MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 11


__ADS_3

Aku tersentak dari tidurku mendengar bunyi alarm yang terletak di samping. Dengan mata terpejam, aku menggapai-gapai ke arah samping untuk meraih alarm itu. Akhirnya tanganku pun bisa meraba kotak berukuran kecil dengan kaca cembung yang masih bergetar dan berbunyi nyaring itu. Aku menekan tombol di sisi atasnya. Dan alarm itu pun berhenti dari kebisingannya.


Aku bangkit dari tidurku sambil menguap dengan lebar dan mengusap-usap wajahku mencoba menghilangkan kantuk. Aku melirik jam wekerku yang tadi berfungsi sebagai alarm. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku membelalakkan mata ketika sadar bahwa hari sudah siang dan aku sudah terlambat untuk pergi sekolah. Gawat, aku kesiangan. Dengan gerakan kilat aku langsung mencuci muka dan segera mengenakan seragam. Bahkan tak ada waktu untuk mandi.


Aku berjalan dengan tergesa-gesa menuju gerbang sekolah. Lima menit lagi bel tanda masuk akan segera berbunyi. Karena tak memperhatikan jalan dan langkah kakiku, aku tak sengaja menabrak seorang anak perempuan. Ia terjungkal ke depan. Tentu saja badannya yang lebih kecil dariku itu tak mampu menahan dorongan dari tubuhku.


"Sori, aku nggak sengaja," kataku sambil berjongkok dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.


Ia mendongak, menatap wajahku. Setelah itu menyambut uluran tanganku kemudian bangkit sambil merapikan rok yang sempat kotor gara-gara menyentuh tanah ketika terjatuh tadi.


"Sori, ya," tuturku sekali lagi disertai senyuman.


Ia tidak menjawab apa-apa, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukanku.


“Sombong banget, sih. Padahal cantik,” gumamku.


Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk sudah berbunyi. Huftt ... untung saja aku tepat waktu. Aku pun langsung segera bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas aku langsung dihujani beberapa pertanyaan oleh Yayu kenapa aku bisa datang terlambat. Padahal hari ini jadwal aku piket kelas. Dan alhasil Yayu yang juga menjabat sebagai KM kelas menghukumku. Wajar saja jika Yayu jadi ketua murid di kelasku, mereka terlalu meremehkan sifat Yayu yang pertama kali mereka kenal sebagai anak perempuan yang lembut, padahal di balik sifatnya yang begitu tersimpan watak Yayu yang tegas dan … galak. Yeah, tentu saja aku tahu cerita itu karena Yayu sendiri yang menceritakannya padaku.

__ADS_1


***


"Alam, kamu cat yang sebelah sini!" seseorang berambut ikal memanggil dan melambaikan tangannya ke arahku. Ternyata Kak Rio sang ketua club drama. Aku segera menghampiri dan mengerjakan perintahnya. Di sampingku juga ada Bisma yang sedang memainkan kuas di atas material yang sedang digunakannya.


Ya, Waktu istirahat kami gunakan untuk membuat properti-properti yang akan dipakai dalam pementasan drama kami nantinya.


Aku semar-mesem sendiri melihat wajah Bisma yang berlumuran dengan cat air. Bisma mengangkat kedua alisnya sambil bertanya. "Ada apa?"


"Muka lo, kotor banget. Sini gue lap." Aku mengambil kain bersih yang memang sengaja diletakkan di samping kami untuk membersihkan cat-cat yang menempel di kulit kami. Untunglah kain itu masih bersih belum dipakai orang lain.


Aku mengelap wajah Bisma dengan lembut. Awalnya aku hanya bersikap biasa, sampai akhirnya kusadari mata Bisma yang lurus menatap mataku. Sesaat mata kami saling bertemu, sangat dalam sampai tiba-tiba entah mengapa jantungku mendadak deg-degan. Aku langsung memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengannya agar tak terjerumus terlalu dalam.


Bisma tersenyum. "Ya nggak, lah."


"Teman-teman, tolong minta perhatiannya sebentar!" Ketua club drama menepuk-nepuk tangannya sebagai isyarat bahwa kami harus meninggalkan kegiatan kami dan mencurahkan seluruh perhatian kami padanya. Seorang gadis berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat cantik dengan rambut panjang tergerai yang dihiasi jepit rambut membuat kesan manis merekat padanya.


"Kita punya anggota club baru. Namanya Eunike. Kebetulan Eunike ini jago melukis. Jadi, dia bisa membantu kita untuk membuat properti pementasan," katanya.

__ADS_1


Sesaat aku teringat bahwa ternyata Eunike adalah gadis yang tadi pagi sempat kutabrak di gerbang sekolah.


Setelah masa perkenalan Eunike, kami melakukan kegiatan kami kembali. Ada beberapa anak yang menyapanya, dan ia terlihat ramah sekali pada mereka. Sedangkan padaku tadi pagi, senyum saja dia nggak.


Gadis itu berjongkok di samping Bisma. Aku tersenyum kepadanya, tapi lagi-lagi aku diacuhkan olehnya. Aneh, kenapa ia bersikap seolah membenciku. Sekarang apa lagi?


"Hei, Bis. Udah lama ya kita nggak ketemu," kupingku tak sengaja mendengar ucapan Eunike yang ditunjukkan pada Bisma. Seolah mereka sangat akrab banget.


Lama nggak ketemu? Apa maksud ucapan Eunike? Apakah Bisma dan Eunike sudah saling mengenal satu sama lain sejak dulu? Lalu apa hubungan mereka berdua? Tunggu! Kenapa pertanyaan itu muncul di benakku. Memangnya apa urusanku jika mereka memang benar pernah punya hubungan. Dan kenapa diriku bergerak sendiri mendekati Bisma dan Eunike dengan perlahan sambil berpura-pura sibuk mengecat properti.


"Mau lo apa? Kenapa lo harus repot-repot pindah sekolah segala? Ke sekolahan gue lagi." Nada suara Bisma terdengar sinis.


"Kamu kok kasar banget sih sama aku? Kamu lupa ya kalau dulu aku pernah jadi orang yang berharga di hidup kamu? Bahkan ada di hati kamu."


"Itu kan dulu sebelum lo hancurin perasaan gue. Dan gue kasih tau ya sama lo. Sekuat apa pun lo berusaha, nggak akan mengubah perasaan gue ke lo kayak dulu lagi."


"Aku yakin kok. Kamu sebenarnya masih sayang sama aku. Kita lihat saja nanti," Eunike bangkit berdiri dan berpindah posisi menjauhi Bisma.

__ADS_1


Kulihat wajah Bisma yang terlihat bete, beberapa kali ia menarik napas panjang. Mungkinkah Eunike adalah mantan pacar Bisma? Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan hal seperti itu. Bukan urusanku kan kalau Bisma dan Eunike punya hubungan khusus.


__ADS_2