MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 23


__ADS_3

Aku duduk termenung di depan kelas. Aku tersentak ketika Yayu duduk di sampingku.


“Kamu kenapa, Al? Kok kayak yang lagi galau gitu?”


Aku melirik Yayu sebentar, kemudian kembali menatap ke depan. “Aku nggak apa-apa kok, Yu.”


“Kamu jangan bohong, Al.”


Aku menarik napas pelan, membenarkan posisi dudukku sehingga menghadap ke Yayu. Dan aku pun menceritakan semuanya.


“Apa? kamu suka sama Bisma? Nggak salah tuh?”


Aku menggeleng pelan. “Nggak ada kata salah dalam cinta, Yu.” Aku menyunggingkan senyuman pada Yayu.


“Tapi kan Bisma pernah jahatin kamu.”


“Iya, itu kan dulu, Yu. Tapi sekarang kan Bisma udah berubah.”


“Ya udah deh, terserah kamu aja, Al. Kalau itu bisa bikin kamu bahagia, ya aku dukung.”


“Makasih ya, Yu.”


Yayu hanya membalas senyumanku. “Eh, Al. pulang sekolah kita main, yuk!”


“Ayo, ke mana?” tanyaku kembali mendadak bersemangat. "Eh, tapi … aku kan kerja.” Lalu raut wajahku kembali ke semula tak bersemangat.

__ADS_1


“Oh, iya ya. Gimana kalau hari Minggu nanti?”


“Oke,” tanganku membentuk huruf ‘O' kembali bersemangat.


***


Seseorang telah menepuk pundakku, namun ketika aku menoleh. Tidak ada siapa pun, orang-orang disekitarku pun sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka tengah sibuk dengan mobil para pelanggan mereka. Aku pun melanjutkan kembali pekerjaanku yang tadi sempat terganggu oleh keusilan seseorang yang tidak kupedulikan.


Tangan usil itu kembali menepuk pundakku. Aku mendengus dengan malas, lalu berbalik dan seketika berteriak terkejut melihat wajah Ilham yang sangat dekat mengagetkanku.


Ilham terkekeh pelan melihat reaksiku yang begitu.


“Elo, apa-apaan sih, Ham. Kaget tahu.”


“Hehehe … sori, Al. gue Cuma mau kasih lo ini.” Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Aku segera menyobek ujung amplop itu dengan hati-hati agar uangnya tidak sengaja ikut tersobek. Kuhitung jumlah uang yang kuterima. Tunggu! Jumlahnya tidak sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.


“Ham, gajinya kelebihan deh kayaknya. Nggak sesuai sama kesepakatan antara gue sama Pak Rudi.”


Ilham tersenyum. “Gaji lo emang segitu, udah anggap aja itu bonus karena kegigihan lo, Al.”


“Tapi, Ham. Gue nggak enak sama yang lainnya. Mereka kerja udah lama dari gue, tapi gaji gue malah lebih besar dari mereka.”


“Itu uang tambahan dari gue, anggap aja gue bantuin lo buat cari kos-kosan. Emang lo nggak merasa nggak enak gitu ngerepotin Bisma.”

__ADS_1


“Ya iya, sih. Tapi, ini kebanyakan, Ham.” Aku mencoba untuk mengembalikkan kembali total uang yang lebihnya.


“Udah terima aja, Al. gimana kalau sebagai gantinya lo temenin gue nonton. Ada film yang bagus, nih.”


Duh, gimana ya? Sebenarnya aku sedikit malas sih. Tapi aku juga tak enak hati jika harus menolaknya. Lagipula Ilham udah baik sekali padaku.


Aku pun mengiyakan ajakannya. Tapi sebelumnya aku harus pulang dulu ke rumah Bisma untuk berganti pakaian. Nggak mungkin kan aku jalan sama Ilham menggunakan pakaian kotor dan bau keringat seperti ini.


Bisma mendapati diriku yang tengah berdiri di teras rumah mengenakan pakaian rapi.


“Elo mau ke mana?”


“Mau jalan sama Ilham. Dia ngajak gue pergi nonton terus pulangnya agak malam. Boleh kan?”


Bisma mengangkat kedua alisnya. “Kok elo minta izin ke gue, sih?”


“Ya, soalnya lo kan yang punya rumah. Jadi gue harus izin dulu sama lo kalau mau pulang malam.”


“Oh, iya,” jawabnya singkat.


Kenapa sih Bisma bersikap seolah-olah ia tak mempedulikanku. Padahal aku ingin dia melarang agar aku tak jadi pergi dengan cowok lain. Asal kau tahu, ini adalah kencan pertamaku. Ya, walaupun hanya nonton film biasa. Tapi apalagi namanya kalau cowok dengan cewek jalan cuma berdua, sama saja artinya seperti kencan. Aku mengerutu kesal dalam hati.


Selang beberapa menit, Ilham telah sampai kemari. Ia turun dan … waw, penampilannya rapi sekali. Padahal ini hanya nonton biasa, aku sendiri sampai minder karena pakaianku yang terlihat biasa saja.


“Sori, ya nunggu lama,” katanya.

__ADS_1


“It's okay, kalau gitu yuk cepetan nanti ketinggalan filmnya,” ujarku sembari bergegas masuk ke dalam mobil.


Sekilas telingaku mendengar Bisma membisikkan sesuatu di telinganya Ilham. Dan sepenggal kata itu terdengar seperti. “good luck, men.” Dan kata-kata itu tentu saja terngiang-ngiang dalam kepalaku.


__ADS_2