
Mimpi apa aku semalam? Ya, pulang kerja ketika melewati kamar Bisma, tiba-tiba saja ia keluar kamar dan memberikanku sebuah hadiah kecil.
"Ini buat lo. Meskipun kecil gue harap lo suka ya," katanya sambil tersenyum. Setelah berkata begitu ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Aku masih diam tak bergeming dengan wajah melongo aku menatap pintu kamarnya tak berkedip. Setelah sadar aku segera bergegas masuk ke kamar Rinjani. Yah, walaupun kecil tapi itu benar-benar sangat berharga bagiku. Aku bersorak kegirangan sendiri hingga tak sadar meloncat-loncat diatas kasur milik Rinjani sambil memeluk kotak kecil itu. Aku berteriak-teriak dalam hati. Lelahku pun hari ini terbayar oleh hadiah kecil dari Bisma.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, sontak saja aku langsung memasang posisi duduk. Seseorang muncul dari balik pintu.
Astaga, ternyata Rinjani. Aku pikir Bisma yang masuk. Jantungku yang tadinya berdetak hampir saja mau putus.
"Wah, wah, wah … kayaknya ada yang lagi ketiban durian runtuh, nih." Rinjani menyunggingkan senyuman padaku. Dan tentu saja itu membuatku tersipu malu.
"Dapat hadiah kecil berasa dapat undian mobil, ya?" godanya lagi.
"Kamu bisa aja, Jani."
"Cepat, Kak. Dibuka biar tau apa isinya?" Rinjani duduk bersandar di sampingku. Dengan tergesa-gesa ia menyuruhku untuk segera cepat-cepat membuka kadonya.
Dan ternyata sebuah jepit rambut berwarna ungu dengan motif bunga yang-sangat lucu.
Rinjani terlihat begitu terpukau melihatnya. "Aaa ... lucu banget jepit rambutnya. Kak Ari emang so sweet banget, sih. Ayo, Kak, coba dipakai!" katanya sambil membawaku mengahadap ke arah cermin. "Wig-nya dilepas dulu."
Aku pun melepaskan wig yang kukenakan. Dan membiarkan rambutku tergerai. Lalu dengan jantung deg-degan aku memakaikannya perlahan.
"Wah ... Kak Kia manis banget," puji Rinjani menatap bayanganku di cermin.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Bahkan mulutku tak bisa mengungkapkan apa yang sekarang sedang aku rasakan.
"Tuh kan, Kak. Kak Ari juga pasti punya perasaan ke Kak Kia. Buktinya Kak Ari kasih Kakak hadiah kayak gini."
"Kamu jangan terlalu berlebihan, Jani. Ini kan cuma hadiah kecil. Siapa aja bisa kasih hadiah ke orang yang belum tentu dia sukai."
Rinjani memutar kedua bola matanya. "Terserah Kak Kia aja, deh. Yang pasti kalau menurutku Kak Ari itu suka sama Kakak."
Semoga saja begitu. Tapi aku tak terlalu berharap. Karena aku takut kecewa jika ternyata kenyataan tak sesuai dengan harapanku. Cukup sekali saja aku menderita karena Papa. Aku tak mau merasakan sakit lebih dari itu.
***
Aku memasuki kelas dengan wajah sumringah. Di sepanjang jalan aku senyam-senyum sendiri. Mungkin bagi orang-orang yang lewat aku terlihat gila. Masa bodo, aku tak peduli. Yang jelas aku bahagia banget. Karena pagi ini Bisma memujiku cocok mengenakan jempit rambut pemberian darinya. Tentu saja kupakai di wig yang kukenakan, bukan di rambut asliku.
"Lo manis banget, Al," kata-kata itulah yang selalu terngiang di telingaku. Ucapan termanis dari Bisma yang tak akan pernah aku lupakan. Sial, hidungku hampir saja terlepas dari tempatnya jika terus mengingat perkataan Bisma itu.
Saat aku duduk, Yayu langsung menghampiriku. Dia memeriksa diriku.
"Kayaknya ada yang beda. Tapi apa, ya?" pikirnya sambil tangan di tempel di pelipisnya. Aku menunggu reaksi Yayu seperti apa ketika menyadari aku tampil berbeda. Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku. "Al, sejak kapan kamu pakai jepit rambut?"
__ADS_1
Aku tersenyum puas, akhirnya ia menyadari juga. "Sejak tadi."
"Kamu manis banget, Al." pujinya.
"Makasih, Yu."
"Sama-sama. Oh ya, kamu dikasih sama siapa? Jepit rambutnya lucu. Cocok banget sama kamu yang manis."
"Ini dari ..." Belum selesai aku bicara, bel tanda masuk berbunyi. Dan guru yang mengajar di kelasku sudah kelihatan batang hidungnya. Padahal aku ingin cerita pada Yayu siapa orang yang telah memberikanku jepit rambut (yang menurutku istimewa) ini. Mungkin lain kali saja.
Istirahat tiba aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah. Di lapangan basket aku melihat Bisma, Ilham dan Dicky sedang bermain bola basket. Bisma melirik ke arahku. Aku pun melambaikan tangan pada mereka dan menghampirinya.
"Gue boleh ikutan main?" tanyaku.
"Boleh," jawab mereka serempak.
"Kenapa nggak," kata Ilham yang sepertinya sedikit tertegun melihatku mengenakan aksesoris baru. Bukannya ge'er. Tapi sungguh aku tak bohong.
Aku langsung bergabung dengan mereka. Kita di bagi dua tim. Aku ikut ke dalam timnya Ilham, sedangkan Dicky ikut ke tim Bisma. Permainan pun dimulai.
Meskipun mereka semua cowok, tapi kemampuan dan tenagaku tak jauh beda dari mereka. Bahkan di babak pertama saja aku sudah berhasil mencetak angka. Tim-ku bersorak gembira. Dan Ilham tiba-tiba memelukku, entah sengaja atau tidak. Mungkin ia terlalu bersemangat.
"Sori," katanya ketika menyadari bahwa ia telah memelukku.
"Nggak pa-pa".
Kami memulai kembali permainan. Dan sekarang tim Bisma benar-benar bermain dengan serius. Mereka tak rela jika aku harus kembali merebut gol dari mereka. Ketika aku sibuk menjaga bolaku agar tak jatuh ke tangan lawan, tiba-tiba Bisma dengan susah payah mencoba untuk merebut bola, hidung kami tak sengaja sedikit bersentuhan. Dan tentu saja itu membuatku dag, dig, dug. Hingga aku pun lengah dan tanpa disadari bola telah berhasil direbut oleh Bisma. Mereka bersorak ketika Bisma mencetak gol.
Aku hanya diam mematung,
"Al, lo gimana, sih?" teriak tim-ku yang lain dengan kecewa.
"Al, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Ilham yang segera menyadarkanku dari lamunanku.
"Eh, nggak kok. Gue udahan, ya. Capek, nih." Aku berjalan ke tepi lapangan untuk beristirahat sejenak.
Aku memegang hidungku yang tadi bersentuhan dengan hidung Bisma. Deru napasnya yang hangat masih terasa jelas olehku. Dan entah mengapa aku jadi memegang bibirku. Hidungnya saja terasa lembut, bagaimana jika bibirnya ... sial, sedang mikir apa sih aku ini? Kenapa aku jadi mesum begini. Aku langsung segera menepis pikiran itu dan menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali (dengan pelan tentunya).
"Lo beneran nggak pa-pa, Al?"
Aku mendongak dan mendapati Ilham yang tengah berdiri tepat di depanku.
Aku sedikit mengernyit melihat Ilham karena silaunya sinar matahari. "Gue nggak apa-apa, Ham."
Ilham mengenyakkan dirinya di samping tempat dudukku. Beberapa menit Ilham menatapku, dan aku merasa sedikit terganggu oleh tatapannya.
__ADS_1
“Elo kok liatin gue terus?”
“Soalnya gue seneng lo pakai jepit rambut itu. Elo cocok banget.”
Aku menunduk malu sambil menahan senyum. “Elo bisa aja, Ham.”
“Berarti nggak sia-sia dong gue kasih lo itu. Gue seneng banget lo mau pake pemberian dari gue.”
Bagai tertimpa tangga, mendadak senyumku pun memudar. Apa aku tidak salah dengar, Ilham yang memberikanku jepit rambut lucu ini. “Jadi, ini dari lo?” tanyaku untuk memastikan bahwa pendengaranku memang tak bermasalah.
“Lho, emangnya Bisma nggak bilang kalau itu dari gue?” tanya Ilham balik.
“Sori, Ham. Gue lupa.” Suara seseorang menyambar pembicaraan kami. Itu suara Bisma.
“Sori, ya. Kemarin waktu gue mau bilang ternyata lo udah masuk ke dalam kamar, dan gue nggak mau ganggu waktu istirahat lo, karena lo pasti capek pulang kerja,” tuturnya lagi.
Aku masih terdiam, jadi ini hadiah dari Ilham? Bukan dari Bisma. Kebahagiaanku pun berubah menjadi kekecewaan hanya dalam hitungan detik.
“Al?” Bisma melambaikan tangannya di depan wajahku. Untuk menyadarkanku yang tanpa sadar aku melamun.
“Eh, makasih ya, Ham. Gue suka banget sama jepit rambutnya.” Aku mencoba untuk tersenyum. Senyum yang terkesan dipaksakan.
Jauh dalam lubuk hatiku sungguh kecewa. Bukankah sudah jelas bahwa Bisma memang tak punya perasaan apa-apa padaku. Tapi, hatiku yang tidak tahu diri ini tetap saja berharap bahwa Bisma menyukaiku.
Malam hari sepulang dari kerja aku memutuskan untuk berdiam diluar rumah dan duduk di tepi kolam renang untuk menghilangkan rasa lelahku karena sedari tadi di bengkel sangat ramai. Aku menatap langit dengan menggenggam sebuah kotak musik yang kudapat dari Bisma.
Aku memutar sekrup yang terletak di samping bawahnya. Mengalunkan irama musik yang mampu membuatku tenang.
“Elo ternyata masih simpan kotak musik itu.” Bisma mendekatiku dan duduk disampingku. Ia melayangkan senyumnya padaku.
“Emang lo pikir gue ngebuangnya gitu?”
Bisma terkekeh. "Ya nggak gitu juga kali. Oh ya, elo lagi apa malam-malam di sini. Bukannya tidur. Entar besok telat sekolah gimana?”
“Lho, besok kan hari Minggu," timpalku.
Bisma menepuk jidatnya. “Ya ampun gue lupa. Berarti sekarang malam Minggu dong?”
“Iya.”
“Maklum udah lama jomblo jadi nggak sadar kalau malam Minggu itu ada,” candanya.
Aku tertawa kecil. ”Bisa aja lo dasar jomblo,” ejekku dibarengi gelak tawaku.
“Hei, sadar diri lo juga jomblo tahu.” Ia balas mengejekku.
__ADS_1
“Ya udah, sesama jomblo dilarang saling mengejek,” kataku sambil tertawa bersama Bisma.
Ya, walaupun Bisma tak mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Setidaknya, bisa tertawa bersamanya saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Karena cinta tak selalu harus memiliki, cukup seperti ini saja.