MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 4


__ADS_3

Aku sudah berada di sebuah bangunan rumah besar dengan gaya arsitektur kuno yang masih kental.


"Silahkan diminum airnya, Kak," ujar Rinjani.


Yeah, gadis yang tadi kutolong namanya Rinjani. Dia mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Awalnya aku menolak, tapi Rinjani memaksaku. Selain itu ia juga takut jika diganggu lagi oleh preman seperti tadi. Dan aku pun tidak bisa menolaknya.


"Makasih," ucapku seraya mengambil minuman itu dan menengguknya.


"Jadi, Kakak beneran penguasa wilayah ini?" tanyanya dengan polos.


Tentu saja itu membuatku terkejut dan tak sengaja tersedak hingga membuatku terbatuk-batuk dan hampir kehabisan napas, "Kamu benar-benar percaya sama ucapanku yang tadi?"


Ia hanya mengangguk.


Aku tertawa kecil, "Ya ampun, tentu aja bukan. Aku tadi cuma menggertak mereka doang kok."


Ia mengkerutkan dahi. "Maksud kakak?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


"Ya maksud aku, aku itu cuma kebetulan lewat aja."

__ADS_1


"Tapi tadi Kakak jago banget lho berantemnya."


Aku tersenyum. "Itu karena aku ikutan kegiatan tambahan bidang bela diri."


Kemudian mulutnya berbentuk huruf "O" selama satu-dua detik seakan-akan baru saja mendapat pencerahan. "Pantas saja Kakak jago banget tadi."


Aku hanya tersenyum, karena sedari tadi ia mengucapkan kata ‘jago' berulang-ulang. Dan itu membuatku jadi tersipu malu.


"Oh, ya. Kamu tadi kok bisa sih diganggu sama preman-preman itu?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebenarnya aku tadi lagi nunggu Kakakku jemput aku di sekolah. Tapi, kakak nggak datang-datang juga. Ya udah aku pulang aja sendiri. Eh, di tengah jalan aku dihadang sama preman-preman itu. Tapi, untunglah Kakak datang menolongku." Ia melayangkan senyuman padaku.


Mendadak saja raut wajah Rinjani menjadi suram. Ia menundukkan kepalanya. "Aku sudah nggak punya orang tua, Kak. Cuma Kak Ari yang aku punya."


Oh, Aku tak bermaksud untuk membuatnya sedih. "Sori, aku nggak ada maksud buat ..." Belum selesai aku bicara. Rinjani sudah memotongnya.


"Nggak apa-apa, Kak." Ia tersenyum padaku.


Sekarang aku tahu, tak seharusnya aku selalu menyesali takdirku. Dan nggak seharusnya aku berpikir bahwa aku adalah orang yang paling sengsara di dunia. Ternyata masih ada orang yang tidak seberuntung diriku. Meskipun aku sudah tidak mempunyai seorang Ibu, tetapi aku masih punya sosok seorang Ayah.

__ADS_1


Aku mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan. Benar-benar besar. Ya, walaupun rumahku sendiri tak kalah besarnya. Yang kukagumi dari rumah ini adalah arsitekturnya yang bernuansa klasik, temboknya dihiasi gambar-gambar kuda perang yang bermotif timbul.


"Udah sore, nih. Aku harus pulang," Aku segera mengundurkan diri dan meraih ransel sekolahku yang sedari tadi kuletakkan di samping sofa.


"Oh, ya. Nama Kakak siapa?" tanyanya sebelum aku melangkah pergi keluar.


"Namaku Zaskia. Panggil saja Kia," kataku sambil melambaikan tangan padanya dan bergegas pergi meninggalkan rumah mewah itu.


***


"Tristan, kenapa kau harus pergi sekarang?" seorang gadis memegang erat tanganku. Mencoba untuk menghentikan langkahku.


"Maafkan aku, Isolde. Aku harus pergi sekarang. Aku janji, aku akan kembali padamu secepatnya," Aku memegang kedua tangan gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.


"Oke, guys. Latihan kita cukup sampai di sini dulu. Sekarang waktunya istirahat," teriak seorang senior yang kuketahui sebagai ketua club drama bernama Kak Rio.


Yeap, kami sedang berlatih drama untuk kami tampilkan dalam acara festival sekolah yang akan diselenggarakan dua bulan lagi. Mungkin sudah tidak asing lagi jika aku mendapat peran utama dalam drama sekolah. Di sekolah lamaku yang dulu juga, aku sering mendapatkan peran sebagai seorang pria yang berada di peran utama. Meskipun sejatinya aku adalah seorang wanita. Kak Rio dan anggota yang lain tidak pernah mempermasalahkannya, bahkan menurut mereka aku mendapatkan peran yang sangat cocok dan bisa menghayatinya. Setelah turun dari panggung, para gadis mulai menghampiriku. Percayalah, meskipun aku sering dan suka dikelilingi para gadis, bukan berarti aku tidak menyukai cowok. Aku hanya memandang gadis-gadis ini sebagai teman saja. Lagi pula mereka semua sangat baik dan ramah padaku. Mana mungkin aku bersikap acuh tak acuh pada mereka. Itu namanya sombong.


Di balik itu semua, pasti ada saja orang yang iri terhadapku. Yeah, siapa lagi jika bukan tiga cowok cecunguk yang sedari awal tidak pernah menyukaiku. Mereka memandang ke arahku dengan tatapan sinis. Cuma mereka bertiga cowok yang benar-benar tidak menyukaiku-bahkan sepertinya membenciku. Sampai sekarang pun aku tak tahu apa permasalahan mereka padaku.

__ADS_1


__ADS_2