MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 19


__ADS_3

"Huftt ... akhirnya selesai juga." Aku menarik napas lega. Akhirnya pekerjaan pertamaku selesai juga.


Aku mendorong tubuhku yang terbaring di bawah untuk keluar dari kolong mobil. Ya,


aku baru saja selesai membetulkan mesin bagian bawahnya. Setelah itu aku pun bangkit. Tapi, ketika berbalik aku menabrak seseorang dan tubuhku pun oleng tak terkendali. Untunglah ada seseorang yang dengan sigap langsung menangkapku. Tangannya melingkar penuh di pinggangku yang kecil ini.


"Ilham ..." seruku. Baru kusadari ternyata orang itu adalah Ilham.


"Alam? Lo lagi ngapain di sini?" tanyanya setelah melepaskan pegangan tangannya dari pinggangku.


"Gue ... gue lagi kerja di sini."


Ilham mengernyitkan keningnya. "Kerja? Lo kerja di bengkel Bokap gue?"


Seketika aku membulatkan mata. " Hah, jadi lo anaknya Pak Rudi?" tanyaku dengan nada tak percaya.


Ilham menjawabnya hanya dengan sekali anggukan.


Benar-benar kebetulan yang tidak disangka-sangka ... Pertama, aku tinggal di rumah Bisma. Dan sekarang aku kerja di bengkel milik Bokap temannya. Dua orang yang awalnya membenci diriku. Meskipun mungkin sampai sekarang Ilham masih tetap membenciku.


***


Tak terasa hari sudah mulai petang. Langit mulai gelap dan hembusan angin mulai terasa sedikit dingin.


"Lo mau kopi?" Ilham tiba-tiba menyodorkanku segelas kopi. Aku memandangi kopi itu beberapa saat. Tidak, bukan kopinya yang sedang kupikirkan. Melainkan sikap Ilham yang berbeda sekali dibandingkan sikapnya ketika di sekolah padaku.


"Lo nggak suka kopi, ya?" tanyanya lagi membuyarkan lamunanku.


"Eh, gue suka kok. maksasih, ya," ucapku sembari mengambil kopi itu dari tangannya.


Seharian ini dia sangat membantuku. Walau tanpa diminta pun ia selalu membantuku. Dan tentu saja itu membuatku berpikir heran. Tapi, kenapa aku harus bingung? Bukankah justru bagus jika sikap Ilham terlihat baik padaku itu artinya dia sudah tidak membenciku lagi.

__ADS_1


"Oh, ya. Lo beneran tinggal di rumah Bisma?" tanyanya memecah keheningan.


"Iya," kataku sambil mengangguk


"Kok elo bisa sih tinggal sama Bisma? Emang lo ada hubungan apa sama dia?"


"Emang Bisma nggak bilang apa-apa ke lo?"


"Ya bilang, sih. Katanya lo kabur dari rumah."


"Nah, itu lo tahu."


"Tapi, kenapa harus Bisma? Kenapa lo nggak cari kos-kosan aja?"


"Kalau ada duit tanpa lo suruh juga gue udah cari kosan. Masalahnya gue kabur nggak bawa uang sepeser pun. Emang kenapa sih kalau gue numpang di rumah Bisma? Masalah ya buat lo?"


"Bukan gitu maksud gue. Emang lo nggak takut di apa-apain sama Bisma?"


"Sshhhttt ... lo ngomongnya jangan keras-keras dong. Nggak enak kalau ada yang dengar," katanya sambil celingukan kesana kemari untuk memastikan tak ada yang mendengar ucapanku.


Seketika Ilham menyadari perlakuannya padaku dan langsung melepaskan telunjuknya yang menempel dari bibirku "Sori," cicitnya.


"Nggak apa-apa kok."


Oke, tiba-tiba suasana sedikit menjadi canggung. Entah mengapa, aku merasa sikap Ilham memang aneh.


Sesekali aku menggigil kedinginan. Hembusan angin malam terasa dingin menyentuh kulitku. Meskipun aku sudah memakai baju lengan panjang, tetap saja anginnya mampu menembus baju dan menusuk kulit.


Ilham yang menyadari aku yang sedang kedinginan, ia langsung melepas jaketnya dan memberikannya padaku. Sontak itu membuatku terkejut karena ia memakaikan jaketnya langsung ke belakang pundakku seperti yang sering terjadi di film-film. Kenapa tiba-tiba Ilham bersikap begitu padaku. Apa yang membuatnya berubah padaku. Kenapa di pikiranku muncul pertanyaan-pertanyaan itu? Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya hal yang sedari tadi menganggu benakku.


"Elo kok berubah banget sih, Ham?" tanyaku.

__ADS_1


"Berubah? Maksud lo?"


"Iya, elo kenapa di sekolah kayaknya benci sama gue. Terus kenapa sekarang lo jadi baik banget sama gue?"


Ilham mengusap-usap pundaknya. "Emangnya kalau orang berbuat baik itu harus pake alasan, ya?"


"Ya nggak, sih."


"Oh, ya lo pulang naik apa? Gue antar pulang, ya?"


"Emang nggak apa-apa, tuh?"


"Nggak apa-apa kok. Ya udah, yuk!" Ia bangkit dan mengajakku menuju ke mobilnya.


Aku pun bangkit sambil mengenakan jaket yang tadi dikasih olehnya dan mengekor di belakang menuju ke arah mobilnya.


***


"Makasih ya, Ham," ucapku ketika sampai dirumah Bisma dan turun dari mobil.


"Sama-sama." Setelah berkata begitu Ilham langsung menancapkan gas dan melaju jauh menjauhiku. Aku hanya memandang mobilnya yang semakin lama semakin kabur ditelan kegelapan. Ketika berbalik aku terkejut mendapati Bisma yang sedang berdiri bersandar di pintu. Oh ya, aku lupa memberitahu Bisma bahwa aku sudah mendapatkan pekerjaan.


"Lo abis dari mana? Kok bisa sama Ilham?"


"Ceritanya panjang, Bis. Tapi yang jelas gue punya kabar baik. Gue udah dapat kerja di bengkel Bokapnya Ilham," kataku dengan sumringah.


Bukannya ikut senang, Bisma justru hanya memasang ekspresi datar saja. "Oh,"


"Kok ‘oh’ doang? Lo nggak senang gue dapat kerjaan?" tanyaku dengan wajah bete.


"Masuk gih, udah malam!" pintanya. Setelah berkata begitu. Bisma langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Kenapa sih dia? Kok tampangnya bete gitu. Atau mungkin Bisma sedang badmood, ya? Pikirku dalam hati.


__ADS_2