aku diam menatapnya sesaat, kemudian tertawa lepas.


“Kok Kakak ketawa, sih?” tanya Rinjani yang terlihat kebingungan.


“Kamu itu bukan yang pertama kok yang nyangka kalau aku cowok. Banyak yang tertipu sama penampilan dan wajahku,” tuturku sambil sesekali menyeka air mata yang keluar dari ekor mataku.


“Tapi menurutku Kak Kia cantik juga kok sebagai cewek, jika saja rambutnya agak sedikit di panjangin.”

__ADS_1


Sial, lagi-lagi ucapan Rinjani berhasil membuatku tersipu malu.


“Kalau boleh tahu kenapa sih Kakak berpenampilan kayak cowok begini?”


Bagai diterjang badai, pertanyaan Rinjani benar-benar menusuk ke dalam hatiku. Pertanyaanya yang langsung menohok sisi gelap kehidupanku itu membuatku kaget. Jujur saja, ini pertama kalinya ada orang yang mempertanyakan tentang penampilanku yang seperti laki-laki dan itu membuatku bingung untuk menjawab apa, aku tidak mungkin menceritakan kehidupanku padanya. aku pun gelagaban.


“Ah ... itu ... mmmm ... maaf.” Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak kelihatan sedih. “Aku nggak bisa kasih tahu alasannya.”


“Yaahh ... ya udah nggak apa-apa, Kak.” Dari raut wajahnya menandakan bahwa ia terlihat kecewa karena aku tak memberitahukan alasanku yang sebenarnya. Kemudian ia bangkit. “Kalau gitu aku pulang dulu, Kak.”


“Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?” kataku sambil mendongak ke atas .


“Nggak masalah, Kak. Kan rumah aku dekat kalau dari sini.” Ia tertawa ringan.


“Ya sudah hati-hati di jalan ya. Aku juga mau pulang.” Setelah berpamitan, kami pulang ke arah jalan rumah masing-masing.


***


Sesampainya di rumah--atau lebih tepatnya rumah kosong mungkin bisa di bilang begitu. Bagaimana bisa dikatakan rumah berpenghuni jika suara detak jantung saja bisa terdengar. Rumah yang sangat sunyi dan sepi. Hanya ada dua orang yang menghuni. Itu pun jika seorang lagi menyempatkan diri pulang ke rumah. Yeah, selama ini aku tinggal dalam kesendirian. Pembantu yang mengurus rumah sudah pulang, karena tugas dia hanya dari pagi sampai sore hari. Dan sekarang sudah hampir jam 6, tentu saja pembantu itu sudah pulang ke rumahnya.


Sedangkan Papa. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di luar. Dia pulang hanya jika dia menginginkannya. Dan dia lebih banyak tidak menginginkan pulang ke rumahnya. Itu artinya hanya ada aku dan kesendirian. Di lingkungan sekolah mungkin aku banyak teman, tapi di rumah tak seorang pun aku punya. Tak terasa air mataku mengalir ketika aku menghempaskan diri di kasur. Namun, aku teringat sesuatu. Ya, kotak pemberian dari Kakaknya Rinjani. Kuraih kotak itu, lalu membukanya.


Sebuah kotak musik, di bawahnya ada sepucuk surat yang sepertinya memang sengaja ditinggalkan untukku. Surat itu berisi …

__ADS_1


Terimakasih karena kamu sudah menolong Rinjani. Aku nggak tahu bagaimana jadinya jika kamu nggak datang menolong dia. Rinjani adalah keluarga satu-satunya yang kumiliki. Maka sebagai ucapan terimakasih, aku ingin sekali memberimu hadiah. Semoga kamu mau menerimanya dan semoga hadiah kecil ini bisa menghiburmu di saat kamu sedih.


Kata-kata yang sungguh manis, aku merasa cukup terkesan. Aku membayangkan bahwa orang yang bernama Ari itu adalah cowok yang romantis, jika saja aku pacarnya. Mungkin aku akan meleleh menerima hadiah kotak musik yang sangat imut ini. Aku memutar sekrup yang ada di bagian bawah kotak musik hingga mentok, kemudian membuka kotak itu, didalamnya terdapat miniatur gadis kecil yang mengenakan gaun selutut didalamnya berputar-putar ketika alunan ‘Fure Elise' mulai terdengar dari kotak musik. Lagu yang mampu membuat hatiku tenang dan nyaman. Dan tanpa disadari kedua mataku terpejam hingga akhirnya aku tertidur.


__ADS_2