MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 12


__ADS_3

Aku menatap diriku di cermin lemari pakaian yang bisa menampilkan tubuhku secara keseluruhan. Saat ini aku memakai mini dress berwarna biru dengan motif bunga di bagian depan.


Rambutku yang lurus panjang tergerai melewati bahu dengan poni yang kuturunkan ke samping. Wajah dipoles bedak dengan sedikit eyeshadow berwarna coklat berpadu eyeliner berwarna hitam, dan blush on berwarna pink baby membuat wajahku makin merona serta lipstick berwarna pink.


Aku tersenyum melihat diriku yang sangat anggun. Namun senyum itu musnah seketika teringat kenyataan hidupku yang sesungguhnya. Segera aku mengambil selembar tisu dan menghapus make-up itu dari wajah. Menghapus semua harapan yang tidak akan pernah mungkin bisa kudapatkan. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Andai saja Papa mau menerimaku sebagai anak perempuannya. Mungkin saja aku bisa berpenampilan normal layaknya anak perempuan yang lain. Tuhan, jika aku harus hidup seperti ini kenapa aku harus dilahirkan? Aku menghapus air mataku. Kembali mengganti pakaian dan meraih Wig yang selama ini kukenakan. Ya, sebenarnya rambut pendek yang setiap hari aku gunakan bukanlah rambut asliku. Aku memakai rambut palsu untuk berpenampilan seperti laki-laki. Mana mungkin aku mau memotong mahkotaku yang paling berharga dan indah ini. Hanya ini satu-satunya yang kumiliki untuk menghibur diriku.


Aku turun ke bawah mendapati Papa yang sudah duduk di kursi makan.


"Papa udah pulang?" tanyaku setelah menghempaskan pantat ke kursi makan.


"Ya, kalau Papa ada di sini artinya Papa udah pulang," jawabnya dengan jutek seperti biasa.


Hufft ... aku mengambil piring yang terletak disampingku dan menuangkan nasi diatasnya.


Suasana hening seperti biasa. Hanya ada suara dari sendok yang terbentur beberapa kali kena piring.


"Papa selama beberapa hari ini ke mana aja nggak pulang?" tanyaku yang akhirnya memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Bukan urusanmu."


Aku diam mendengar jawaban Papa. Walaupun aku sudah tahu jawabannya, tapi diriku yang bodoh ini tetap saja melontarkan pertanyaan itu.


Setelah selesai sarapan, Papa pergi begitu saja ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku. Pemandangan seperti ini memang sudah sering terjadi di kehidupan sehari-hariku.


Aku segera beranjak pergi begitu selesai makan. Kuputuskan untuk pergi keluar. Kakiku melangkah begitu saja tanpa arah. Angin pagi sedikit menusuk kulitku. Walaupun aku sudah mengenakan jaket, angin mampu menembus ke kulit. Ya, cuaca pagi sedikit berangin, namun tak menghalangi orang-orang untuk melakukan aktivitasnya di hari Minggu pagi ini. Banyak orang-orang yang berolahraga seperti jogging mengitari kompleks. Tak terasa aku berjalan lumayan cukup jauh. Hingga sampai di taman kompleks yang letaknya lumayan jauh dari rumahku.


Aku duduk di bangku taman. Suasana taman lumayan ramai. Aku memandang sekeliling. Nggak ada yang kukenali. Wajar saja, aku kan masih terbilang warga baru di sini.


"Kak Kia."


Aku celingukan kesana kemari dengan bingung. Siapa sih yang memanggilku.


"Kak Kia." Suara itu kini terdengar berada di belakangku.

__ADS_1


Aku menengok dan mendapati seorang gadis dengan setelan celana olahraga dan jaket berwarna pink.


"Rinjani," seruku.


Ia tersenyum lalu kemudian duduk di sampingku. "Kakak lagi ngapain di sini?"


"Aku lagi jalan-jalan pagi nih, cuacanya sejuk. Kalau kamu lagi ngapain di sini?" tanyaku balik.


"Oh, aku tiap minggu pagi emang suka joging di taman ini, Kak."


Bibirku membentuk huruf 'O'. Dan tersenyum.


"Oh ya, Kak. Aku minta maaf karena Kak Ari udah bikin Kakak pingsan waktu itu di sekolah."


Aku mengernyit, lalu beberapa saat mulutku menganga. "Maksud kamu ... Bisma?"


Rinjani mengangguk. "Iya Kak Bisma itu Kak Ari, Kakak aku. Aku udah biasa panggil Kak Ari dari kecil, sih."


***


Aku duduk manis di sofa yang berada di dalam rumah mewah yang pernah berkunjung sekali waktu itu. Ya, aku sedang berada di rumah Rinjani. Pagi tadi di taman Rinjani memang sempat menawariku untuk mampir ke rumahnya. Dan aku tak mungkin menolaknya. Lagi pula tak ada gunanya juga aku diam di rumah.


Rinjani sedang pergi ke kamar sebentar untuk mengganti pakaiannya yang sudah dipenuhi keringat. Sedangkan aku, tak perlu bagiku mengganti pakaian karena aku tak melakukan aktivitas yang membuat tubuhku berkeringat berlebihan.


Kenapa Rinjani lama sekali, ya. Aku mulai bosan yang sedari tadi hanya duduk memandang kemewahan rumah ini. Mungkin melihat-lihat sedikit nggak apa-apa kali, ya. Aku pun beranjak pergi kemana pun yang menarik perhatian mataku. Tak terasa aku menuju ke sebuah pintu kaca yang lumayan besar. Pemandangan dari luar pintu terlihat sangat jelas dari dalam rumah. Hamparan kolam renang yang berada di balik pintu itu terlihat jelas. Ketika melewati pintu itu aku melihat sosok pria mengenakan celana kolor pendek dengan telanjang dada. Sesekali ia melakukan gerakan-gerakan senam kecil. Setelah itu ia berbalik dan mengambil jus lalu meminumnya dengan sekali tenggakan. Perutnya yang terlihat memamerkan belahan-belahan berotot itu terlihat sangat six pack. Membuktikan bahwa dirinya sering berolahraga ke Gym. Bisma, benarkah itu Bisma? Mataku yang tak tahu diri ini bahkan memandangi keindahan tubuhnya yang terlihat sempurna. Bagaimana pun juga yang namanya naluri seorang perempuan tidak akan bisa lepas. Jika saja aku tak sadar bahwa mulutku mangap, mungkin lantai sudah basah oleh ilerku .


"Kak!" tiba-tiba aku tersentak ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang. Dan itu membuat Bisma menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya.


"Kakak lagi apa di sini? Dari tadi aku cari-cari Kakak nggak ketemu. Nggak tahunya ada di sini."


"Ssstt ..." Aku menutup mulut Rinjani dengan jari telunjukku sebagai isyarat untuk diam agar kehadiranku tidak diketahui oleh Bisma. Tapi sepertinya semua itu hanya sia-sia saja karena Bisma sudah keburu menyadarinya.


"Al, lo lagi apa di sini?"

__ADS_1


Aku pun gelagapan. "Gue … gue tadi cuma liat-liat rumah lo doang kok. Soalnya gue bosan duduk nungguin Rinjani ganti baju. Lo jangan salah paham, ya." Aku mengusap tengkukku yang jelas-jelas tidak terasa gatal.


"Maaf ya, Kak. Sudah bikin Kak Kia nunggu lama."


Aku menggerakkan kedua tanganku. "Ah, nggak kok. Bukan gitu maksudnya ..." Sial kenapa nada suaraku malah terdengar bagai maling yang tertangkap basah sedang mencuri.


"Atau jangan-jangan lo lagi ngintipin gue ya?" Bisma mengangkat sebelah alisnya.


Mataku membulat. Bagaimana ia tahu bahwa aku sedang mengintip--tidak maksudku aku tak sengaja lewat. Dan melihat pemandangan pagi yang menyegarkan mataku ini. Isshh ... mikir apa sih aku ini. Segera kutepis pikiran itu.


"Gue kan udah bilang kalau gue itu kebetulan lewat terus liat lo."


"Santai aja kali. Lo nggak usah tegang gitu. Gue kan cuma nanya."


Sial, kenapa Bisma ini seolah-olah ingin menjebakku dan memaksaku untuk mengakui bahwa kenyataannya aku memang sedang memperhatikannya.


"Terserah lo deh," ucapku pasrah. Tak tahu lagi harus berkata apa.


Dan untunglah Bisma tidak terlalu memanjangkan masalah ini. Dia segera pamit ke kamarnya untuk mengganti pakaian karena hari ini hari Minggu yang artinya hari dimana ia menghabiskan waktunya untuk bermain futsal bersama teman-temannya. Mataku tak henti-henti memandangi punggungnya sampai akhirnya ia menghilang dari pandangan.


"Kakak suka sama Kak Ari, ya?" mendadak pertanyaan itu membuatku terkejut.


"Kamu ngomong apa, sih?"


"Jujur aja, Kak. Kelihatan tahu dari mata Kakak. Cara Kakak pandangi Kak Ari."


"Kamu jangan ngaco deh, Jani. Aku sama Bisma tuh cuma teman. Mana mungkin aku suka sama dia."


"Banyak orang yang suka berawal dari pertemanan, Kak. Yang pacaran aja kan awalnya temenan. Aku dukung 100% kok kalau Kak Kia jadian sama Kak Ari." Rinjani tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata dengan genit padaku.


Aku menyikut Rinjani dengan pelan. "Apaan, sih." Lalu kemudian kami tertawa.


Aku tahu Rinjani hanya bercanda. Tapi … apa benar aku suka sama Bisma? Otakku sendiri berkata mana mungkin, tapi hatiku berkata sebaliknya. Apakah cinta itu ada dalam kehidupanku. Selama ini aku bahkan belum pernah merasakan apa itu cinta, dan bagaimana rasanya dicintai. Mungkin ada sedikit cinta dari satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Papa. Namun hatiku saja masih meragukan cintanya padaku. Atau mungkin Papa memang tidak akan pernah bisa mencintaiku.

__ADS_1


__ADS_2