MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 17 *POV ZASKIA ASSADIL ALAM


__ADS_3

"Aaaa ..." jerit Rinjani.


Aku segera membungkam mulut Rinjani dengan tanganku. Sebelum teriakannya terdengar oleh Bisma.


Dasar, padahal sudah kubilang jangan teriak. Bisa-bisa Bisma datang dan langsung memergoki diriku yang sebenarnya. Ya, aku membongkar rahasia kecilku. Rahasia bahwa aku sebenarnya mengenakan rambut palsu.


"Ja ... jadi ini Kak Kia yang sebenarnya?" tanyanya dengan mata yang masih melotot tak percaya melihat diriku yang sekarang berdiri dihadapannya ini.


Aku tersenyum bangga karena aku telah berhasil membuat Rinjani melongo melihatku. "Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya soal ini. Termasuk Bisma. Cuma kamu yang tahu rahasiaku ini."


"Oke, Kak," katanya sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya.


Aku langsung berbaring di samping Rinjani. Dalam hitungan menit Rinjani sudah tertidur pulas. Sebaliknya aku, susah sekali bagiku untuk memejamkan mata. Pikiranku teringat pada Papa. Mengapa aku harus memikirkan Papa yang bahkan tidak pernah memikirkanku. Tapi walaupun begitu, bagaimanapun juga Papa adalah orangtuaku. Meskipun ia tak pernah menganggapku sebagai anaknya.


Malam semakin larut, namun aku masih terjaga dari tidurku. Sial, kenapa susah sekali bagiku hanya untuk sekedar memejamkan mata saja. Aku melirik Rinjani yang mulai terdengar suara dengkurannya. Aku tak menyangka ternyata cewek seimut Rinjani tidurnya mendengkur juga.


Aku memutuskan untuk bangkit, tenggorokanku terasa sedikit kering. Dan bergegas pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Sebelumnya aku mengenakan rambut palsuku terlebih dahulu. Aku menuruni tangga karena letak dapur ada di lantai bawah.


Tanganku meraba-raba mencari gelas di jajaran rak piring karena ruangannya gelap sekali, hanya ada cahaya bulan yang masuk dari ventilasi udara, itu pun hanya sedikit. Aku masih belum hapal di mana letak saklar lampunya.


Setelah selesai aku langsung pergi menuju kamar. Sialnya, karena tidak ada penerangan kakiku tersandung kaki kursi yang membuat aku hampir saja jatuh jika seseorang tidak menahanku dari belakang. Ya, sebuah tangan seseorang melingkar di perutku, tangannya yang mampu menahan beban tubuhku hingga tidak terjatuh. Spontan aku langsung menengok ke belakang. Wajahnya yang terkena sinaran rembulan terlihat indah sekali.


“Elo nggak apa-apa kan, Al?” Bisma menyadarkan lamunanku bersamaan dengan lepasnya pegangan tangannya dari tubuhku.


“Gue nggak apa-apa kok. Makasih ya, Bis.”


“Lo kalau haus kenapa nggak bangunin Rinjani. Lo kan belum tahu saklar lampunya di mana. Kalau gelap kan bahaya. Tadi aja untung ada gue. Kalau nggak, lo udah jatuh tahu,” cerocosnya.


“Sori, Bis. Gue nggak tega bangunin Rinjani.”


“Lain kali lo harus tega. Ya udah, sekarang udah nggak ada yang lo butuhin lagi, kan?”


“Iya, Bis. Gue ke kamar dulu, ya.”


Aku kembali ke kamar dengan perasaan dag-dig-dug, bukan karena rasa sakit tersandung kursi, tapi karena tangan Bisma yang entah mengapa membuatku nyaman ketika melingkar di perutku. Dan sialnya kini aku tambah nggak bisa tidur karena perasaan aneh ini.

__ADS_1


***


Pagi yang cerah di rumah Bisma. Kuawali dengan mengerjakan beberapa kegiatan-kegiatan kecil seperti menyiram tanaman yang sekarang ini sedang kulakukan (yeah, meskipun dengan beberapa kali menguap akibat dari kurang tidur semalam).


Ya, mana mungkin aku bisa bermalas-malasan di rumah orang. Setidaknya kalau numpang, lakukanlah sesuatu untuk membayar kebaikan mereka.


Tiba-tiba datang sebuah mobil. Dan berhenti tepat di halaman depan rumah Bisma. Seorang gadis yang tak lain adalah Eunike keluar dari pintu mobil. Dibalut dengan kacamata yang dikenakannya, Ia berjalan angkuh ke arahku.


"Elo … ngapain lo pagi-pagi ada di rumah Bisma ... pake nyiram tanaman segala?" katanya sambil sesekali mengelus-elus rambutnya yang tergerai itu. "Oh, gue tahu. Lo pasti lagi ngelamar jadi pembantunya Bisma ya?"


Aku menatapnya tajam. "Elo itu sebenarnya ada masalah apa sih sama gue? Kenapa lo benci banget sama gue dan kenapa lo selalu nuduh gue mau rebut Bisma dari lo?"


"Gue tahu kok cewek kayak lo itu gimana. Deketin cowok kayak Bisma itu pasti ada maksud tertentu," hinanya sambil mengedikkan bahu.


"Terserah lo, deh. Masih pagi gue nggak mau debat sama orang yang nggak penting."


Karena merasa tak terima dengan perlakuanku. Tiba-tiba Eunike merebut gembor itu dari tanganku. Dan langsung membuangnya sehingga menyebabkan kebisingan di pagi hari. Ketika itu juga datang Bisma diikuti Rinjani di belakangnya.


"Ada apa sih pagi-pagi udah berisik?" tanyanya sambil marah-marah. Namun ketika lihat Eunike ekspresinya langsung berubah malas. "Ya ampun, lo kenapa sih, Nik. Selalu ganggu gue? Bisa nggak sih lo nggak ganggu gue sehari aja."


"Alam itu bukan pembantu gue. Mulai sekarang dia itu tinggal di rumah gue."


Mendengar ucapan Bisma, mata Eunike langsung membulat marah. "Apa? Tuh kan benar kata gue. Cewek kayak lo pasti manfaatin Bisma. Dasar cewek ****** nggak tahu diri maen tinggal di rumah cowok orang .…"


Plakk ... sebuah tamparan mendarat di pipinya sebelum ia melanjutkan caciannya padaku. Ya, itu tamparan dari tanganku. Eunike terlihat terkejut dengan perbuatanku. Aku tak peduli, Eunike benar-benar sudah keterlaluan. Berani-beraninya dia mengucapkan kata yang tidak pantas diucapkan terhadapku. Tanda merah membekas di pipinya. Yeah, kau tahu kan tenagaku sama dengan tenaga cowok. Pasti rasanya sakit sekali.


"Jaga ya ucapan lo! ternyata lo itu iblis berwajah malaikat. Cantik tapi lidah lo nggak bisa dijaga. Lo itu nggak tahu cerita yang sebenarnya," bentakku.


"Alam benar. Lo nggak seharusnya bicara begitu padanya. Alam tinggal di sini bukan tanpa alasan. Dia lagi ada masalah. Dan gue sendiri yang nawarin supaya dia tinggal di rumah gue sementara waktu sekaligus jadi teman Rinjani di rumah."


Dengan tangan yang masih memegang pipinya yang kemerahan, Eunike berkata, "Kamu kok malah belain dia, sih? Aku benci sama kamu, Bis!" setelah bicara begitu Eunike langsung pergi masuk ke dalam mobil dan melaju menjauh.


"Ternyata Eunike masih belum berubah,” gumam Bisma. “Lo nggak apa-apa, kan? Jangan masukin hati ya omongan dia." Aku hanya menangguk. Dan menarik napas lalu mengeluarkannya berulang kali dengan perlahan. Tenaga yang seharusnya kugunakan untuk cari kerja malah terbuang sia-sia.


Aku menengok ke arah Bisma yang cekikikan. "Lo kenapa, Bis?"

__ADS_1


"Justru lo yang kenapa narik napas panjang gitu kayak mau lahiran aja."


"Kesel gue. Tenaga gue kebuang sia-sia cuma buat hal yang nggak penting doang." Aku memasang wajah cemberut.


"Makanya lain kali kalau Eunike cari masalah sama lo mending lo hindari, deh."


"Ya masalahnya dia itu sering banget cari masalah sama gue."


"Emang sebenarnya masalah kalian itu apa, sih? Eunike, kan murid baru. Kok dia bisa kayak punya dendam banget ke elo."


"Iya, jadi dia itu nyangka kalau gue mau rebut lo dari dia."


Bisma mengangkat sebelah alisnya. "Hah? Ya ampun Eunike benar-benar, deh. Lagian juga kan mana mungkin lo suka sama gue."


Tanpa disadari, ucapan Bisma membuat gelagapan. "Ya ... ya iyalah. Mana mungkin juga gue suka sama lo."


"Kok lo gugup gitu? Atau jangan-jangan lo beneran suka sama gue?" candanya sambil nyengir.


"Ya nggak lah!" Aku langsung menyela ucapan Bisma. Sial, wajahku sepertinya terlihat memerah karena malu. Ya, aku malu karena aku merasa bahwa aku memang benar-benar suka sama Bisma, semenjak kejadian semalam aku baru menyadarinya bahwa aku menyukainya. Jika seseorang berada terus dalam pikiran kita. Bahkan walaupun mereka tidak ada di hadapan kita, tetapi kita selalu saja merasa bahwa mereka berada di dekat kita. Jika bukan cinta, apalagi namanya?


"Kalau lo nggak suka gue, berarti lo benci sama gue dong?"


"Maksud gue bukan gitu. Gue suka sama lo tapi cuma sekedar teman kok."


"Yakin cuma sekedar teman doang, nih?" goda Bisma sambil mengedikkan sebelah matanya.


"Apaan sih lo." Aku memukul pelan bahu Bisma. Kemudian kami tertawa.


"Ekhhhmm …" Tiba-tiba sebuah suara berasal dari belakang kami.


"Jani, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Bisma.


Wajah Rinjani terlihat bete. "Aku udah di sini dari tadi. Sebelum Kak Kia menampar Kak Eunike." Kembali Rinjani manyun dengan bibir dimonyongkan ke depan. "Ya udah cepetan kita berangkat sekolah. Udah telat, nih."


"Iya, iya. Adekku yang bawel." Bisma mencubit pipinya Rinjani. Rinjani berusaha berontak namun tak bisa melepaskan diri dari cubitan gemesnya Bisma. "Kita berangkat dulu, ya."

__ADS_1


Setelah pamit, Bisma dan Rinjani langsung berangkat. Aku hanya tersenyum melihat kepergian mereka. Sungguh beruntungnya aku bisa mengenal mereka.


__ADS_2